Ucapan Seseorang Bahwa: Puasa Itu Hanya untuk Orang yang Tidak Mempunyai Makanan

0

Ucapan Seseorang Bahwa: Puasa Itu Hanya untuk Orang yang Tidak Mempunyai Makanan

Pertanyaan : Di antara pedagang ada yang tidak puasa Ramadhan sewaktu ditanya; “Karena apa saudara tidak puasa?” Maka ia menjawab; “Bagaimana saya puasa? Sedang saya mempunyai makanan dan minuman yang berlebihan. Puasa itu hanya bagi orang-orang yang tidak mempunyai makanan dan minuman.” Apakah orang yang berkata demikian itu termasuk orang yang menentang agama atau tidak?.

Jawab : Kalau yang mengucapkan demikian itu sengaja merendahkan perintah agama, atau memperbolehkan meninggalkan puasa, maka orang itu menjadi orang yang menentang agama dan menjadi kafir. Kalau tidak sengaja demikian, tetapi hanya sekedar bergurau, maka ucapan itu termasuk dosa besar.

Keterangan, dari kitab:

  1. Bughyah al-Mustarsyidin [1]

حَكَمَ عَلَيْهِ حَاكِمٌ فَتَبَرَّمَ فَقَالَ اِسْتِهْزَاءً لَيْسَ هَذَا الشَّرْعُ بِشَيْءٍ قَطُّ كَفَرَ.

(Jika seseorang) dihukum oleh hakim kemudian ia merasa jenuh/dongkol dan berkata dengan sikap melecehkan: “Syariat ini tidak ada artinya sama sekali”, maka ia kafir.

  1. Is’ad al-Rafiq [2]

(وَحَاصِلُ أَكْثَرِ تِلْكَ الْعِبَارَةِ يَرْجِعُ إِلَى أَنَّ كُلَّ عَقْدٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ قَوْلٍ يَدُلُّ عَلَى اسْتِهَانَةٍ أَوِ اسْتِخْفَافٍ بِاللهِ أَوْ كُتُبِهِ أَوْ أَنْبِيَائِهِ أَوْ مَلاَئِكَتِهِ أَوْ شَعَائِرِهِ أَوْ مَعَالِمِ دِيْنِهِ أَوْ أَحْكَامِهِ أَوْ وَعْدِهِ أَوْ وَعِيْدِهِ كُفْرٌ أَوْ مَعْصِيَّةٌ) كُفْرٌ خَبَرُ أَنَّ أَي إِنْ قَصَدَ قَائِلُ ذَلِكَ اْلاِسْتِخْفَافَ وَاْلاِسْتِهْزَاءَ بِذَلِكَ (أَوْ مَعْصِيَّةٌ) مُحَرَّمَةٌ شَدِيْدَةُ التَّحْرِيْمِ إِنْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ.

Kesimpulan dari kebanyakan redaksi tersebut kembali pada (ketentuan) bahwa semua keyakinan, perbuatan atau ucapan yang menunjukkan penghinaan atau pelecehan terhadap Allah, kitab-kitabNya, para nabiNya, para malaikatNya, syiar-syiarNya, simbol-simbol agamaNya, hukum-hukumNya, atau janji baik dan ancamanNya, maka ia telah menjadi kafir atau bermaksiat. Kata kufur menjadi khabar kata anna, yakni jika si pembicara itu memang berniat melecehkan dan menghina. Jika memang tidak berniat melecehkan dan menghina, maka hukumnya bermaksiat dengan maksiat yang sangat diharamkan.

[1] Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M)), h. 248.

[2] Muhammad Babashil, Is’ad al-Rafiq, (Singapura: al-Haramain t. th.), h. 61.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 159
KEPUTUSAN ULAMA
NAHDLATUL ULAMA KE-10
Di Surakarta Pada Tanggal 10 Muharram 1354 H. / April 1935 M.