Berkah Orang Shaleh

0

Pertanyaan:

Bolehkah mencari berkah dari orang shaleh? Benarkah bertentangan dengan Agama? Rudy, Sby

Jawaban:

Berkah artinya adalah ‘bertambahnya nilai kebaikan.’ Selama berkah ditujukan meminta kepada Allah, maka diperbolehkan. Sementara orang shaleh hanya perantara saja. Berikut ini dalil-dalilnya.
Rasulullah mencari berkah air wudlu’ umat Islam:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمَّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ؟ فَقَالَ لا بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ إِنَّ دِينَ اللهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ  يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ (رواه الطبراني)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa ia bertanya kepada Nabi: Ya Rasulallah, apakah berwudlu dari wadah baru yang tertutup ataukah dari tempat-tempat berwudlu’ yang lebih engkau senangi? Rasulullah menjawab: Tidak. Tapi dari tempat-tempat berwudlu’. Agama Allah adalah yang condong dan mudah. Ibnu Umar berkata: Kemudian Rasulullah menyuruh seseorang ke tempat-tempat berwudlu’ dan beliau diberi air wudlu’, kemudian beliau meminumnya. Beliau mengharap berkah dari tangan-tangan umat Islam” (HR Thabrani dalam al-Kabir No 235, al-Ausath No 806, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 2669 dan Abu Nuaim 8/203)

Derajat Hadis adalah ‘Hasan’, berdasarkan penilaian mayoritas ulama. al-Hafidz al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Ausath, para perawinya dinilai terpercaya. Dan Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah terpercaya, dinisbatkan kepada golongan Murjiah” (Majma’ az-Zawaid 1/133)

Syaikh Albani pun memasukkan hadis diatas dalam kitabnya as-Silsilah ash-Shahihah 5/117. Albani berkata: “Abdul Aziz bin Abi Rawad diperselisihkan oleh ulama, mayoritas menilainya terpercaya. Menurut saya, pendapat yang unggul adalah dia di level tengah hadis hasan, apalagi ia diriwayatkan oleh Bukhari dalam sahihnya. Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata: Sangat jujur, kadang salah. al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Ausath, para perawinya dinilai terpercaya. Dan Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah terpercaya, dinisbatkan kepada golongan Murjiah”. Saya berkata: Muslim berhujjah dengannya. Dan faktor dia menjadi murjiah tidaklah berpengaruh, sebagaimana ditetapkan dalam Mushtalah al-Hadis”.

Dalil lainnya, diriwayatkan dari Aisyah, bahwa:

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ  كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
(رواه البخارى رقم 5016)

“Ketika Rasulullah Saw sakit beliau membaca Surat al-Falaq dan an-Nas, beliau lalu meniupnya. Jika semakin parah, maka saya membacakannya dan saya usap tangan beliau, untuk mengaharap berkahnya” (HR al-Bukhari No 5016)
Diriwayatkan Asma’ binti Abu Bakar berkata:

قَالَتْ هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِىُّ  يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا (رواه ابو داود ومسلم والبخاري في الادب المفرد)

“Jubah ini (pada mulanya) dipegang oleh Aisyah sampai ia wafat. Setelah wafat saya ambil jubah tersebut. Rasulullah  memakai jubah ini. Kami membasuhnya untuk orang-orang yang sakit, kami mengharap kesembuhan melalui jubah tersebut”. (HR. Abu Dawud, Muslim dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

Dari sebuah hadis sahih ketika Rasulullah Saw memamah kurma yang kemudian diberikan kepada anak yang baru lahir, Imam Nawawi berkata: “Para ulama sepakat disunahkannya memamah makanan. Dan dianjurkan yang memamah tadi adalah orang shaleh dan orang-orang yang diharapkan berkahnya, laki-laki atau wanita” (Syarah Sahih Muslim 14/122)

Ad-Dumairi dalam kitabnya Hayatul Hayawan al-Kubra (1/100-101) meriwayatkan bahwa Imam Syafii juga mengambil berkah dari air basuhan jubah Imam Ahmad bin Hanbal. Dan masih banyak dalil tabarruk lain dari para sahabat maupun para ulama.

Sumber: Buku JAWABAN AMALIYAH DAN IBADAH
Yang Dianggap Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir