Shalawat Untuk Penutup Majlis

0

Pertanyaan:

Sudah menjadi tradisi di masyarakat setiap kali ada pertemuan selalu ditutup dengan pembacaan shalawat, seakan-akan shalawat tersebut menjadi aba-aba untuk perpisahan. Bagaimanakah hukumnya? Syarif, Sidoarjo

Jawaban:

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw merupakan perintah langsung dari Allah (al-Ahzab: 56), membaca shalawat juga tidak ada pembatasan waktu dan berapa jumlah bilangannya. Yang jelas, umat Islam membaca shalawat minimal 17 kali selama sehari-semalam saat menjalankah ibadah salat.

Khusus membaca shalawat saat menutup pertemuan seperti yang berlaku di masyarakat saat ini memiliki landa-
san dalil dari hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  قَالَ مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا ثُمَّ تَفَرَّقُوْا عَنْ غَيْرِ صَلاَةٍ عَلَى النَّبِي  إِلاَّ تَفَرَّقُوْا عَلَى أَنْتَنَ مِنْ رِيْحِ الْجِيْفَةِ (رواه النسائي في السنن الكبرى رقم 10244)

“Tidak ada satu kelompok yang duduk dalam satu majlis kemudian mereka membubarkan diri tanpa membaca shalawat kepada Nabi Saw, kecuali mereka bubar dalam keadaan lebih busuk daripada bau bangkai” (HR an-Nasai dalam Sunan al-kubra No 10244)
Hadis yang senada juga diriwayatkan oleh al-Hakim (No 2017), ia mengatakan sahih dan disetujui oleh adz-Dzahabi, juga oleh Turmudzi (No 3708) dan ia mengatakan “Hadis ini Hasan-Sahih”

Ahli hadis al-Hafidz as-Sakhawi (murid al-Hafidz Ibnu Hajar) mengatakan bahwa hadis diatas adalah dalil untuk menutup majlis atau pertemuan dengan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw (al-Qaul al-Badi’ fi Shalati ‘ala al-habin asy-syafi’ 242)

Sumber: Buku JAWABAN AMALIYAH DAN IBADAH
Yang Dianggap Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir