Ta’liq Talaq Setelah Akad Nikah

0

Ta’liq Talaq Setelah Akad Nikah

Pertanyaan : Bagaimana pendapat Muktamar tentang hukum taliq talaq sesudah akad nikah berlangsung atas perintah penghulu/naib, sebagaimana berlaku di Indonesia?.

Jawab : Perintah penghulu/naib untuk mengucapkan taliq talaq itu hukumnya kurang baik karena taliq talaq itu sendiri hukumnya makruh. Walaupun demikian, ta’liq talaq itu sah, artinya bila dilanggar dapat jatuh talaqnya.

Keterangan, dalam kitab:

  • Ianah al-Thalibin[1]

(قَوْلُهُ لاَ يَنْعَقِدُ الْيَمِيْنُ إلخ) اِنْعِقَادُهَا بِهَذَِيْنِ النَّوْعَيْنِ مِنْ حَيْثُ الْحَنَثُ الْمُرَتَّبُ عَلَيْهِ الْكَفَّارَةُ. أَمَّا مِنْ حَيْثُ وُقُوْعِ الْمَحْلُوْفِ عَلَيْهِ فَلاَ يَنْحَصِرُ فِيْهِمَا بَلْ يَحْصُلُ بِغَيْرِهِمَا أَيْضًا كَالْحَلْفِ بِالْعِتْقِ وَالطَّلاَقِ الْمُعَلَّقَيْنِ عَلَى شَيْءٍ كَقَوْلِهِ إِنْ دَخَلْتِ الدَّارَ فَأَنْتِ طَالِقٌ أَوْ فَعَبْدِيْ حُرٌّ.

(Perkataan bahwa sumpah itu tidak terjadi …) yakni bahwa terlaksananya sumpah itu dengan dua macam (asma khusus dan shifat Allah Ta’ala) ini dari segi pelanggaran yang menyebabkan adanya kafarat (denda). Adapun dari segi terjadinya sesuatu yang disumpahkan maka tidak terbatas pada keduanya, namun bisa terjadi pada dengan selain keduanya. Juga seperti sumpah untuk memerdekakan dan mencerai yang dikaitkan dengan sesuatu hal, seperti ucapan: “Kalau Anda sampai masuk rumah, maka anda terceraikan, atau hambaku merdeka.”

  1. Fath al-Mu’in[2]

وَالْحَلْفُ مَكْرُوْهٌ إِلاَّ فِيْ بَيْعَةِ الْجِهَادِ وَالْحَثِّ عَلَى الْخَيْرِ وَالصِّدْقِ فِي الدَّعْوَى.

Sumpah itu hukumnya makruh kecuali dalam baiat (sumpah) jihad, menganjurkan pada kebaikan dan kejujuran dalam gugatan (pengadilan).

  1. Syarh al-Mahalli[3]

وَهِيَ مَكْرُوْهَةٌ قَالَ تَعَالَى: وَلاَ تَجْعَلُوْا اللهَ عُرْضَةً  لِأَيْمَانِكُمْ. إِلاَّ فِيْ طَاعَةٍ كَفِعْلِ وَاجِبٍ أَوْ مَنْدُوْبٍ وَتَرْكِ حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ فَطَاعَةٌ.

Sumpah itu hukumnya makruh sebagaimana firman Allah: “Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahnya sebagai penghalang … (al-Baqarah: 224), kecuali dalam hal ketaatan, seperti melaksanakan yang wajib dan yang sunat, serta meninggalkan yang haram ataupun makruh. Maka dalam hal ini sumpah itu merupakan suatu ketaatan.

[1]   Al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.) Jilid IV, h. 310.

[2]   Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in dalam al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin (Singapura: Maktabah Sulaiman Mar’i , t .th). Jilid IV, h. 315.

[3]   Jalaluddin Muhammad al-Mahalli, Syarah Mahalli dalam Hasyiyah al-Qulyubi wa ‘Umairah, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid IV, h. 274.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 37
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-3
Di Surabaya Pada Tanggal 12 Rabiuts Tsani 1347 H. / 28 September 1928 M.