Memberi Ongkos Pengetam Hasil Pengetaman

0

Memberi Ongkos Pengetam Hasil Pengetaman

Pertanyaan : Bolehkah memberi ongkos mengetam padi dengan padi hasil pengetamnya sebagaimana yang berlaku di tanah air kita?.

Jawab : Tidak boleh memberi ongkos mengetam padi dari padi hasil pengetaman, menurut pendapat yang masyhur, tetapi menurut pendapat lain, tidak dilarang.

Keterangan, dari kitab:

  1. Al-Tsimar al-Yani’ah ‘ala al-Riyadh al-Badi’ah [1]

فَيَحْرُمُ دَفْعُ أُجْرَةِ الْحَصَّادِيْنَ مِنَ الْحُبُوْبِ. وَيَمْتَنِعُ أَكْلُ الْفَرِيْكِ وَالْفُوْلِ اْلأَحْضَرِ وَيَجِبُ اِجْتِنَابُ ذَلِكَ إِنْ عُلِمَ أَنَّ زَرْعَهُ يَجِبُ فِيْهِ الزَّكَاةُ .

Haram memberikan upah kepada tenaga pengetam dengan biji-bijian yang diketamnya. Dan tidak boleh memakan kedelai dan kacang hijau dan harus menjauhinya jika diketahui bahwa tanamannya itu masih harus dizakati.

  1. Irsyad al-Sari [2]

(قَوْلُهُ وَقَالَ الحَسَنُ لاَ بَأْسَ أَنْ يُجْتَنَى الْقَطْنُ عَلَى النِّصْفِ) وَمِثْلُ الْقُطْنِ الْعُصْفُرُ وَلُقَاطُ الزَّيْتُوْنِ وَالْحَصَادُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِمَّا هُوَ مَجْهُوْلٌ فَأَجَازَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِيْنَ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ قِيَاسًا عَلَى الْقِرَاضِ لِأَنَّهُ يَعْمَلُ بِالْمَالِ عَلَى جُزْءٍ مِنْهُ مَعْلُوْمٌ لاَ يُدْرَى مَبْلُغُهُ (وَقَالَ إِبْرَاهِيْمُ وَابْنُ سِيْرِيْنَ وَعَطَاءُ وَالْحَكَمُ وَالزًّهْرِيُّ وَقَتَادَةُ لاَ بَأْسَ أَنْ يُعْطِيَ الثَّوْبَ) أَي يُعْطِيَ الْغَزْلَ لِلنَّسَاجِ يَنْسُجُهُ (بِالثُّلُثِ أَوِ الرُّبُعِ وَنَحْوِهِ)  أَي يَكُوْنُ الثُّلُثُ أَوْ الرُّبُعُ وَنَحْوُهُ لِلنَّسَّاجِ وَالْبَاقِى لِمَالِكِ الْغَزْلِ.

Maksudnya, al-Hasan al-Bashri berkata: Kapas boleh dipanen dengan upah separuhnya. Dipandang sama dengan kapas adalah ushfr (jenis biji tanaman bahan minyak), petikan buah zaitun, hasil panen dan lainnya yang tidak diketahui, maka sekumpulan ulama tabi’in memandang boleh. Ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad karena mengqiyaskan atas hukum qiradh, yaitu seseorang mengerjakan suatu pekerjaan dengan upah sebagian daripadanya walaupun belum diketahui jumlah keseluruhannya. Ibrahim, Ibn Sirin, ‘Atha’, al-Hakam, al-Zuhri dan Qatadah berpendapat, boleh memberikan sebagian kain, yakni memberikan upah sebagian kain tenunan kepada penenunnya, sepertiga, seperempat dan sebagainya yang diberikan kepada penenunnya itu. Dan sisanya (yang ada) untuk pemilik alat tenun.

[1] Muhammad Nawawi al-Jawi, Al-Tsimar al-Yani’ah ‘ala al-Riyadh al-Badi’ah, (Indonesia: al-Haramain, 1427 H/2006 M), h. 55.

[2] Syihabuddin Ahmad al-Qisthalani, Irsyad al-Sari, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid IV, h. 177-178.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 190
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-11
Di Banjarmasin Pada Tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H. / 9 Juni 1936 M.