Hari Raya di Hari Jumat

0

Pertanyaan:

Hampir semua kalender menentukan 10 Dzukhijjah / Hari Raya Qurban jatuh pada hari Jumat (2013). Benarkah salat Jumatnya tidak wajib alias gugur karena di pagi harinya sudah berhari raya? Syamsul Arifin, Sby.

Jawaban:

Mari perhatikan dua hadis: Hadis pertama

عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِي قَالَ شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ هَلْ شَهِدْتَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ  عِيْدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ كَيْفَ صَنَعَ؟ قَالَ صَلَّى الْعِيْدَ ثُمًّ رَخَّصَ فِي اْلجُمْعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ (رواه الحاكم 1063 وقال هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه وله شاهد على شرط مسلم تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح)

“Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya pada Zaid bin Arqam: “Apakah kamu pernah menyaksikan bersama Rasulullah Saw berkumpulnya dua hari raya (Hari Jumat dan Hari Raya) dalam sehari? Zaid menjawab: “Ya”. Muawiyah bertanya: “Apa yang beliau lakukan?” Zaid menjawab: “Rasulullah Saw salat hari raya dan memberi dispensasi untuk salat Jumat. Beliau bersabda: “Barang siapa yang ingin melakukan salat Jumat, maka salatlah!” (HR al-Hakim, Abu Dawud, dll)

Hadis kedua, Rasulullah Saw bersabda:

قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمْعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ إِنْ شَاءَ اللهُ (رواه ابو داود وابن ماجه والحاكم)

“Telah berkumpul di hari ini dua hari raya (salat Jumat dan hari raya). Barang siapa meninginkan, maka baginya telah mencukupi dari salat Jumat. Sementara kami mengumpulkannya (salat Jumat dan hari raya), Insyaallah” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim)
Sekilas memang hadis ini menggugurkan kewajiban salat Jumat. Namun perlu diketahui bahwa rukhsah (dispensasi) tersebut ditujukan bagi penduduk pelosok desa yang ikut salat hari raya bersama Rasulullah Saw di Madinah, dan jaraknya sangat jauh. Syaikh ath-Thahawi berkata:

اِنَّ الْمُرَادِينَ بِالرُّخْصَةِ في تَرْكِ الْجُمُعَةِ في هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ هُمْ أَهْلُ الْعَوَالِي الَّذِينَ مَنَازِلُهُمْ خَارِجَةٌ عَنِ الْمَدِينَةِ مِمَّنْ لَيْسَتْ الْجُمُعَةُ عَلَيْهِمْ وَاجِبَةً لأَنَّهُمْ في غَيْرِ مِصْرٍ مِنَ الأَمْصَارِ وَالْجُمُعَةُ فَإِنَّمَا تَجِبُ عَلَى أَهْلِ الأَمْصَارِ (شرح مشكل
الاثار للطحاوي 3/ 187)

“Yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi rukhsah untuk meninggalkan salat Jumat dalam 2 hadis diatas, adalah penduduk dataran tinggi yang rumahnya berada di luar Madinah yang tidak wajib bagi mereka melakukan salat Jumat, sebab mereka berada di luar batas kampung dan Jumat wajib bagi mereka yang berada di perkampungan” (Syarah Musykil al-Atsar, Syaikh ath-Thahawi 3/187. Dan kitab Bughyah 90). Sehingga bagi penduduk yang bisa menjangkau masjid karena jaraknya tidak jauh, maka tetap wajib. Inilah yang berlaku di madzhab Imam Syafi’i.

Sumber: Buku JAWABAN AMALIYAH DAN IBADAH
Yang Dianggap Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir