Istighfar Untuk Kaum Muslimin

0

Ada sebuah pertanyaan dari pengurus takmir masjid di kawasan Kertajaya (10/03/2013) yang nadanya adalah ‘menjebak’ dan akan diarahkan kepada bid’ah. Yaitu terkait bacaan Istighfar setelah salat yang berupa tambahan “Li wa li waalidayya wa li jami’i al-muslimina wa al-muslimat…” Apakah tambahan doa itu berdasarkan hadis?

Saya jawab: “Bukan hanya hadis, tapi perintah al-Quran. Yaitu Surat Muhammad: 19;

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ [محمد/19[

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan”

Allah juga mengisahkan doa Nabi Ibrahim:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ [إبراهيم/41]

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Ibrahim: 41)

Begitu pula sebuah hadis:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَنِ
اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً (رواه الطبراني بإسناد حسن)

“Barangsiapa memintakan ampunan bagi orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan, maka Allah mencatat kebaikan baginya dengan setiap orang mu’min laki-laki dan perempuan” (HR Thabrani dengan sanad yang hasan)

Ia pun masih mengejar: “Tapi kan itu menyalahi hadis tentang bacaan Istighfar?” Saya jawab: “Pak, jika ada dua riwayat hadis kemudian digabung, maka tidak bisa disebut bid’ah. Sebab sama-sama memiliki dalil. Sama halnya dengan Abdullah bin Umar yang tahallul dengan cara menggundul habis rambut dan mencukur jenggotnya. Menurut para ahli hadis yang dilakukan Abdullah bin Umar ini adalah sebagai pengamalan dari Surat al-Fath: 27. Ketika beliau menggabung 2 hal ini tidak ada sahabat yang mengatakan bid’ah. Karena ada dalilnya”
Ibnu Umar juga menambah bacaan dalam Tasyahhud:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ قَالَ ابْنُ عُمَرَ زِدْتُ فِيهَا وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (رواه أبو داود 826)

“Dalam kalimat Syahadat salat, Ibnu Umar berkata: Saya tambahkan bacaan Wahdahu la syarika lahu…” (Abu Dawud 826. Bahkan dinilai sahih oleh Albani) Ia pun akhirnya manggut-manggut… Sesampainya di rumah saya buka kitab-kitab, ternyata ditemukan penjelasan dari Ibnu al-Qayyim:

قَالَ الْعَلاَّمَةُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ “فَكَمَا يُحِبُّ [أَيِ الْمُسْلِمُ]
أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَهُ أَخُوْهُ الْمُسْلِمُ كَذَلِكَ هُوَ أَيْضاً يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَغْفِرَ لأَخِيْهِ الْمُسْلِمِ: رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَسْتَحِبُّ لِكُلِّ أَحَدٍ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِيْنَ مَرَّةً، فَيَجْعَلُ لَهُ مِنْهُ وِرْداً لاَ يُخِلُّ بِهِ. وَسَمِعْتُ شَيْخَنَا ـ أيْ ابْنَ تَيْمِيَّةَ ـ يَذْكُرُهُ، وَذَكَرَ فِيْهِ فَضْلاً عَظِيْماً لاَ أَحْفَظُهُ (فقه الأدعية والأذكار 2 / 228)

“Sebagaimana seseorang senang untuk didoakan oleh orang lain, maka ia dianjurkan untuk memintakan ampunan bagi saudara muslim lainnya. Kemudian ia membaca: Ya Allah, ampuni dosa saya, kedua orang tua saya dan muslimin, muslimat, mukminin dan mukminat”. Dan sebagian ulama salaf menganjurkan bagi tiap orang agar rutin membaca doa ini setiap hari 70 kali, dan menjadikannya sebagai wiridan. Saya mendengar guru kami –Ibnu Taimiyah- menyebutnya dan membuat keutamaan yang besar, tapi saya tidak menghafalnya” (Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar)

Sumber: Buku JAWABAN AMALIYAH DAN IBADAH
Yang Dianggap Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir