Keutamaan Qurban

0

Keutamaan Qurban

Sejarah Qurban

Ibadah Qurban tidak hanya dikhususkan kepada umat Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama saja, namun juga disyariatkan kepada umat-umat terdahulul. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ [الحج/34]

”Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka…” (al-Hajj: 34)

Sebagai contoh adalah Qurban yang dilakukan oleh dua putra Nabi Adam alaihi Salam:

إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآَخَرِ  [المائدة/27]

“..Ketika putera Adam (Habil dan Qabil) mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).”

Disebutkan oleh para ulama ahli Tafsir, bahwa Habil adalah peternak dan ia meng-Qurbankan hasil ternak terbaiknya. Hingga diterima oleh Allah dan diangkat ke surga. Sementara Qabil adalah petani dan ia meng-Qurbankan hasil panen terburuknya. Hingga tidak diterima oleh Allah.

Pada masa Nabi Ibrahim Allah memerintahkan agar putranya, Nabi Ismail, disembelih. Setelah keduanya akan melaksanakannya Allah berfirman:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ  [الصافات/107]

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat/107)

Darimana domba tersebut? Ibnu Katsir berkata:

وَهُوَ الْكَبْشُ الَّذِي قَرَّبَهُ ابْنُ آدَمَ فَتُقُبِّلَ مِنْهُ

“Itu adalah domba yangdiqurbankan Habil, putra Adam” (Tafsir Ibni Katsir 7/31)

Definisi Qurban

هِيَ مَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ تَقَرُّباً إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ يَوْمِ الْعِيْدِ إِلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ (مغني المحتاج 6/ 122)

Qurban adalah hewan ternak yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada Allah di hari raya idul Adha hingga akhir hari Tasyriq (Syaikh Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj 6/122)

Hukum Qurban

Mayoritas ulama menghukumi sunah, bukan wajib, berdasarkan ayat:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  [الكوثر/2]

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (Al-Kautsar: 2)

Juga diperkuat hadis:

ثَلاَثٌ هِيَ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَلَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَالضُّحَى

Sabda Nabi: “Ada 3 hal yang wajib bagi saya dan sunah bagi kalian; Qurban, witir, dan 2 rakaat salat Dluha” (HR Ahmad dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas)

Madzhab Syafiiyah menegaskan:

قَالَ الشَّافِعِي وَبَلَغَنَا أَنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَا لاَ يُضَحِّيَانِ كَرَاهِيَةَ أَنْ يُرَى أنَّهَا وَاجِبَةٌ (مختصر المزني مع الأم 8/ 283)

“Syafii berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar (pernah) tidak menyembelih Qurban karena khawatir akan dianggap wajib” (Mukhtashar al-Muzani 8/283)

Sementara Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Qurban hukumnya wajib bagi orang kaya, dengan dalil hadis berikut:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرُبَنَّ مُصَلاَّنَا

Artinya: “Barangsiapa yang memiliki kelebihan rezeki namun tidak menyembelih Qurban, maka janganlah mendakat ke tempat salat kami” (HR Ahmad, Ibnu Majah, ad-Daruquthni, al-Baihaqi dan al-Hakim, ia menilainya sahih dan al-Hafidz adz-Dzahabi menyetujuinya)

Qurban Menjadi Kendaraan di Akhirat

Hewan Qurban yang kita sembelih akan dikembalikan oleh Allah di hari kiamat, seperti Allah mengembalikan hewan Qurban Habil kepada Nabi Ibrahim yang telah dijelaskan di awal bab. Dalam sebuah hadis:

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا

“Tidak ada amal manusia yang lebih dicintai oleh Allah di hari qurban dari pada mengalirkan darah hewan. Sebab hewan itu akan datang di hari kiamat dengan tanduknya, rambutnya dan kaki-kakinya (HR al-Turmudzi, hadis dhaif)

Syekh Al-Mubarakfuri berkata:

يَعْنِي أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ يَوْمَ الْعِيدِ إِرَاقَةُ دَمِ الْقُرُبَاتِ . وَأَنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا كَانَ فِي الدُّنْيَا مِنْ غَيْرِ نُقْصَانِ شَيْءٍ مِنْهُ لِيَكُونَ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ أَجْرٌ ، وَيَصِيرُ مَرْكَبُهُ عَلَى الصِّرَاطِ اِنْتَهَى .

Ibadah paling utama di hari raya Idul Adha adalah menyembelih hewan Qurban. Ia akan datang di hari kiamat seperti sedia kala di dunia, tanpa ada yang kurang sedikitpun, agar masing-masing organ tubuhnya menjadi pahala dan menjadi kendaraannya di atas Shirat” (Tuhfat Al-Ahwadzi, 4/145)

Onta Dan Sapi Untuk 7 Orang

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Di tahun Hudaibiyah kami menyembelih onta untuk 7 orang dan menyembelih sapi untuk 7 orang” (HR Muslim)

Kambing Untuk 1 Orang

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِىَّ كَيْفَ كَانَتِ الضَّحَايَا فِيكُمْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِى عَهْدِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَ كَمَا تَرَى.

Atha’ bin Yasar bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari: “Bagaimanakah Qurban kalian di masa Nabi Saw?”. Abu Ayyub menjawab: “Seseorang di masa Nabi Saw menyembelih 1 kambing untuk dirinya dan keluarganya. Mereka makan dari daging kambing tersebut, dan mereka juga bersedekah dari daging tersebut. Kemudian ini menjadi kebanggaan bagi mereka sebagaimana kau lihat” (Riwayat Thabrani dalam al-Kabir No 3920 dan Ibnu Majah No 3138)

Riwayat ini menjadi khilafiyah di kalangan para ulama. Seperti yang disampaikan oleh Imam At-Tirmidzi:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ. وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لاَ تُجْزِئُ الشَّاةُ إِلاَّ عَنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَهُوَ قَوْلُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ وَغَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ.

“Seperti inilah (1 kambing untuk 1 keluarga) yang diamalkan oleh sebagian ulama, yaitu pendapat Ahmad bin Hanbal dan Ishaq Rahuwaih. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa 1 kambing tidak cukup kecuali hanya untuk 1 orang saja. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarak dan ulama lainnya” (Sunan At-Tirmidzi 6/136)

Diantaranya juga menurut Madzhab Syafiiyah. Ibn Hajar al-Haitamimemberi landasan ijtihadnya:

أَنَّ الْقَصْدَ مِنَ التَّضْحِيَةِ فِدَاءُ النَّفْسِ وَالشَّارِعُ في الشَّاةِ لَمْ يَجْعَلِ الْفِدَاءَ إلَّا كَامِلًا.

“Sungguhnya tujuan utama kurban adalah menebus diri, dan syariat tidak menjadikan tebusan seseorang dalam satu ekor kambing kecuali secara sempurna.”(al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra II/52)

Ulama Syafiiyah mengarahkan riwayat diatas sebagai kongsi dalam pahala:

لِنَصِّ الْبُوَيْطِيِّ عَلَى أَنَّ مَنْ نَوَاهَا عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ أَجْزَأَهُ عَلَى الشَّرِكَةِ فِي الثَّوَابِ لَا الْأُضْحِيَّةَ لِاسْتِحَالَةِ وُقُوعِهَا عَنْ كُلِّهِمْ عَنْ كُلِّ جُزْءٍ مِنْ شَاةٍ وَلَا أَحْسَبُ فِيهِ خِلَافًا ا هـ

“Karena ada penjelasan dari Al-Buwaithi (murid Imam Syafii) bahwa orang yang niat 1 kambing untuk dirinya dan keluarganya menjadi sah dalam berbagi pahala saja, bukan untuk Qurban. Sebab mustahil 1 kambing secara utuh dari masing-masing bagiannya untuk diterima semua keluarga. Dan saya kira tidak terjadi khilaf dalam masalah ini” (Hasyiah Al-Ubbadi, ala Tuhfat Al-Muhtaj 41/45)

Qurban Kolektif

عَنْ أَبِي اْلأَسَدِ السُّلَمِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ كُنْتُ سَابِعَ سَبْعَةٍ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَرَنَا نَجْمَعُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنَّا دِرْهَماً فَاشْتَرَينَا أُضْحِيَّةً بِسَبْعِ الدَّرَاهِمِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ لَقَدْ أَغْلَيْنَا بِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَفْضَلَ الضَّحَايَا أَغْلاَهَا وَأَسْمَنُهَا (رواه احمد)

“Saya adalah orang ketujuh bersama Rasulullah Saw, kemudian Beliau memerintahkan agar kami mengumpulkan uang Dirham, kemudian kami membeli hewan Qurban dengan 7 Dirham tadi. Kami berkata: “Ya Rasulallah, kami membeli hewan Qurban termahal”. Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya hewan Qurban yang terbaik adalah yang paling mahal dan gemuk” (HR Ahmad no 15533, al-Hafidz al-Haitsami tidak mengomentari status hadis tersebut dan ia memperbolehkan hal tersebut)

Arisan Qurban

Masalah arisan berikut ini disampaikan oleh Imam Qulyubi dalam Bab Memberi Hutang. Dengan demikian orang yang ikut bayar arisan dan mengambil bagiannya statusnya adalah berhutang, sampai ia membayar hingga selesai:

فَرْعٌ : الْجُمُعَةُ الْمَشْهُورَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِأَنْ تَأْخُذَ امْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ أَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ ، إلَى آخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ .

“Perkumpulan Jumat yang sudah populer diantara para wanita, dengan cara seorang wanita dari golongan mereka mengambil bagian tertentu setiap Jumat atau setiap bulan, lalu diberikan bergilir kepada wanita yang lain sampai anggota yang terakhir, hukumnya adalah boleh. Seperti yang dikatakan oleh Al-Iraqi” (Hasyiah Qulyubi 7/338)

Qurban boleh dilakukan dalam bentuk arisan seperti diatas, baik perorangan untuk menyembelih kambing, atau 7 orang untuk menyembelih sapi, hingga dari semua anggota dapat melaksanakan Qurban.

1 Sapi Beda Niat

Jika dari 7 orang yang tergabung dalam penyembelihan sapi saat Idul Adha ada yang niat melakukan akikah, maka boleh:

وَتَجُوزُ مُشَارَكَةُ جَمَاعَةٍ سَبْعَةٍ فَأَقَلَّ فِي بَدَنَةٍ أَوْ بَقَرَةٍ سَوَاءٌ كَانَ كُلُّهُمْ عَنْ عَقِيقَةٍ أَوْ بَعْضُهُمْ عَنْ أُضْحِيَّةٍ أَوْ لَا

“Boleh bagi 7 orang atau kurang untuk berkongsi menyembelih onta atau sapi. Baik keseluruhan berniat akikah, atau sebagiannya berniat Qurban” (Hasyiyah Qulyubi 16/134)

Qurban Sekaligus Aqiqah

وَعِنْدَ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ قَتَادَةَ ” مَنْ لَمْ يَعُقَّ عَنْهُ أَجْزَأْتهُ أُضْحِيَّتُهُ ” وَعِنْدَ اِبْنِ أَبِي شَيْبَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِينَ وَالْحَسَنِ ” يُجْزِئُ عَنْ الْغُلَامِ الْأُضْحِيَّةُ مِنْ الْعَقِيقَةِ

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah: “Barang siapa yang belum akikah, maka hewan qurban cukup baginya”. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkanIbnu Sirin dan Hasan: “Qurban telah mencukupi dari akikah anak” (Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath Al-Bari 15/397)

Dalam madzhab Syafiiyah terjadi perbedaan pedapat:

(مَسْئَلَةٌ) لَوْ نَوَى الْعَقِيْقَةَ وَالضَّحِيَّةَ لَمْ تَحْصُلْ غَيْرُ وَاحِدٍ عِنْدَ حج وَيَحْصُلُ الْكُلُّ عِنْدَ مر.

“Menurut Ibnu Hajar tidak dapat mencukupi satu kambing untuk akikah dan Qurban, sementara menurut Imam Ramli diperbolehkan” (Itsmid al-Ainain fi ikhtilaf Syaikhain 77)

Qurban Untuk Mayit

عَنْ عَلِىٍّ أَنَّهُ كَانَ يُضَحِّى بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنِ النَّبِىِّ وَالآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ أَمَرَنِى بِهِ يَعْنِى النَّبِىَّ فَلاَ أَدَعُهُ أَبَدًا.

”Ali menyembelih dua domba, yang satu atas nama Nabi Muhammad Saw (dan beliau telah wafat), dan yang kedua untuk dirinya sendiri. Ketika ditanya tentang hal ini, Sayidina Ali berkata: Rasulullah Saw yang telah memerintahkan hal ini pada saya, dan saya tidak pernah meninggalkannya selamanya” (HR al-Turmudzi No 1574)

وَقَدْ رَخَّصَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ يُضَحَّى عَنِ الْمَيِّتِ وَلَمْ يَرَ بَعْضُهُمْ أَنْ يُضَحَّى عَنْهُ. وَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَحَبُّ إِلَىَّ أَنْ يُتَصَدَّقَ عَنْهُ وَلاَ يُضَحَّى عَنْهُ وَإِنْ ضَحَّى فَلاَ يَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا وَيَتَصَدَّقْ بِهَا كُلِّهَا. قَالَ مُحَمَّدٌ قَالَ عَلِىُّ بْنُ الْمَدِينِىِّ وَقَدْ رَوَاهُ غَيْرُ شَرِيكٍ. قُلْتُ لَهُ أَبُو الْحَسْنَاءِ مَا اسْمُهُ فَلَمْ يَعْرِفْهُ. قَالَ مُسْلِمٌ اسْمُهُ الْحَسَنُ(رواه الترمذى)

Tirmidzi berkata: “Sebagian ulama memberi keringanan untuk menyembelih hewan Qurban bagi mayit, namun ulama yang lain tidak memperbolehkannya. Abudllah bin Mubarak berkata: Saya lebih senang kalau disedekahkan atas nama mayit, bukan disembelihkan Qurban atas nama mayit. Jika di-Qurbankan maka tidak boleh memakannya sedikitpun dan bersedekah keseluruhannya”.

Imam Nawawi juga menjelaskan:

وَهَذَا الْقِيَاسُ يَقْتَضِي جَوَازَ التَّضْحِيَةِ عَنِ الْمَيِّتِ لِاَنَّهَا ضَرْبٌ مِنَ الصَّدَقَةِ وَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوْ الْحَسَن الْعُبَّادِي جَوَازَ التَّضْحِيَةِ عَنِ الْغَيْرِ وَرَوَى فِيْهِ حَدِيْثًا لَكِنْ فِي التَّهْذِيْبِ أَنَّهُ لَا تَجُوْزُ التَّضْحِيَةُ عَنِ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ وَكَذَلِكَ عَنِ الْمَيِّتِ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ أَوْصَى بِهِ.

Secara qiyas, boleh qurban atas nama mayit, sebab termasuk jenis sedekah, dan Abu Hasan Al-Ubbadi membolehkan secara mutlak untuk Qurban atas nama orang lain. Menurut pendapat lain tidak boleh jika tidak ada izin atau wasiat, baik dari orang lain atau mayit (al-Raudhah 2/376)

Ditulis Oleh :

Ust. Ma’ruf Khozin

Dewan Pakar Aswaja NU Center PWNU Jatim