Kebiasaan Saling Mengambil Bumbu Dapur Milik Tetangga Tanpa Izin, Bagaimana Hukumnya ?

0
Foto : Google

Saling berbagi adalah hal yang wajar dan biasa terjadi dalam kehidupan bertetangga. Hal ini dapat memupuk kerukunan dan rasa persaudaraan. Namun, apa jadinya jika dalam bertetangga ada kebiasaan si A mengambil bumbu dapur tanpa izin terlebih dahulu dengan pemilik rumah (B) dan begitupun sebaliknya si B terkadang juga mengambil bumbu dapur di rumah si A tanpa izin? Berikut ini penjelasan mengenai hal tersebut.

Batasan Boleh mengambil harta orang lain tanpa izin pemiliknya terlebih dahulu yang penting ada Dzon / dugaan kuat ridlonya pemilik. Tentunya disertai adanya qorinah terhadap dugaan kuat ridlonya tersebut semisal sudah mentradisi atau ia seorang yang dermawan. Namun, juga harus memperhitungkan keadaan pemiliknya, dikira-kira mengambil barang orang lain tersebut, sebab setiap orang itu berbeda-beda terlebih ukuran barang yang diambil.

Jadi ada beberapa syarat boleh mengambil barang orang lain:

  1. Ada dugaan kuat ridlonya pemilik
  2. Lihat Qorinahnya seperti:
  3. Lihat keadaan dan tabiat pemiliknya
  4. Lihat barang yang di ambil
  5. Sesuaikan kadar barang yang di ambilnya

Jika tidak memenuhi seluruh syarat di atas maka haram mengambilnya, karena hal itu seperti asal ambil dan asal menduga saja (mencuri) dan hal ini tidak di benarkan.

Jika ternyata dugaannya salah yaitu pemiliknya tidak ridlo dan meminta di kembalikan harta yang di ambilnya maka ia wajib bertanggung jawab untuk mengembalikan atau mengganti barang yang di ambilnya. Wallahu a’lam. [Mujawib : Aqilah Auliya Al-ardany]

– Fatawi al Kubro 4/116 :

فمتى غلب على ظنه إن المالك يسمح بأخذ شيء معين من ماله جاز له أخذه ثم إن بان خلاف ظنه لزمه ضمانه

– Hasyiyah Baijuri 2/128 :

وعلم من ذالك أنه يجوز للإنسان أن يأخذ من مال غيره ما يظن رضاه به من دراهم وغيرها ويختلف ذالك باختلاف الناس والأموال فقد يسمح لشخص دون آخر وبمال دون آخر وينبغى له مراعاة النصفة مع الرفقة فلا يأخذ الا ما يخصه لا ما يزيد عليه من حقهم الا أن يرضوا بذالك عن طيب التفس لا عن حياء

– I’anah al Tholibin 3/328-329 :

(قوله ويجوز للإنسان أخذ من نحو طعام صديقه) اى يجوز له أن يأخذ من طعام صديقه وشرابه ويحمله الى بيته قال فى التحفة وإذا جوزنا له الأخذ فالذى يظهر أنه إن ظن الأخذ بالبدل كان قرضا ضمينا او بلا بدل توقف الملك على ما ظنه (قوله ويختلف) اى ظن الرضا وعبارة غيره وتختلف قرائن الرضا فى ذالك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال

 

Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB