Membaca al-Fatihah Oleh Makmum

0

Membaca al-Fatihah Oleh Makmum

Pertanyaan : Bagaimana pendapat Muktamar tentang pendapat sementara orang yang mengatakan bahwa makmum tidak wajib membaca al-Fatihah, karena al-Fatihah ditanggung imam. Pula ia berkewajiban mendengarkan bacaan imam, menurut firman Allah, yang artinya: “Bila ada pembacaan al-Qur’an, maka kamu sekalian harus mendengarkan dengan mengheningkan.” Apakah pendapat dan fatwa itu benar dan tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw., yang artinya: “Tidak sahlah shalatnya orang yang tidak membaca Al-Fatihah”?.

Jawab : Kalau yang dimaksud dengan makmum ini, makmum muwafiq (bukan masbuq) maka pendapat dan fatwa itu tidak benar, menurut pendapat yang sahih dan mazhab Syafi’i, yakni makmum itu harus membaca al-Fatihah, demikian itu tidak bertentangan dengan firman Allah yang maksudnya supaya mendengarkan dan mengheningkan bila ada bacaan al-Qur’an, karena yang dimaksudkan dengan firman Allah itu, ialah melarang berbicara sewaktu mendengarkan bacaan al-Qur’an, atau melarang membaca keras di belakang imam, bukan membaca al-Fatihah bagi makmum.

Keterangan, dari kitab:

  1. Kasyifah al-Saja Syarah Safinah al-Naja [1]

وَتَجِبُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ سَوَاءٌ الصَّلاَةُ السِّرِّيَّةُ وَالْجَهْرِيَّةُ وَسَوَاءٌ اْلإِمَامُ وَالْمَأْمُوْمُ وَالْمُنْفَرِدُ لِخَبَرِ الصَّحِيْحَيْنِ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.

(Membaca al-Fatihah) wajib di setiap rakaat, baik shalat dengan bacaan pelan (Zhuhur dan Ashar), ataupun keras (Maghrib, Isya’, Subuh dan Jum’at), sebagai imam, makmum ataupun sendirian, sesuai dengan hadis riwayat Bukhari Muslim: “Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah.”

  1. Hasyiyah Tafsir al-Baidhawi [2]

قَوْلُهُ تَعَالَى: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. وَلَمَّا كَانَ الْمَقْصُوْدُ مِنَ اْلأَمْرِ بِاْلإِنْصَاتِ النَّهْيُ عَنِ الْكَلاَمِ فِي الصَّلاَةِ أَوْ عَنِ الْجَهْرِ بِالْقِرَأَةِ خَلْفَ اْلإِمَامِ لَمْ يَكُنْ فِي اْلآيَةِ دِلاَلَةٌ عَلَى النَّهْيِ عَنْ قِرَأَةِ الْمَأْمُوْمِ. وَمَعَ هَذَا فَحُكْمُ ظَاهِرِ اْلآيَةِ مَرْعًى عِنْدَ الشَّافِعِيّ رَحِمَهُ اللهُ لِأَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَهُ أَنْ يَسْكُتَ اْلإِمَامُ بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنَ الْفَاتِحَةِ لِيَقْرَأَ الْمَأْمُوْمُ الْفَاتِحَةَ حَالَ سَكْتَةِ اْلإِمَامِ وَأَيْضًا عُمُوْمُ قَوْلِهِ تَعَالَى: وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا. وَأَنَّهُ أَوْجَبَ سُكُوْتَ الْمَأْمُوْمِ فَلاَ تَقْرَءُوْا إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ إِلاَّ بِهَا وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ خَصَّ عُمُوْمَ اْلقُرْآنِ فَإِنَّهُ يَجُوْزُ تَخْصِيْصُ عُمُوْمِ الْقُرْآنِ بِالسُّنَّةِ، وَذُكِرَ فِي الْبَابِ أَنَّ مَنْ أَوْجَبَ الْقِرَأَةَ عَلَى الْمَأْمُوْمِ قَالَ اْلآيَةُ فِيْ غَيْرِ الْفَاتِحَةِ وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِيْ سَكْتَةِ اْلإِمَامِ وَيُنَازِعُ اْلإِمَامَ فِي الْقِرَأَةِ.

Allah Swt. berfirman: “Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (al-A’raf: 204). Dan ketika yang dimaksud dari perintah untuk memperhatikan adalah larangan berbicara dalam shalat, atau membaca keras di belakang imam, maka dalam ayat tersebut tidak ada petunjuk larangan bacaan makmum. Meskipun begitu, makna lahiriyah ayat tersebut tetap diaplikasikan menurut al-Syafi’i Ra., karena menurutnya imam itu disunahkan untuk diam sejenak setelah selesai membaca al-Fatihah agar makmum berkesempatan membaca al-Fatihah saat diamnya imam tersebut. Selain itu, keumuman firman Allah Swt. surat al-A’raf ayat 204 di atas, Nabi Saw. mewajibkan makmum diam (yaitu dengan sabda beliau Saw.): “Jika kalian berada di belakangku (sebagai makmum), maka jangan membaca apapun kecuali al-Fatihah. Sesungguhnya shalat itu tidak sah tanpa membaca al-Fatihah.”, dan sabdanya: “Sesungguhnya shalat itu tidak sah tanpa membaca al-Fatihah.” itu mengkhususkan keumuman ayat al-Qur’an tersebut. Sebab, mengkhususkan keumuman al-Qur’an dengan hadits itu boleh. Dan dalam bab ini disebutkan, bahwa ulama yang mewajibkan membaca al-Fatihah bagi makmum berpendapat: “Bahwa ayat di atas itu diterapkan pada selain al-Fatihah, makmum bisa membaca al-Fatihah ketika imam diam dan menyaingi imam dalam membaca al-Fatihah.”

[1] Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi, Kasyifah al-Saja Syarah Safinah al-Naja, (Surabaya: Maktabah al-Hidayah, t. th.), h. 54.

[2] Muhyiddin Syekh Zadah, Hasyiyah Tafsir al-Baidhawi, (Turki: al-Maktabah al-Islamiyah, t. th.), Jilid II, h. 293.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 216
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-13
Di Menes Banten Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1357 H. / 12 Juli 1938 M.