Pengertian Mampu Membayar Maskawin dengan Tunai

0

Pengertian Mampu Membayar Maskawin dengan Tunai

Pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan mampu membayar maskawin (mahar) dengan tunai yang menjadi syarat sahnya nikah? Jejaka lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan dan harta, ia menikah menurut perintah orang tuanya dan sewaktu akad tidak mampu membayar maskawin, apakah sah nikahnya ataukah tidak?.

Jawab : Sesungguhnya nikahnya jejaka tersebut dalam soal tidak sah menurut pendapat yang mu’tamad oleh Ibn Hajar dan Ramli, tetapi menurut pendapat lain sah, demikian itu apabila nikahnya dengan maskawin tunai, kalau dengan maskawin tempo (nasiah) maka nikahnya sah dengan tidak ada selisih di antara ulama, apabila demikian itu telah menjadi kebiasaan.

Keterangan, dari kitab:

  1. Tuhfah al-Habib[1]

وَقَوْلُهُ مُعْسِرًا بِالْمَهْرِ أَي بِالْحَالِ دُوْنَ مَا اعْتِيْدَ تَأْجِيْلُهُ .

Pernyataannya tentang seseorang tidak mampu membayar maskawin, yakni jika dibayar secara kontan dan bukan yang biasa terhutang.

  1. Fatawa Ibn Ziyad [2]

الْمُعْتَمَدُ فِي الْفَتَاوَى أَنَّهُ لاَ يُشْتَرَطُ فِيْ تَزْوِيْجِ الْبِكْرِ بِاْلإِجْبَارِ أَنْ يَكُوْنَ الزَّوْجُ مُوْسِرًا بِمَهْرِ الْمِثْلِ كَمَا رَجَّحَهُ زَكَرِيَّا وَالْبُلْقِيْنِيُّ وَالزَّرْكَشِيُّ وَالْقُمَاطِيُّ وَأَفْهَمُهُ كَلاَمُ الشَّيْخَيْنِ إِلَى أَنْ قَالَ قُلْتُ رَجَّحَ ابْنُ حج و م ر وَغَيْرُهُمَا أَنَّهُ لاَ بُدَّ فِيْ تَزْوِيْجِ الْمُجْبِرِ بِغَيْرِ إِذْنِهَا مِنْ يَسَارِ الزَّوْجِ بِمَهْرِ الْمِثْلِ وَإِلاَّ لَمْ يَصِحَّ النِّكَاحُ فَكَلاَمُ صَاحِبِ الْفَتَاوَى وَمَا بُنِيَ عَلَيْهِ ضَعِيْفٌ فَتَأَمَّلْهُ.

Dan yang menjadi kitab al-Fatawa adalah, sungguh tidak disyaratkan dalam menikahkan gadis secara paksa, si suami berkemampuan membayar mahar mitsli, sebagaimana pendapat yang diunggulkan Imam Zakaria, al-Bulqini, al-Zarkasyi dan al-Qumathi, serta kesimpulan pendapat al-Nawawi dan al-Rafi’i. Menurut pendapatku, sebagaimana yang diunggulkan Ibn Hajar, al-Ramli dan lainnya, bahwa dalam pernikahan secara paksa tanpa izin si wanita, diharuskan dengan seorang suami yang mampu membayar mahar mitsli. Jika si suami tersebut tidak mampu, maka perkawinan itu tidak sah. Dengan demikian, maka pendapat penulis kitab al-Fatawa dan pendapat yang didasarkan padanya adalah pendapat lemah, maka kajilah!

[1] Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1951 M), Jilid III, h. 350.

[2] Ibn Ziyad, Talhis al-Murad pada hamisy Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M), h. 39-40.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 167
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-10
Di Surakarta Pada Tanggal 10 Muharram 1354 H. / April 1935 M.