Orang Shalat di Dekat Ka’bah Harus Benar-benar Menghadap Ka’bah

0

Orang Shalat di Dekat Ka’bah Harus Benar-benar Menghadap Ka’bah

Pertanyaan : Kalau seseorang bermazhab Syafi’i juga mengerti kewajiban menghadap Ka’bah, apakah boleh bersembahyang dengan menghadap jihah, seperti bersembahyang menghadap ke barat benar, tidak sedikit ke arah utara? Dan apakah tidak sebaiknya mesjid-mesjid yang tidak benar kiblatnya diberi tanda kiblat yang benar.

Jawab : Kalau orang bersembahyang itu di dekat Ka’bah yang bisa melihat atau menyentuh Ka’bah, maka tidaklah sah sembahyangnya bila tidak benar-benar menghadap Ka’bah, begitu pula bagi orang-orang yang berkuasa ijtihad kiblat dengan tanda-tanda yang sah dan ia sengaja mengikuti pendapat yang diperbolehkan menghadap jihah, maka sembahyangnya tidak sah. Kemudian Muktamar menyatakan baik memberi tanda kiblat yang benar untuk mesjid-mesjid yang kurang benar kiblatnya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Bughyah al-Mustarsyidin [1]

(مَسْأَلَةُ ك) الْرَّاحِجُ أَنَّهُ لاَ بُدَّ مِنِ اسْتِقْبَالِ عَيْنِ الْقِبْلَةِ وَلَوْ لِمَنْ هُوَ خَارِجُ مَكَّةَ فَلاَ بُدَّ مِنْ انْحِرَافٍ يَسِيْرٍ مَعَ الطُّوْلِ الصَّفِّ بِحَيْثُ يَرَى نَفْسَهُ مُسَامِتًا لَهَا ظَنًّا مَعَ الْبُعْدِ

(Kasus dari al-Kurdi) Pendapat yang unggul adalah sungguh harus menghadap wujud kiblat (ka’bah), walaupun bagi orang yang berada di luar Makkah. Maka harus bergeser sedikit dalam shaf yang panjang sekiranya seseorang menyangka dirinya telah sejajar dengan kiblat (ka’bah) dalam keadaan jauhnya.

  1. Ketetapan Muktamar [2]

وَاسْتَحْسَنَ الْمُؤْتَمَرُ بِتَعْلِيْمِ الْمَسْجِدِ الَّذِيْ عَلَى غَيْرِ عَيْنِ الْكَعْبَةِ بِعَلاَمَةٍ تَدُلُّ عَلَى جِهَّةِ عَيْنِ الْكَعْبَةِ.

Dan mu’tamar menilai baik pemberian tanda pada mesjid yang jauh dari Ka’bah dengan tanda yang dapat menunjukkan ke arah wujud kiblat.

  1. Bughyah al-Mustarsyidin [3]

مَحَلُّ الاكْتِفَاءِ بِالْجِهَّةِ عَلَى الْقَوْلِ بِهِ عِنْدَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِأَدِلَّةِ الْعَيْنِ إِذِ الْقَادِرُ عَلَى الْعَيْنِ إِنْ فُرِضَ حُصُوْلُهُ بِاْلإِجْتِهَادِ لاَ يُجْزِيْهِ اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ قَطْعًا وَمَا حَمَلَ الْقَائِلُوْنَ بِالْجِهَّةِ عَلَى ذَلِكَ إِلاَّ كَوْنَهُمْ رَأَوْا أَنَّ اسْتِقْبَالَ الْعَيْنِ بِالْجِهَّةِ مُتَعَذِّرٌ .

Kondisi cukup menghadap arah (ka’bah ke barat saja misalnya) adalah saat tidak mengetahui tanda-tanda arah ka’bah. Karena orang yang mampu mengetahui ka’bah bila diandaikan bisa dihasilkan dengan berijtihad, maka ia tidak cukup menghadap arah saja secara pasti (tanpa khilafiyah). Tidak ada yang mendorong ulama yang membolehkan menghadap ke arah ka’bah melainkan mereka memandang bahwa menghadap ka’bah dengan berijtihad itu sulit dilakukan.

[1] Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M)), h. 39.

[2] Ketetapan Muktamar Ke-9, Nomor 150.

[3] Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M)), h. 39-40.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 172
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-10
Di Surakarta Pada Tanggal 10 Muharram 1354 H. / April 1935 M.