Membuat Keputusan Berdasarkan Pendapat Kedua

0

Membuat Keputusan Berdasarkan Pendapat Kedua

Persoalan : Bolehkah hakim memberi keputusan dengan mempergunakan pendapat kedua (al-qauluts tsani) dalam masalah Syiqaq (perselisihan antara suami istri)?

Jawaban : Boleh. Hakim diperbolehkan memberi keputusan dengan mempergunakan pendapat kedua (al-qaul al-tsani) apabila untuk kemaslahatan suami-istri dan tidak ada jalan lain kecuali dengan mempergunakan al-qaul al-tsani tersebut.

Keterangan, dari kitab:

  1. 1. Al-Mahalli ‘ala al-Minhaj[1]

وَيُفَرِّقُ الْحَكَمَانِ بَيْنَهُمَا إِنْ رَأَيَاهُ صَوَابًا وَعَلَى الثَّانِى لاَ يُشْتَرَطُ رِضَاهُمَا بِبَعْثِ الْحَكَمَيْنِ. وَإِذَا رَأَى حُكَمُ الزَّوْجِ الطَّلاَقَ اِسْتَقَلَّ بِهِ وَلاَ يَزِيْدُ عَلَى طَلْقَةٍ.

Kedua orang pengambil keputusan berhak memisahkan keduanya (suami-istri) jika mereka memandang perpisahan tersebut sebagai hal yang benar. Menurut (pendapat) yang kedua, dengan mengutus kedua orang pengambil keputusan tersebut berarti kerelaan suami istri tidak disyaratkan. Jika pengambil keputusan si suami memutuskan perceraian, maka ia bisa memutuskan sendiri (tanpa persetujuan suami), tapi tidak boleh lebih dari satu thalaq.

  1. Al-Fawaid al-Makiyyah[2]

نَعَمْ لَهُ ذَلِكَ أَيِ اْلإِفْتَاءُ وَالْقَضَاءُ بِمَرْجُوْحٍ لِحَاجَةٍ وَمَصْلَحَةٍ عَامَّةٍ.

Ia memang berhak untuk memberikan fatwa dan keputusan dengan hukum yang tidak diunggulkan, karena hajat dan kepentingan umum.

  1. Al-Tanbih[3]

وَهُمَا حُكْمَانِ مِنْ جِهَةِ الْحَاكِمِ فِى الْقَوْلِ اْلآخَرِ فَيَجْعَلُ الْحَاكِمُ إِلَيْهِمَا اْلإِصْلاَحَ وَالتَّفْرِيْقَ مِنْ غَيْرِ رِضَا الزَّوْجَيْنِ وَهُوَ اْلأَصَحُّ.

Keduanya pengambil ketetapan hukum dari pihak hakim menurut pendapat lain. Maka hakim menyerahkan keputusan berdamai atau bercerai kepada mereka berdua tanpa kerelaan suami dan istri. Dan pendapat ini adalah yang paling benar.

[1]   Jalaluddin Muhammad al-Mahalli, Syarah Mahalli ‘ala al-Minhaj pada Hasyiyah al-Qulyubi wa “Umairah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1324/2003) Jilid III, h. 308.

[2]   Al-Sayyid ‘Alawi al-Saqqaf, al-Fawaid al-Makiyyah, dalam Majmu;ah Sab’ah Ktub Mufidah, (Mesir: Musthafa al_halabi), h. 53.

[3]   Abu Ishaq ‘Alawi al-Syirazi, al-Tanbih dalam Syarah al-Tanbih al-Suyuthi, (Beirut: Dar al-Fikr, 1416/1996, Cet. Ke-1, Jilid II, h. 639.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 3
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-1
Di Surabaya Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H. / 21 Oktober 1926 M.