Bermakmum Kepada Golongan Khawarij Kaitannya dengan I’adah/Mengulang Lagi Shalatnya

0

Bermakmum Kepada Golongan Khawarij Kaitannya dengan I’adah/Mengulang Lagi Shalatnya

Pertanyaan : Apakah sah bermakmum kepada orang Khawarij yang tidak mengikuti salah satu empat mazhab, yang memberi hukum menurut al-Qur’an dan hadits yang diartikan sendiri?. Kalau diputus sah, maka bagaimana pendapat Muktamar tentang keterangan Imam Shawi, yang artinya: “Mengambil dari al-Qur’an dan hadis menurut pendapat sendiri, itu menjadi pokok kekufuran?” Kalau diputus sah, apakah si makmum wajib i’adah (shalat lagi) ataukah tidak?.

Jawab : Tidak sah makmumnya dan si makmum wajib i’adah (shalat lagi) apabila si imam berbuat bid’ah yang menjadikan kufur, seperti tidak mengakui, bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Kalau tidak demikian, maka sahlah bermakmumnya dan hukumnya makruh tapi haram apabila si makmum itu orang terkemuka, karena mengkhawatirkan sesatnya para pengikutnya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Al-Minhaj al-Qawim [1]

أَمَّا مَنْ يَكْفُرُ بِبِدْعَتِهِ كَمُنْكِرِ عِلْمِ اللهِ بِالْجُزْئِيَّاتِ وَبِالْمَعْدُوْمِ وَالْبَعْثِ وَالْحَشْرِ لِلأَجْسَادِ وَكَذَا الْمُجَسِّمُ عَلَى تَنَاقُضٍ فِيْهِ. وَالْقَائِلُ بِالْجِهَةِ عَلَى قَوْلٍ نُقِلَ عَنِ الْأَئِمَّهِ الْاَرْبَعَةِ فَلاَ يَصِحُّ اْلإِقْتِدَاءُ بِهِ كَسَائِرِ الْكُفَّارِ.

Adapun orang yang kufur dengan bid’ahnya sama dengan orang yang mengingkari ke Mahatahuan Allah Swt. dengan hal-hal yang parsial  dan sesuatu yang tidak ada, yang mengingkari kebangkitan dari kubur, dan penghimpunan makhkuk di padang mahsyar, begitu pula orang yang menganggap Allah Swt. berjizim yang masih diperselisihkan, dan orang yang berpendapat Allah Swt. terbatasi dengan arah (yang disinyalir) berdasarkan satu pendapat dari imam madzhab empat, maka hukum kepada mereka tidak sah, seperti halnya  orang-orang kafir.

  1. Al-Minhaj al-Qawim [2]

(وَ) إِمَامَةُ (الْمُبْتَدِعِ) الَّذِيْ لَمْ يَكْفُرْ بِبِدْعَتِهِ وَاْلإِقْتِدَاءُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ غَيْرُهُ كَالْفَاسِقِ بَلْ أَوْلَى، وَبَحَّثَ اْلأَذْرَعِيّ حُرْمَةَ اْلإِقْتِدَاءِ بِهِ عَلَى عَالِمٍ شَهِيْرٍ  لِأَنَّهُ سَبَبٌ لإِغْوَاءِ الْعَامَّةِ بِبِدْعَتِهِ.

Dan keimaman pelaku bid’ah yang tidak sampai kufur dengan bid’ahnya, dan bermakmum dengannya meskipun tidak ada selain dirinya, itu seperti bermakmum kepada orang fasik, bahkan lebih makruh. Imam al-Adzra’i membahas keharaman bermakmum dengan orang tersebut bagi orang pandai yang terkenal, karena dapat menyebabkan keterpedayaan orang awam dengan bid’ahnya itu.

  1. Pendapat Muktamar

وَاَمَّا قَوْلُ الصَّاوِي فَلاَ يُسْتَدَلُّ بِهِ لَزُوْمَ الْكُفْرِ نَظْرًا إِلَى قَوْلِهِ قَبْلَهُ، وَرُبَّمَا أَدَّاهُ إِلَى الْكُفْرِ

Sedang pendapat al-Shawi, tidak bisa dijadikan dalil penetapan kekufuran, karena melihat statemen sebelumnya, yaitu: “Mungkin hal itu bisa mengantar dirinya pada kekufuran.

[1] Ibn Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim pada hamisy Muhammad Mahfudz al-Tarmasi, Mauhibah Dzi al-Fadhl, (Mesir: al-Amirah al-Sarafiyah, 1326 H), Jilid III, h. 137-138

[2] Ibn Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim pada Mauhibah Dzi al-Fadhl, (Mesir: al-Amirah al-Sarafiyah, 1326 H), Jilid III, h. 137.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 218
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-13
Di Menes Banten Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1357 H. / 12 Juli 1938 M.