Lelaki Memulai Salam Kepada Perempuan

0

Lelaki Memulai Salam Kepada Perempuan

Pertanyaan : Apakah sunnah bagi laki-laki memulai salam kepada orang perempuan, apakah tafsilnya?.

Jawab : Sunnah bagi lelaki mulai memberi salam kepada perempuan, apabila si perempuan itu istrinya sendiri, atau ada hubungan mahram atau jariyahnya, atau nenek-nenek yang telah lanjut, dan tidak menimbulkan asmara, atau kepada wanita yang baik-baik perbuatannya. Dan makruh mulai salam dengan perempuan yang masih menimbulkan asmara dan tidak berombongan, dengan wanita-wanita yang baik perbuatan, dan tidak pula disertai para lelaki. Dan boleh mulai salam, apabila pemberi salam berombongan dengan lelaki, walaupun si perempuan tidak berombongan dengan para wanita yang baik perbuatannya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Ianah al-Thalibin [1]

مَسْنُوْنٌ سَلاَمُ امْرَأَةٍ عَلَى امْرَأَةٍ أَوْ نَحْوِ مَحْرَمٍ أَوْ سَيِّدٍ أَوْ زَوْجٍ وَكَذَا عَلَى أَجْنَبِيٍّ وَهِيَ عَجُوْزٌ لاَ تُشْتَهَى وَيَلْزَمُهَا فِيْ هَذِهِ الصُّوَرِ رَدُّ سَلاَمِ الرَّجُلِ أَمَّا مُشْتَاهَةٌ لَيْسَ مَعَهَا امْرَأَةٌ أُخْرَى فَيَحْرُمُ عَلَيْهَا رَدُّ سَلاَمِ أَجْنَبِيٍّ وَمِثْلُهُ ابْتِدَائُهُ، وَيُكْرَهُ رَدُّ سَلاَمِهَا وَمِثْلُهُ ابْتِدَائُهُ أَيْضًا. وَالْفَرْقُ أَنَّ رَدَّهَا وَابْتِدَائَهَا يُطْمِعُهُ. وَلَوْ سَلَّمَ عَلَى جَمْعِ نِسْوَةٍ وَجَبَ رَدُّ إِحْدَاهُنَّ إِذْ لاَ تُخْشَى فِتْنَةٌ حِيْنَئِذٍ. وَقَوْلُهُ رَدُّ سَلاَمِ الرَّجُلِ أَي إِذَا سَلَّمَ الرَّجُلُ عَلَيْهَا وَهِيَ عَجُوْزٌ لاَ تُشْتَهَى لَزِمَهَا أَنْ تَرُدَّ عَلَيْهِ  لِأَنَّ سَلاَمَهُ عَلَيْهَا مَسْنُوْنٌ كَسَلاَمِهَا عَلَيْهِ.

Disunatkan wanita memberi salam kepada wanita lain, mahramnya, majikannya, atau suaminya. Demikian juga kepada pria lain, sementara si wanita tersebut sudah tua dan tidak menimbulkan syahwat. Dalam contoh seperti ini, wajib menjawab salam dari pria tersebut. Adapun jika wanita tersebut masih menimbulkan gairah syahwat, sementara tidak ada wanita lain yang menyertainya, maka ia haram menjawab salam dari pria lain, demikian pula memulai salam. (Bagi laki-laki) makruh menjawab salam dari wanita tersebut, demikian pula memulai memberi salam.

Perbedaannya adalah, bahwa jawaban salam wanita dan memulainya dapat membangkitkan gairah laki-laki terhadap wanita tersebut. Andaikan ada pria memberi salam kepada sekelompok wanita, maka salah satu dari mereka harus menjawabnya. Sebab, dalam hal ini tidak dikhawatirkan adanya fitnah.

Jika seorang laki-laki memberi salam kepada wanita yang sudah tua dan tidak menimbulkan syahwat, maka wanita tersebut harus menjawab salamnya, karena salam pria kepada wanita tersebut hukumnya sunah, demikian halnya salam wanita tersebut kepada pria.

  1. Mughni al-Muhtaj [2]

وَلاَ يُكْرَهُ الرَّدُّ عَلَى جَمْعِ نِسْوَةٍ أَوْ عَجُوْزٍ لاِنْتِفَاءِ خَوْفِ الْفِتْنَةِ بَلْ يُنْدَبُ اْلإِبْتِدَاءُ بِهِ عَلَى غَيْرِهِنَّ وَعَكْسُهُ.

Tidak makruh menjawab salam bagi sekelompok wanita atau yang sudah tua karena tidak ada kekhawatiran timbulnya fitnah, bahkan disunatkan memulai salam oleh sekelompok wanita tersebut kepada selain mereka, dan demikian pula sebaliknya.

[1] Al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t .th). Jilid IV, h. 185. Dikemukakan juga dalam Muhyiddin al-Nawawi, al-Adzkar dan Abdul Hamid al-Syirwani dalam Hasyiyah al-Syirwani.

[2] Muhammad al-Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, (Beirut: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), Jilid IV, h. 267.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 182
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-11
Di Banjarmasin Pada Tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H. / 9 Juni 1936 M.