Tidak Menyembelih Kurban untuk Diserahkan Kepada Fakir/Miskin Sebagai Modal Usaha yang Lebih Produktif

0

Pertanyaan:
Bagaimana
hukumnya tidak menyembelih hewan kurban dan membiarkan hidup untuk diserahkan kepada fakir/miskin sebagai modal usaha yang lebih produktif?

Jawaban:
Tidak boleh membiarkan hewan kurban tetap hidup untuk diserahkan kepada fakir/miskin sebagai modal usaha yang lebih produktif. Akan tetapi menurut ba’dh al-Hanafiyah, jika hewan ditahan hingga melewati ayyamat Tasyriq, maka hewan itu wajib disedekahkan hidup-hidup.

Keterangan, dari kitab:

Hasyiyah Qulyubi[1]

وَجَوَّزَ بَعْضُهُمْ لِمَنْ يَأْخُذُهُ التَّصَرُّفَ بِالْبَيْعِ وَغَيْرِهِ وَهُوَ وَجِيْهٌ إِنْ كَانَ الَّذِيْ أَخَذَهُ مِنَ الْفُقُرَاءِ كَمَا فِي اللَّحْمِ وَإِلاَّ فَلاَ فَلْيُرَاجِعْ

Sebagian ulama memperbolehkan orang yang memperoleh daging kurban untuk mengelola (sesudahnya), dengan menjual atau lainnya. Pendapat tersebut sangat kuat, jika pihak yang mengambil tersebut dari kalangan fakir miskin seperti halnya dalam pengambilan dagingnya. Jika bukan kalangan fakir, maka tidak diperbolehkan. Silahkan merujuk kembali (permasalahan tersebut).
__________________

[1] Qulyubi, Hasyiyah Qulyubi pada Hasyiyata Qulyubi wa ‘Umairah, (Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah, t. th.), Jilid IV, h. 254.