Wisata Ziarah Purbalingga

0

Makam Adipati Wirasaba memamg ramai dikunjungi oleh peziarah, hampir setiap harinya selalu ada tamu yang berkunjung, dan makam Adipati Wirasaba lebih ramai lagi dikunjungi oleh peziarah pada malam Jumat Kliwon. Berbagai acara khaul pun sering diadakan disini oleh mereka yang permohonannya terkabul.

“Waktunya gak tentu, kalau tamu dari luaran kota kebanyakan datangnya malah tengah malam.” Ungkap Lukman seraya tangannya terus mengepel lantai teras makam.

Makam Adipati Wirasaba berada dipinggiran Sungai Serayu di Desa Wirasaba, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Lokasi makam ditandai dengan sebuah bangunan sebagai makam utama. sementara tidak jauh dari bangunan utama terdapat sebuah bangunan paseban yang biasa dipergunakan untuk acara-acara selamatan.

Didalam bangunan utama terdapat enam buah makam, yaitu makam Adipati Wirasaba I yang berada paling tengah beserta permaisuri, kemudian makam Adipati Wirasaba II, Adipati Wirasaba III, Adipati Wirasaba IV dan makam Adipati Wirasaba ke V.

Adipati Wirasaba I yang bergelar Kyai Adipati Wirahudaya bertahta dari Tahun 1454 – 1468. Beliau adalah putra dari Sayid Ismanapi Attas bin Djamnga yang merupakan keturunan dari Syeh Maulana Djumaddil Kubro. Beliau mempunyai anak angkat bernama Raden Katuhu yang kelak menggantikannya sebagai Adipati Wirasaba II yang bergelar Kyai Raden Adipati Wirahutama I.

Makam Wirasaba sumber: Tabloid Pamor.

Petilasan Ardilawet 
 

Objek wisata ziarah ini terletak di Desa Penusupan Kecamatan Rembang atau sekitar 30 kilometer sebelah timur laut Kota Purbalingga. Untuk mencapai lokasi petilasan Ardi Lawet tidaklah sulit. Meski lokasinya jauh di pelosok desa, namun prasarana jalan menuju tempat itu sudah lumayan halus. Jika harus menggunakan kendaraan umum, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Purbalingga. Jika menumpang mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang, hanya membutuhkan waktu ekitar 30-45 menit. Sesampai di Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, turun dan naiklah pick up ke Desa Penusupan dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer. Sesampai di Desa Penusupan pengunjung harus berjalan kaki menempuh jalan setapak kurang lebih 3 kilometer untuk sampai di Gerbang Petilasan Ardilawet.

Ardilawet merupakan tempat berkhalwat fadabbur untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti Nabi Muhammad yang berkhalwat di Gua Hira. Nama Gunung Lawet berasal dari kata Khalwat yang berarti gunung untuk bersemedi mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ardi Lawet menurut riwayat adalah tempat dimana Syekh Jambu karang belum masuk Islam diwedang atau diberi pengetahuan ke Islaman oleh seorang ulama dari Arab. ditempat inilah sampai sekarang Kuku dan Rambut beliau masih ada sampai sekarang sebagai bukti.

Masjid Agung Darussalam

 

Masjid Agung Darussalam adalah masjid terbesar dan termegah di Purbalingga. Bangunan tempat ibadah umat muslim itu memiliki ciri khas yang menonjol dan tak dimiliki oleh masjid yang ada di daerah lain.

Masjid Agung Darussalam dibangun pada 1853 M/1269 H oleh KH Abdullah Ibrahim. Pembangunan dilakukan di atas tanah seluas 5.500 meter persegi. Sampai dengan saat ini masjid tersebut telah mengalami renovasi lima kali. Masing-masing pada tahun 1918, 1960, 1970, 1980-1985 dan terakhir pada tahun 2002-2004. Dana yang dialokasikan pada rehab terakhir mencapai Rp 2 miliar.
Masjid Agung Darussalam sendiri mendapat julukan “ Masjid Nabawi “ karena gaya arsitekturnya yang diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai masjid Nabawi di Madinah. Ide untuk mengadopsi gaya arsitektur masjid Nabawi sendiri digagas oleh mantan Bupati Purbalingga,Bapak Triyono Budi Sasongko, seusai menjalankan ibadah haji di Tanah Suci Mekah.

Masjid Agung Darussalam juga menjadi lokasi wisata religi di Purbalingga. Banyak wisatawan dari luar yang sengaja datang ke Purbalingga untuk melaksanakan ibadah shalat di masjid yang berada di depan Alun Alun Purbalingga itu. Ketika masuk ke masjid ini banyak yang merasakan berada di masjid yang ada di Madinah.

Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Hoo

 

Satu lagi wisata Religi yang patut anda kunjungi saat di Purbalingga adalah Masjid Muhammad Cheng Hoo. Masjid yang terletak di Desa Selaganggeng Kec. Mrebet ini menjadi suatu bukti terdapatnya keberagaman agama, suku maupun ras dalam kehidupan bermasyarakat di Purbalingga. Hal ini menjadi suatu kekuatan yang luar biasa. Para muslim Tionghoa memanfaatkan Masjid Jami ini sebagai sarana tempat berkumpul mereka untuk menyiarkan dakwah dan pendidikan Islam.

Berdirinya Masjid Jami Cheng Hoo ini merupakan prakarsa dari PITI (Persatauan Islam Tionghoa Indonesia). Masjid ini merupakan akulturasi arsitektur bergaya China/Tiongkok dan Jawa. Bentuknya mirip kelenteng dan tidak ada kubah bulat di bagian atapnya seperti masjid kebanyakan. Masjid Jami Muhammad Cheng Hoo ini mulai dibangun pada tahun 2005. Setelah terhenti pada tahun 2006, pembangunan dilanjutkan pada tahun 2010, dan diresmikan tanggal 5 Juli 2011.

Masjid Cheng Hoo terlihat sangat indah dan cantik saat malam hari. Saat semua lampu masjid dinyalakan, masjid akan terlihat lebih mewah dan mengesankan. Meskipun ukuran Masjid Jami PITI Cheng Hoo tidak terlalu luas, namun keunikan bangunannya membuatnya menjadi sebuah masjid yang menarik untuk dikunjungi.

Makam Wali Perkasa 

Makam Wali Perkasa terletak di Desa Pekiringan, Karangmoncol. Konon Makam Wali Perkasa merupakan makam peninggalan wali yang merupakan tempat peristirahatan terakhir seorang penyebar agama islam yang berada di Desa Pekiringan.Wali Perkasa mempunyai nama lain yaitu Makdum Perkasa,yang merupakan nama pemberian dari Sunan Kali jaga, karena beliau yang mampu merubah arah kiblat masjid Demak yang konon dalam pembangunan masjid tersebut kurang sempurna arah kiblatnya. Tentunya proses perubahan arah kiblat tersebut dengan cara meminta kepada Allah SWT agar diberi kekuatan yang bisa merubah arah kiblat tersebut. Awalnya yang berdoa adalah Sunan Kali Jaga dan murid-muridnya yang mengamini,tetapi tetap saja tidak mampu merubah arah kiblat. Selanjutnya seorang murid minta diberi kesempatan memimpin doa,dan Sunan Kali Jaga yang mengamini bersama murid murid lainnya. Atas izin Allah arah Kiblat masjid Demak bergeser pada posisi yang sempurna.Sejak saat itulah beliau mendapat julukan nama PERKASA. Di Makam Wali Perkasa juga telah di sediakan pemandu demi kelancaran para peziarah.

Syekh Jambukarang, Pembuka Dakwah Islam di Purbalingga

Makam Syekh Jambukarang, seorang tokoh dakwahIslam untuk kawasan Purbalingga dan sekitarnya.Makamnya terletak di desa Panusupan, KecamatanRembang, Kabupaten Purbalingga. Kawasan makam itu terletak sekitar 20 kilometer arah utara kota Purbalingga. Dibutuhkan waktu sekitar 30menit dengan menggunakan mikro bus jurusanBobotsari-Rembang (arah monumen Jenderal Sudirman).Sesampai di desa Rajawana, perjalanan dilanjutkandengan mobil pick up, bak terbuka jurusanRajawana-Panusupan sekitar empat kilometer. Dari desa Panusupan, perjalanan dilanjutkan denganberjalan kaki sejauh satu kilometer. Jalan setapakyang dilapis semen membelah desa itu mengantar kita mencapai gerbang makam. Di sini, setiap pengunjungdikenai biaya restribusi dan mengisi buku tamu.“Masih jauh, Pak?” tanyaku sambil membayar retribusisebesar 3000 rupiah kepada salah seorang juru kunci.“Sekitar empat kilo lagi, Mas,” jawabnya.Kemudian kita diajak menelusuri jalan selebar satumeter yang kondisinya naik turun di lembah perbukitanhijau pada belahan timur kaki gunung Slamet. Ardi Lawet menurut riwayat adalah tempat dimana Syekh Jambu karang belum masuk Islam diwedang atau diberi pengetahuan ke Islaman oleh seorang ulama dari Arab. ditempat inilah sampai sekarang Kuku dan Rambut beliau masih ada sampai sekarang sebagai bukti. perjalanan menuju tempat ini memerlukan waktu 1 sampai 2 jam dari Desa Panusupan Kecamatan Rembang kabupaten Purbalingga. jalannya sedikit agak menguras tenaga untuk dilaluinya sebab mencapai kemiringan 70% sampai 80%. Kawasan ini berada pada titik koordinat: 7°15’2″S 109°29’26″E. Sejauhmata memandang, yang tampak hanya rerimbunan ilalangdan hijaunya perbukitan. Sepanjang perjalanan, sepoiangin pegunungan menghadirkan kicau burung hutanmenemani tiap langkah pendakian. Sesekali berpapasandengan satu rombongan kecil peziarah yang pulang darimakam.Kondisi jalan yang terjal dan licin itu mengharuskankita meluangkan waktu sekitar dua jam meski jaraknyahanya empat kilo. Karenanya perlu stamina dan bekalyang cukup. Sebagian peziarah percaya bahwa makam SyekhJambukarang keramat sehingga menjadi rujukan khusustempat bertawasul, menyampaikan doa dengan perantarawali. “Saya datang ke sini agar dagangan saya makin laris,”tutur Ny. Sutini yang datang dari Kab. Cirebon. Iadatang beserta tiga anggota keluarganya. Umumnya, peziarah datang pada malam Minggu Pon danRabu Pon. Namun, paling ramai ketika pergantian tahun.Banyak anak muda menghabiskan malam panjang di sinisambil menyelami wisata spiritual, meraihberkah-berkah di dalamnya. Peziarah disarankanmengamalkan bacaan ayat Kursi, sebab dalam ayat Kursiterdapat bermacam-macam fadillah.Tiga cahaya.Syeh Jambukarang ketika muda bergelar Adipati Mendang(R. Mundingwangi). Ia putra Prabu Brawijaya MahesaTandreman, Raja Pajajaran I. Sejak muda ia senang dengan ilmu kanuragan. Walauberhak menjadi raja Pajajaran, tetapi ia lebihtertarik menjadi pendeta. Tahta kerajaan diserahkanpada adiknya, R Mundingsari yang dinobatkan pada tahun1190.Ia kemudian bertapa di gunung Jambu Dipa, atau GunugKarang, di Karesidenan Banten, Jawa Barat. Sewaktubertapa terlihat olehnya tiga cahaya di belahan timuryang menjulang tinggi ke angkasa. Maka bersama 160pengikutnya, dicarilah letak cahaya itu. Sungai danpekatnya hutan pegunungan disusuri. Setelah melewati daerah Kerawang, Sungai Comal, GunungCupu, Gunung Kraton sampailah mereka ke Desa Rajawana.Setelah mendaki perbukitan Ardi Lawet, mereka tiba diGunung Panungkulan (gunung Cahya), desa Grantung,kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. Di puncak bukititu mereka mendirikan pertapaan. Dalam saat yang bersamaan, di negara Arab ada seorang mubaligh bernama Syekh Atas Angin. Ia keturunanRasulullah SAW dari Sayyidina Ali. Sesudah salatsubuh, ia mendapat ilham bahwa di sebelah timur terdapat tiga cahaya putih yang menjulang tinggi keangkasa. Maka beserta 200 pengiring, ia menempuh perjalanan mencari sumber cahaya itu. Mula-mularombongan ini singgah di Gresik kemudian merapat diPemalang, menuju Gunung Cahya. Di tempat sumber cahayaini, Syekh Atas Angin melihat R Mundingwangi sedangbertapa. “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakutuh,” sapaSyekh Atas Angin.Yang diberi salam diam saja, sebab Mundingwangi belummemeluk Islam. Keduanya kemudian terlibat dalam adukesaktian. Ternyata Mundingwangi kalah dan bersediamasuk Islam. Selanjutnya Mundingwangi diberi Ilmu Kewalian digunung Kraton yang terletak di sebelah utarapegunungan Cahya dan diberi gelar Pangeran Wali SyekhJambukarang. Konon, pada saat berlangsungnya penurunanIlmu kewalian, semua pegunungan di sekitar bukitKraton puncaknya tunduk mengarah ke gunung Kraton. Tapi ada sebuah gunung yang tidak tunduk puncaknya,maka gunung tersebut diberi nama gunung Bengkeng(membandel). Untuk menyempurnakan keislamannya, PangeranJambukarang menunaikan ibadah haji ke Mekah.Sekembalinya dari Tanah Suci ia dikenal sebagaiMubalig Agung dan diberi gelar Haji Purba. Konon, iajuga memiliki beberapa kekeramatan, pecinya dapatterbang ke angkasa, menumpuk telur di udara satupersatu tidak jatuh, menggandeng tempat-tempat air diangkasa, dan lain-lain. Sebagai rasa terima kasih, Wali Syekh Atas Angindikawinkan dengan salah seorang putrinya, NyaiRubiahbekti. Perkawinan ini melahirkan tiga putra dandua putri, Wali Mahdum Husen, Mahdum Medem, MahdumUmar, Nyai Rubiahraja, dan Nyai Rubiyahsekar. Setelah menamatkan ilmu kewalian pada Syekh AtasAngin, ia kemudian mendirikan padepokan danmenyebarkan dakwah Islam di wilayah Purbalinggadibantu Santri Agung, salah seorang santrinya.Keduanya dikuburkan berdampingan di puncak gunungCahya. Kelak, keturunan Syekh Jambukarang banyak mengabdikepada Kasultanan Demak. Pangeran Wali Makhdum Husein,salah seorang putranya, gigih mengusir tentaraPajajaran yang menyerang daerah Cahyana karenaperbedaan pandangan agama. Salah seorang cicitnya yang sangat berperan dalammenyambung silaturahmi dengan Demak adalah SyekhMahdum Wali Prakosa (Wali yang kuat sekali), yangtidak lain cucu Wali Mahdum Husein. Ia adalah pembuatsoko guru, tiang masjid Demak bersama Sunan Kalijaga.Salah satu tiang tersebut kemudian terkenal dengannama soko tatal. Ia meluruskan arah masjid Demak kekiblat dengan menggunakan palu besar. Sultan Demakmemberikan piagam penghargaan khusus kepada Syeh WaliPrakosa di Cahyana atas pengabdiannya yang besar dalammelakukan dakwah di tanah Jawa.

Makanan Khas

Mendoan

 

Makanan khas Purbalingga adalah mendoan, yang awalnya dibuat dari tempe kedelai. Keistimewaan pembuatan mendoan, diproses mulai dari saat membuat tempenya, dari awal pematangan kedelai sampai pembungkusan dari daun pisang, hingga menjadi tempe kedelai.mendoan tak bisa dibuat dari sembarang tempe. Tempe mendoan adalah tempe tipis yang dibuat melebar/meluas. Untuk membuat mendoan, tempe harus diberi tepung yang sudah tercampur garam, ketumbar dan daun bawang. Waktu penggorengan jangan terlalu lama agar terlihat tempe mendoan, bila digoreng terlalulama akan menjadi keripik.

Soto Kriyik

 

Ada juga soto Purbalingga yang terkenal enak dan murah meriah. Yang membuat soto Purbalingga enak terletak pada sambalnya yaitu sambal kacang yang pedas legit, menggunakan ketupat bukan nasi, serta ditaburi suwiran daging dan remasan krupuk. Di sini setelah daging ayam disuwir untuk soto maka tulang dada digoreng kering dan disajikan sebagai lauk soto. Rasanya kering dan kriyik-kriyik, itu sebabnya disebut sroto kriyik. Selain sroto kriyik, ada juga soto yang tak kalah nikmat hanya saja ada tambahan daun melinjo atau yang biasa disebut “so” yang menambah cita rasa unik makanan berkuah ini, yang berlokasi di pusat kota yaitu berada di desa Bojong. Soto khas lainnya biasa disebut sesuai lokasinya, seperti Soto Bancardan Soto Jatisaba.

Sate Blater

Sate Blater juga bisa menjadi menu pilihan lain yang khas dari Purbalingga. Disebut Sate Blaterkarena asal muasal sate ini dari Desa Blater, Kecamatan Kalimanah. Meski sama-sama sate ayam,Sate Blater sedikit berbeda dengan sate madura atau sate ayam lainnya. Perbedaannya terletak pada cara memasaknya. Jika pada umumnya sate dibakar saat daging masih mentah, kalau sate blater sebelum dibakar harus direndam dalam bumbu rahasia racikan khas orang-orang Desa Blater, dan saat dibakarpun masih berkali-kali dilumuri bumbu yang sama. Sehingga cita rasanya memang sangat terasa hingga gigitan terakhir. Proses memasak yang berbeda, membuat sate ini juga kuat disimpan hingga tiga hari. bahkan jika disimpan di lemari pendingin bisa lebih lama lagi.

Oleh-oleh

Kacang Mirasa

Oleh-oleh istimewa lainnya dari Purbalingga adalah kacang mirasa. Penampilannya bolehlah gosong dan mirip kacang kulit khas pedesaan. Untuk rasanya? Pasti anda tahu kalau sudah membeli dan merasakan kacang mirasa. Kebanyakan orang ketagihan untuk membeli dan membawanya sebagai oleh-oleh. Kacang mirasa berbeda dengan kacang kulit pabrikan, cara membuat kacang mirasa merendamnya pada air 1 hari 1 malam. Keesokan harinya dioleskan garam secukupnya dan dibiarkan dalam bak selama 1 hari 1 malam. Besoknya baru direndam air lagi selama 1 hari. Kemudian dijemur di bawah sinar matahari, setelah kering disangrai dengan pasir. Jadilah kacang khas Purbalingga yang renyah dan gurih.

Roti ini sebenarnya tidak berbeda dengan oleh-oleh dari Purwokerto yakni Nopia. Kedua makanan ini berasal dari bahan yang sama dan rasa yang mirip-mirip. Satu hal yang membedakan

Roti Toso

roti toso dan nopia adalah bentuk penampilannya. Bentuk unik roti toso inilah yang membuat makanan ini disebut sebagai makanan khusus untuk 17 tahun ke atas.

Kedua makanan khas daerah ngapak-ngapak ini memiliki rasa manis. Bahan baku yang digunakan adalah tepung beras, kacang hijau dan gula. Adonan dari bahan-bahan ini selanjutnya diaduk rata dan kemudian dibuat menjadi bentuk yang diinginkan.

Roti ini cukup awet dan tahan lama, jadi cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Roti toso banyak dijual di berbagai tempat penjual oleh-oleh di daerah Purbalingga dan sekitarnya. Produk ini biasa dikemas rapat dalam bungkusan plastik dengan merek yang disablon di luarnya. Dengan kemasan seperti ini maka produk roti toso ini akan tampak dari luar untuk memikat orang agar tertarik membeli dan mengkonsumsinya.

Manco Ketan

Terbuat dari adonan tepung beras ketan yang tipis. Dibentuk bulat, segi tiga ataupun kotak. Bagian tengah Manco wijen ini juga kopong. Nah bedanya dengan Manco ketan, seluruh permukaan Manco wijen dilapisi dengan gula merah cair, kemudian dilapisi lagi dengan wijen.

SHARE
Previous articleHikmah Pergaulan
Next articleHukum-hukum Islam