Kata ‘Sayidina’ dalam Tahiyat

0

Pertanyaan:

Apakah benar dalam tahiyatul akhir seperti ini: “Allahumma shalli ala saydina Muhammad wa ala ali sayidina Muhammad, kama shallaita ala sayidina…” Tolong dijelaskan karena saya masih bingung. Terimakasih. Rusdin, Surabaya.

Jawaban:

Dalam tahiyat (atau shalawat) yang diajarkan oleh
Rasulullah Saw memang tidak ada lafadz ‘Sayidina’. Namun penambahan tersebut bukan berarti tidak boleh.
Dalam hadis-hadis sahih Rasulullah Saw mengaku bahwa beliau adalah sayid. Yaitu:

اَنَا سَيِّدُ وَلَدِ اَدَمَ وَلاَ فَخْرَ (رواه مسلم والترمذي)

“Saya adalah sayid (pemuka) putra Adam di hari kiamat, dan tidak sombong” (HR Muslim, Turmudzi dan lainya).
Dalam hadis Bukhari diriwayatkan bahwa

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ  فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ (رواه البخاري 757)

“Seorang sahabat di dalam salat menambah bacaan Rabbana wa laka al-hamdu… Selesai salat Nabi bertanya: “Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?” Orang itu menjawab: “Saya”. Nabi bersabda: “Saya melihat ada 30 malaikat lebih yang bergegas mencatatnya” (HR Bukari No 757)
Dari hadis ini ahli hadis al Hafidz Ibnu Hajar berkata:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَازِ إِحْدَاثِ ذِكْرٍ فِي الصَّلاَةِ غَيْرِ مَأْثُوْرٍ إِذَا كَانَ غَيْرَ مُخَالِفٍ لِلْمَأْثُوْرِ وَعَلَى جَوَازِ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ مَا لَمْ يُشَوِّشْ عَلَى مَنْ مَعَهُ (فتح الباري لابن حجر 2/287)

“Hadis ini menunjukkan diperbolehkannya menambah bacaan yang tidak ada dalam salat, selama bacaan tersebut tidak bertentangan dengan riwayat dari Nabi” (Fath al Bari II/287). Dan kita ketahui kata ‘Sayid’ ada dalam hadis-hadis Nabi.
Dalil lainnya adalah bacaan syahadat dalam tasyahhud oleh Ibnu Umar ditambah:

عَنْ مُجَاهِدٍ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ (فِى التَّشَهُّدِ) أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ قَالَ ابْنُ عُمَرَ زِدْتُ فِيهَا وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (رواه أبو داود رقم 973)

“Dalam kalimat Syahadat salat, Ibnu Umar berkata: Saya tambahkan bacaan Wahdahu la syarika lahu…” (Abu Dawud 826. Bahkan dinilai sahih oleh Albani)
Dengan demikian diperbolehkan menambah kata ‘Sayidina’ dalam tasyahhud sebagai bentuk menjaga etika kepada Rasulullah Saw (Ianatut Thalibin I/197)

وَقَوْلُهُ: وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ اْلاَوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ، ِلاَنَّ اْلاَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلاَدَبِ (حاشية إعانة الطالبين 1 / 198)

Sumber: Buku JAWABAN AMALIYAH DAN IBADAH
Yang Dianggap Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir