Khataman al-Quran di Kuburan

0

Pertanyaan:

Sudah menjadi tradisi di lingkungan kami jika ada warga yang wafat, maka setiap sore ada sekitar 30 orang yang mengkhatamkan al-Quran di makamnya, masing-masing membaca 1 juz. Bolehkah hal yang demikian? Syafiuddin, Sampang Madura

Jawaban:

Membaca al-Quran di kuburan didasarkan pada hadis riwayat Thabrani (Baca bab: ”Membaca al-Quran di Kuburan). Dan terkait mengkhatamkan al-Quran di kuburan sudah dilakukan oleh para ulama Salaf. Ulama Syafiiyah, Imam Nawawi berkata:

قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294)

“Imam Syafii dan ulama Syafi’iyah berkata: Disunahkan membaca sebagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus” (al-Adzkar I/162 dan al-Majmu’ V/294)
Imam ahli Qira’ah, Ibnu al-Jazari berkata:

سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ نَفِيْسٍ الضَّرِيْرَ شَيْخَنَا يَقُوْلُ قَرَأْتُ عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ  أَلْفَ خَتْمَةٍ (غاية النهاية في طبقات القراء لابن الجزري ج 1 / ص 40)

“Diriwayatkan bahwa guru kami, Ahmad bin Navis (Ahli al-Quran di Mesir), yang buta berkata: Saya membaca di dekat makam Nabi Saw sebanyak 1000 kali khataman” (Ghayat an-Nihayah 1/40)
Khataman secara massal juga sudah dilakukan oleh ulama Hanabilah:

وَكَانَتْ جَنَازَتُهُ (أَبِي جَعْفَرٍ الْهَاشِمِيِّ اْلاِمَامِ، شَيْخِ الْحَنْبَلِيَّةِ) مَشْهُوْدَةً، وَدُفِنَ إِلَى جَانِبِ قَبْرِ اْلاِمَامِ أَحْمَدَ، وَلَزِمَ النَّاسُ قَبْرَهُ مُدَّةً حَتَّى قِيْلَ: خُتِمَ عَلَى قَبْرِهِ عَشْرَةُ آلاَفِ خَتْمَةٍ (سير أعلام النبلاء ج 18 / ص 547 والبداية والنهاية ” 12 / 129)

“Dan janazah Syaikh Abi Ja’far al-Hasyimi, syaikh ulama Hanbali disaksikan banyak orang. Ia dimakamkan disekat kubur Imam Ahmad. Orang-orang beridiam di kuburnya selama beberapa waktu, hingga dikatakan telah dibacakan al-Quran di kubrnya sebanyak 10.000 kali khataman” (al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 18/547 dan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayag 12/129)
Begitu pula di makam Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi:

تُوُفِّيَ أَبُوْ الْفَتْحِ الزَّاهِدُ فِي يَوْمِ الثُّلاَثَاءِ التَّاسِعِ مِنَ الْمُحَرَّمِ سَنَةَ تِسْعِيْنَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ وَخَرَجْنَا بِجَنَازَتِهِ بَعْدَ صَلاَةِ الظُّهْرِ فَلَمْ يُمْكِنَّا دَفْنُهُ إِلَى قَرِيْبِ الْمَغْرِبِ لأَنَّ النَّاسَ حَالُوْا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ وَكَانَ الْخَلْقُ مُتَوَفِّرًا ذُكِرَ الدِّمَشْقِيُّوْنَ أَنَّهُمْ لَمْ يَرَوْا جَنَازَةً مِثْلَهَا وَأَقَمْنَا عَلَى قَبْرِهِ سَبْعَ لَيَالٍ نَقْرَأُ كُلَّ لَيْلَةٍ عِشْرِيْنَ خَتْمَةً (تاريخ دمشق ج 62 / ص 18وسير الاعلام 19 / 140)

“Ketika al-Imam Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi, yang terkenal zuhud, wafat pada Selasa 9 Muharram, 490 H, penduduk Damaskus membaca al-Qur’an di makamnya selama 7 hari, setiap malam 20 khataman” (al-Hafidz Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi 62/18 dan al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 19/140)
Begitu juga di kuburan Ibnu Taimiyah:

وَخُتِمَتْ لَهُ خَتْمَاتٌ كَثِيْرَةُ بِالصَّالِحِيَّةِ وَبِالْبَلَدِ، وَتَرَدَّدَ النَّاسُ إِلَى قَبْرِهِ أَيَّامًا كَثِيْرَةً لَيْلاً وَنَهَارًا يَبِيْتُوْنَ عِنْدَهُ وَيُصْبِحُوْنَ، وَرُئِيَتْ لَهُ مَنَامَاتٌ صَالِحَةٌ كَثِيْرَةٌ، وَرَثَاهُ جَمَاعَةٌ بِقَصَائِدَ جَمَّةٍ (البداية والنهاية 14/ 156)

“Ibnu Taimiyah dikhatamkan bacaan al-Quran berkali-kali baik di makamnya atau di kota. Orang-orang mondar-mandir ke kuburnya berkali-kali selama beberapa hari yang lama, malam atau siang. Mereka menginap di dekat kuburnya sampai Subuh. Mereka menjumpai mimpi-mimpi yang baik tentang Ibnu Taimiyah, dan para jamaah melantunkan kasidah yang beraneka ragam” (Al-Hafidz Ibnu Katsir al-Bidayah wa an-Nihayah 14/156-157)

Sumber: Buku JAWABAN AMALIYAH DAN IBADAH
Yang Dianggap Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir