Wanita Mendatangi Kegiatan Keagamaan

0

Wanita Mendatangi Kegiatan Keagamaan

Pertanyaan : Bagaimana hukum para wanita yang keluar dari rumahnya dengan berpakaian rapi dan memakai wangi-wangian mendatangi rapat-rapat keagamaan yang tidak termasuk fardhu ‘ain?.

Haram, makruh, ataukah sunat?.

Jawab : Hukumnya haram apabila berkeyakinan mendapat fitnah walaupun tidak berpakaian rapi dan tidak memakai wangi-wangian atau tidak diizinkan suaminya atau sayyidnya dan termasuk dosa besar.

Apabila tidak yakin, tetapi menyangka adanya fitnah, maka hukumnya haram dosa kecil. Kalau hanya ketakutan fitnah, maka hukumnya haram makruh, dan apabila keyakinan tidak adanya fitnah dan tidak melalui laki-laki lain, maka hukumnya boleh (mubah).

Keterangan, dari kitab:

  1. Isad al-Rafiq[1]

قَالَ فِي الزَّوَاجِرِ وَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ لِصَرِيْحِ هَذِهِ اْلأَحَادِيْثِ. وَيَنْبَغِيْ حَمْلُهُ لِيُوَافِقَ عَلَى قَوَاعِدِنَا عَلَى مَا إِذَا تَحَقَّقَتْ الْفِتْنَةُ. أَمَّا مُجَرَّدُ خَشْيَتِهَا فَإِنَّمَا هُوَ مَكْرُوْهٌ. وَمَعَ ظَنِّهَا حَرَامٌ غَيْرُ كَبِيْرَةٍ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ.

Dalam al-Zawajir Ibn hajar al-Haitami berkata: “Keluarnya wanita dari rumah dengan memakai parfum dan berhias meskipun seizin suami itu dosa besar. Dan agar sesuai dengan kaidah-kaidah madzhab Syafi’iyah mestinya hukum itu diarahkan pada kasus ketika nyata-nyata akan terjadi fitnah. Sedangkan bila hanya menghawatirkannya saja, maka makruh dan bila disertai dugaan kuat akan terjadi fitnah maka haram (namun) bukan dosa besar sebagaimana keterangan yang cukup jelas.”

  1. Fath al-Wahhab dan Futuhat al-Wahhab[2]

وَيُكْرَهُ حُضُوْرُهُنَّ الْمَسْجِدَ فِيْ جَمَاعَةِ الرِّجَالِ إِنْ كُنَّ مُشْتَهَاةً خَوْفَ الْفِتْنَةِ

(قَوْلُهُ وَيُكْرَهُ حُضُوْرُهُنَّ) أَي كَرَاهَةَ تَحْرِيْمٍ حَيْثُ لَمْ يَأْذَنْ الْحَلِيْلُ. إهـ. ح ل. إِلَى أَنْ قَالَ: وَيَحْرُمُ عَلَيْهِنَّ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيٍّ أَوْ حَلِيْلٍ أَوْ سَيِّدٍ أَوْ هُمَا فِي أَمَةٍ مُتَزَوِّجَةٍ وَمَعَ خَشْيَةِ فِتْنَةٍ مِنْهَا أَوْ عَلَيْهَا اِنْتَهَتْ (قَوْلُهُ أَيْضًا وَيُكْرَهُ حُضُوْرُهُنَّ الْمَسْجِدَ) أَي مَحَلَّ الْجَمَاعَةِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِ الرِّجَالِ فَذِكْرُ الْمَسْجِدِ وَالرِّجَالِ لِلْغَالِبِ.

Kaum wanita dimakruhkan mendatangi mesjid yang berisikan jamaah laki-laki jika wanita tersebut musytahah (sudah mengundang birahi laki-laki) karena khawatir timbulnya fitnah.

(Ungkapan Syaikh Zakaria al-Anshari: “Kaum wanita dimakruhkan mendatangi.”) Maksudnya adalah makruh tahrim (haram) bila tanpa seizin suami. Begitu pendapat al-Halabi. … Dan baginya haram (keluar rumah) tanpa seizin wali, suami, sayyid atau suami dan sayyid bagi budak wanita yang bersuami dan disertai kekhawatiran akan timbut fitnah darinya atau menimpanya. (Ungkapan beliau lagi: “Kaum wanita makruh mendatangi mesjid.”), maksudnya adalah tempat jamaah, meski tidak bersama jamaah laki-laki. Maka penyebutan mesjid dan laki-laki tersebut karena umumnya (saja).

[1] Muhammad Babashil, Is’ad al-Rafiq ‘ala Syarh Sullam al-Taufiq, (Singapura: al-Haramain, t. th.) Juz II, h. 136.

[2] Sulaiman al-Jamal, Futuhat al-Wahhab, (Beirut: Dar al-Fikr t. th.) Jilid I, h. 503.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 133
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-8
Di Jakarta Pada Tanggal 12 Muharram 1352 H. / 7 Mei 1933 M.