Wali Mujbir Mengawinkan Anak Gadisnya yang Sudah Dewasa dengan Pemuda yang Sekufu

0

Wali Mujbir Mengawinkan Anak Gadisnya yang Sudah Dewasa dengan Pemuda yang Sekufu

Pertanyaan : Bolehkah seorang wali mujbir (mempunyai hak paksa) memaksa anak gadisnya yang sudah dewasa untuk dikawinkan dengan pemuda yang kufu (sepadan) tetapi ia menolak bahkan ia menyatakan lebih baik mati daripada dikawinkan dengan pemuda tersebut, sedang ia sendiri mempunyai pilihan pemuda lain yang kufu pula?.

Jawab : Boleh, tetapi makruh, asal tidak ada kemungkinan akan timbul bahaya.

Keterangan, dalam kitab:

  • Tuhfah al-Habib[1]

أَمَّا مُجَرَّدُ كَرَاهَتِهَا مِنْ غَيْرِ ضَرَرٍ فَلاَ يُؤَثِّرُ لَكِنْ يُكْرَهُ لِوَلِيِّهَا أَنْ يُزَوِّجَهَا بِهِ كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي اْلأُمِّ وَيُسَنُّ اسْتِئْذَانُ الْبِكْرِ إِذَا كَانَتْ مُكَلَّفَةً لِحَدِيْثِ مُسْلِمٍ. (وَالْبِكْرُ يَسْتَأْمِرُهَا أَبُوْهَا) وَهُوَ مَحْمُوْلٌ عَلَى النَّدْبِ تَطْيِيْبًا لِخَاطِرِهَا. إهـ.

Adapun sekedar ketidaksukaan wanita tanpa hal yang dharuri (terpaksa), maka tidak berpengaruh, (terhadap keabsahan perkawinan), akan tetapi dimakruhkan bagi walinya untuk mengawinkannya sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab al-Umm. Disunatkan meminta izin kepada perawan jika memang sudah dewasa berdasarkan hadis Muslim: “seorang ayah harus meminta persetujuan dari anaknya yang masih perawan”. Hadis ini dipahami sebagai “sunnah” demi menghargai perasaan.

[1]   Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib/Hasyiyah al-Bujairimi, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1424 H/2003 M), Cet. Ke-3, Jilid IV, h. 160.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 86
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-5
Di Pekalongan Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1349 H. / 7 September 1930 M.