Mereguk Hikmah, Meneguh Takwa dan Cinta

0
Foto: Google

اَللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، 3 x

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ على ما هَدَانَا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ على ما أَوْلَانَا، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدُهُ لَا شَرِيكَ له، له الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ بيده الْخَيْرُ وهو على كل شَيْءٍ قَدِيرٌ. لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ له الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.

اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ذُرِّيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

اتَّقُوا اللَّهَ وَسِيرُوا سَيْرًا جَمِيلًا، وَلَا تُوْطِؤُوا ضَعِيفًا وَلَا تُوْطِؤُوا مُسْلِمًا، وَاقْتَصِرُوا فِي السَّيْرِ.

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang berbahagia … Pada pagi hari raya Idul Adha penuh suka cita, marilah kita bersama-sama meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah—subhanahu wa ta’ala—, dengan sebenar-benarnya takwa. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, terlebih dalam konteks momentum Idul Adha.
HIKMAH

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang berbahagia … Layak kiranya dalam kesempatan ini, sering gema takbir yang terus membahana, kita serap berbagai hikmah dianjurkannya berkurban bagi manusia. Pertama, bila pada mulanya kurban merupakan tebusan bagi Nabi Ismail—‘alaihis salam—, sebagaimana terekam dalam firman-Nya:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ (الصافات: 107)

“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar. (QS. as Shaffhat:107).”

Maka bagi kita umat Islam, kurban menjadi tebusan dari panasnya api neraka, seiring sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—:[2]

يَا فَاطِمَةُ قُومِي فَاشْهَدِي أُضْحِيَّتَك فَإِنَّ لَك بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا مَغْفِرَةً لِكُلِّ ذَنْبٍ … (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ)

“Wahai Fatimah, berdiri dan lihatlah kurbanmu, sebab sungguh bagimu dengan awal tetesan darah yang mengalir darinya ada ampunan bagi setiap dosa …” (HR. al-Hakim dan ia shahihkan)

Yang oleh Imam al-Ghazali diperjelas, bahwa maksudnya adalah semakin besar hewan kurbannya dan semakin sempurna anggota tubuhnya, maka tebusan dari nerakanya juga semakin luas.[3]

Hikmah kedua, darah dan daging kurban akan didatangkan dan dimasukkan ke timbangan amal pelakunya dan dilipatgandakan 70 kali, selaras dengan sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—:[4]

أَمَا إنَّهُ يُجَاءُ بِدَمِهَا وَلَحْمِهَا فَيُوضَعُ فِي مِيزَانِك سَبْعِينَ ضِعْفًا. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ)

“Ingatlah, sungguh darah dan dagingnya akan didatangkan (di hari kiamat) dan dimasukkan ke timbangan amalmu.

Seolah-olah tidak percaya dengan pahala kurban yang begitu besar ini Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—, perawi hadits ini bertanya penuh selidik:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لِآلِ مُحَمَّدٍ خَاصَّةً فَإِنَّهُمْ أَهْلٌ لِمَا خُصُّوا بِهِ مِنْ الْخَيْرِ، أَوْ لِآلِ مُحَمَّدٍ وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً؟

“Wahai Rasulullah, apakah pahala ini khusus bagi keluarga Muhammad, karena mereka memang keluarga yang sering diberi kebaikan special, atau juga mencakup kaum muslimin secara luas?”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pun tegas menjawab:

لِآلِ مُحَمَّدٍ خَاصَّةً وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً.

“Pahala ini khusus bagi keluarga Muhammad dan mencakup seluruh kaum muslimin secara luas.”

Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—masih penasaran, hingga menyergah:

مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ ؟

“Ajaran apa berkurban ini?”

Nabi penuh kesabaran menjawab:

سُنَّةُ أَبِيكُمْ إبْرَاهِيمَ.

“Ini ajaran moyangmu, Ibrahim.”

Di tengah perbincangan serius ini, para sahabat lain pun ikut penasaran dan menyela:

فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

“Apa keuntungan kami dalam berkurban, wahai Rasulullah?”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pun kearifan berkata:

قَالَ بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ.

“Di setiap rambut kasar dari hewan kurban terdapat kebaikan.”

Masih belum puas, para sahabat mendesak:

فَالصُّوفُ؟

“Kalau bulu-bulu halusnya?”

Penuh kesabaran Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menegaskan:

بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ. (صَحَّحَهُ الْحَاكِمُ)[5]

“Di setiap bulu halusnya (juga) terdapat kebaikan.” (HR. al-Hakim dan dishahihkannya)

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang berbahagia … Begitu jelas pahala yang sangat banyak tak terhitung dari ibadah kurban, apakah kita akan menyia-nyiakannya? Tentu tidak.

Baca Juga: Kurban 1 Kambing Untuk Sekeluarga

Hikmah ketiga, kurban dari diri sendiri, keluarga dan anak-anak yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya, dapat menghilangkan kesialan dari orang yang dikeluarkan kurbannya. Sebagaimana pengalaman spiritual Syaikh Abdul Wahab as-Sya’rani:[6]

أُخِذَ عَلَيْنَا الْعَهْدُ الْعَامُّ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نُضَحِّيَ عَنْ أَنْفُسِنَا وَعِيَالِنَا وَأَوْلَادِناَ كُلَّ سَنَةٍ وَلَا نَتْرُكَ التَّضْحِيَّةَ إِلَّا لِعُذْرٍ شَرْعِيٍّ . وَالْحِكْمَةُ فِي ذَلِكَ إِمَاطَةُ الْأَذَى عَمَّنْ ذُبِحَتْ عَلَى اسْمِهِ وَمَغْفِرَةُ ذُنُوْبِهِ.

“Telah diambil janji yang luas kepada kami dari Rasulullah Saw agar kami berkorban untuk diri, keluarga dan anak-anak kami setiap tahun. Qurban tidak kami tinggalkan kecuali karena uzur syar’i. Hikmahnya adalah hilangnya penyakit dari orang dikeluarkan kurbannya dan terampuni dosa-dosanya.”

Tentu syaratnya kurban yang dilakukan berasal dari harta yang halal.
TAKWA DAN CINTA

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang berbahagia … Tapi, apakah kita hanya terpaku dengan hitungan pahala-pahala ini? Tidakkah kita ingat kepiluan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail—‘alaihi massallam—pelaku kurban pertama di jagat raya ini? Setelah mendengar kesediaan anaknya untuk disembelih atas perintah Allah, diliputi kesedihan Nabi Ibrahim—‘alaihis sallam—membisik: “Wahai Putraku, Engkau menjadi sebaik-baiknya pertolongan dalam melaksanakan perintah Allah.”

Begitu pula, setelah berbagai usaha Sang Ayah untuk menyembelihnya gagal, Nabi Isma’il— ‘alaihis salam—berkata:

“Wahai Ayahku, tengkurapkan aku, arahkan wajahku ke tanah, karena bila melihat wajahku Engkau merasa kasihan dan tidak tega. Itu akan menghalangimu melaksanakan perintah-Nya. Begitupun diriku, melihat pisau takut dan ngeri karenanya.”

Bercermin pada kisah ini, masihkah kita berat hati melaksanakan ibadah kurban yang hanya berupa kambing, sapi atau mungkin onta? Masihkah kita menghitung-hitung pahalanya? Tentu kita selayaknya tergerak untuk membuktikan takwa dan cinta kita kepada Allah tak sebanding dengan hasrat dan cinta kita kepada selainnya, apalagi hanya harta.

Lihatlah, Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-mengorbankan putra terkasihnya demi memenuhi ketaatan total kepada Allah. Ismail-‘alaihis salam-putranya pun merelakannya demi Ridha Allah semata.

Baca juga: Kurban Untuk Non Muslim, Emang Boleh ?

Karenanya mari kita semangat berkurban, dengan hewan yang gemuk sehat secara sempurna demi menggapai ridha Allah semata. MEREGUK HIKMAH; MENEGUH TAKWA DAN CINTA.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah Kedua[7]

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتَكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Referensi:

[1] Diadopsi dari 3 Hikmah Ibadah Qurban karya K. M. Luqmanul Hakim dan Kepiluan Kurban Ibrahim dan Ismail karya K. Ahmad Gholib Basyaiban di link: aswajamuda.com

[2] Ibn Hajar al-Haitami, az-Zawajir ‘an al-Iqtiraf al-Kabair, I/45-46.

[3] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’’Ulum ad-Din, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, tth.), I/270.

[4] Al-Haitami, az-Zawajir, I/45-46.

[5] Ibid.

[6] Abdul Wahhab as-Sya’rani, Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah fi al-‘Uhud al-Muhammadiyyah, 94.

[7] Dikutip dari Khutbah Idul Adha SYUKUR NIKMAT DI KALA ‘IDUL ADHA FKSL “Forum Kajian Santri Lirboyo” karya KH. M. Hizbulloh Al Haq AlFulaini
Sumber: https://aswajamuda.com/mereguk-hikmah-meneguh-takwa-dan-cinta/