Pengertian “Balad” dalam Bab Zakat

0

Pengertian “Balad” dalam Bab Zakat

Pertanyaan : Apa yang diartikan “balad” dalam bab Zakat “Pokok bahan makanan dalam balad.” Apakah propinsi, atau Karesidenan, Kabupaten, ataukah Kelurahan, ataukah Pedukuhan?.

Jawab : Yang diartikan dengan balad dan bab Zakat, itu umumnya tempat, berupa Kelurahan ataupun pedukuhan atau lainnya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Mauhibah Dzi al-Fadhl [1]

(قَوْلُهُ بِغَالِبِ قُوْتِ بَلَدِ الْمُؤَدَّى عَنْهُ لاَ الْمُؤَدِّى) أَشَارَ بِذِكْرِ الْمَحَلِّ إِلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْبَلَدِ الْوَاقِعِ فِيْ عِبَارَةِ الْمُصَنِّفِ كَالْمِنْهَاجِ وَغَيْرِهِ مُطْلَقُ الْمَحَلِّ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بَلَدًا وَمِنْ ثَمَّ عَبَّرَ فِي الْمَنْهَجِ بِالْمَحَلِّ وَقَالَ فِيْ شَرْحِهِ وَتَعْبِيْرِي بِالْمَحَلِّ أَعَمُّ مِنْ تَعْبِيْرِهِ بِالْبَلَدِ.

Yang dimaksud dengan al-balad (negeri/negara) dalam ungkapan redaksi pengarang al-Minhaj dan lainnya adalah, semua tempat secara mutlak, walaupun tidak berbentuk negeri. Oleh karenanya, Syaikh Zakaria al-Anshari dalam al-Manhaj mengungkapkannya dengan kata al-mahal (tempat/ daerah). Dan dalam Syarhnya (Fath al-Wahhab), beliau berkata: “Ungkapanku dengan kata al-mahal itu maknanya lebih umum dari pada ungkapan al-Nawawi dengan kata al-balad.”

[1] Muhammad Mahfudz al-Tarmasi, Mauhibah Dzi al-Fadhl, (Mesir: al-Amirah al-Sarafiyah, 1326 H), Jilid IV, h. 65.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 230
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-13
Di Menes Banten Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1357 H. / 12 Juli 1938 M.