Ziarah ke Makam Rasulullah Saw

0

Pertanyaan:

Selama saya berada di tanah suci melakukan Ibadah haji, kerap sekali saya mendengarkan pengajian di sekitar Masjidil Haram yang isinya menjelaskan bahwa hadis tentang ziarah ke makam Rasulullah Saw adalah hadis yang sangat lemah, bahkan ada yang mengatakan maudlu’ (hadis palsu). Benarkah hal tersebut? H Sholihin, Sby.

Jawaban:

Ziarah ke makam Rasulullah adalah bagian dari pendekatan diri kepada Allah yang terpenting dan perintah yang paling utama (al Adzkar an-Nawawiyah I/204). Hal ini berdasarkan beberapa riwayat hadis.
Terkait riwayat tersebut dlaif, maka Al-Dzahabi berkata:

قَالَ الذَّهَبِي طُرُقُهُ كُلُّهَا لَيِّنَةُ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا ِلأَنَّ مَا فِي رُوَّاتِهَا مُتَّهَمٌ بِالْكِذْبِ قَالَ وَمِنْ أَجْوَدِهَا إِسْنَادًا حَدِيْثُ حَاطِبٍ مَنْ زَارَنِي بَعْدَ مَوْتِي فَكَأَنَّمَا زَارَنِي فِي حَيَاتِي أَخْرَجَهُ ابْنُ عَسَاكِرَ وَغَيْرُهُ (الدرر المنتثرة في الأحاديث المشتهرة للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 19)

“Semua jalur riwayatnya (ziarah ke makam Nabi) lemah, tapi sebagian menguatkan riwayat yang lain, karena diantara perawinya ada yang dituduh berdusta.” Al-Dzahabi berkata: “Diantara yang paling baik sanadnya adalah hadis riwayat Hatib: “Barangsiapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka sama seperti ziarah ketika aku hidup”, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan lainnya” (al-Suyuthi dalam kitab al-Durar al-Muntatsirah I/19)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

(فَائِدَةٌ) طُرُقُ هَذَا الْحَدِيْثِ كُلُّهَا ضَعِيْفَةٌ لَكِنْ صَحَّحَهُ مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ أَبُوْ عَلِيِّ بْنِ السَّكَنِ فِي إِيْرَادِهِ إِيَّاهُ فِي أَثْنَاءِ السُّنَنِ الصِّحَاحِ لَهُ وَعَبْدُ الْحَقِّ فِي اْلأَحْكَامِ فِي سُكُوْتِهِ عَنْهُ وَالشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِي مِنَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ بِاعْتِبَارِ مَجْمُوْعِ الطُّرُقِ وَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِي ذَلِكَ مَا رَوَاهُ أَحْمَدُ (10827) وَأَبُوْ دَاوُدَ (2041) مِنْ طَرِيْقِ أَبِي صَخْرٍ حُمَيْدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ يَزِيْدَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قُسَيْطٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أّرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَبِهَذَا الْحَدِيْثِ صَدَرَ الْبَيْهَقِي اْلبَابَ (تلخيص الحبير في تخريج أحاديث الرافعي الكبير للحافظ ابن حجر 2 / 570)

“Semua jalur riwayat ini adalah dlaif, tetapi hadis riwayat Ibnu Umar disahihkan oleh Ibnu al-Sakan karena ia mencantumkannya dalam kitab karyanya yaitu al-Sunan al-Shihah, juga disahihkan oleh Abdulhaqq dalam kitabnya al-Ahkam dan ia tidak memberi komentar, juga oleh Syaikh Taqiyuddin al-Subki dari ulama akhir dengan metode akumulasi seluruh riwayat. Hadis yang paling sahih terkait ziarah ke makam Rasulullah Saw adalah riwayat Ahmad (10827) dan Abu Dawud (2041) dari Abu Hurairah secara marfu’: Tidak seorangpun yang mengucap salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruh kepadaku hingga aku menjawab salam kepadanya. Dengan hadis inilah al-Baihaqi (dalam kitab al-Sunan al-Kubra No 0569) mendahulukan bab tentang ziarah ke makam Rasulullah” (al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Talkhish al-Habir II/470)

Sedangkan tuduhan palsu oleh Ibnu Taimiyah, maka dibantah oleh al-Hafidz Ibnu Hajar:

قَالَ أَعْنِي ابْنَ حَجَرٍ وَبِالْجُمْلَةِ فَقَوْلُ ابْنِ تَيْمِيَّةَ “مَوْضُوْعٌ” غَيْرُ صَوَابٍ (فيض القدير شرح الجامع الصغير للمناوي 6 / 181)

“Secara global perkataan Ibnu Taimiyah: ‘Hadis ini palsu’, adalah tidak benar” (al-Munawi dalam Faidl al-Qadir VI/181)
Dengan demikian, tidaklah benar jika ada yang mengatakan bahwa keseluruhan hadis-hadis tentang anjuran ziarah ke makam Rasulullah Saw adalah dlaif atau dituduh maudlu’ (hadis palsu)

Sumber: Buku JAWABAN AMALIYAH DAN IBADAH
Yang Dianggap Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir