Dalam Akad Nikah Dinyatakan “Kukawinkan Padamu Perempuan Pinanganmu”, Padahal Lelaki Tidak Pernah Meminangnya

0

Dalam Akad Nikah Dinyatakan “Kukawinkan Padamu Perempuan Pinanganmu”, Padahal Lelaki Tidak Pernah Meminangnya

Pertanyaan : Bagaimana orang mengucapkan, dalam akad nikah; aku menikahkan padamu akan perempuan pinanganmu, padahal si lelaki (mempelai) tidak pernah meminangnya, apakah sah nikahnya?.

Jawab : Sah nikahnya apabila telah ditentukan dengan nama atau sifatnya, atau dengan menunjuk, atau tidak ditentukan dengan nama atau sifat, tetapi kedua yang berakad mempelai dan wali dalam hatinya telah menentukan. Adapun ucapan pinanganmu, itu dianggap sia-sia (lagha).

Keterangan: dari kitab:

  1. Fath al-Mu’in [1]

وَيَكْفِى التَّعْيِيْنُ بِوَصْفٍ أَوْ إِشَارَةٍ

Dan (dalam akad nikah) cukup menentukan (calon mempelai wanita) dengan sifat atau isyarat.

  1. Tufah al-Muhtaj [2]

وَخَرَجَ بِقَوْلِنَا فِي الصِّيْغَةِ الْكِنَايَةُ فِي الْمَعْقُوْدِ عَلَيْهِ كَمَا لَوْ قَالَ أَبُوْ بَنَاتٍ زَوَّجْتُكَ إحْدَاهُنَّ أَوْ بِنْتِيْ أَوْ فَاطِمَةَ وَنَوَيَا مُتَعَيِّنَةً وَلَوْ غَيْرَ الْمُسَمَّاةِ فَإِنَّهُ يَصِحُّ .

Maka dengan ungkapanku “Dalam sighat,” mengecualikan kinayah dalam wanita yang diakadi, seperti bila seorang ayah beberapa wanita berkata: “Aku nikahkan dirimu dengan salah satunya, anak perempuanku, atau Fatimah, dan keduanya (wali dan mempelai pria) meniati pada perempuan tertentu, meskipun bukan yang disebutkan, maka akad nikah tersebut sah.

[1] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in dalam al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t .th). Jilid III, h. 280.

[2] Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj dalam Abdul Hamid al-Syirwani, Hasyiyah al-Syirwani (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid VII, h. 262.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 168
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-10
Di Surakarta Pada Tanggal 10 Muharram 1354 H. / April 1935 M.