Tertawa yang Menyebabkan Disunnahkannya Wudhu

0
Tertawa Yang Menyebabkan Disunnahkannya Wudhu
Ketika seseorang tertawa terbahak-bahak dalam shalat maka baginya sunnah wudhu lagi karena dalam masalah ini madhab hanafi menghukumi shalat orang tersebut telah batal. (al khuruj minal khilaf/keluar dari perkhilafan).
– Al-Wasiith I/313 :
الوسيط في المذهب ج 1 – الصفحة 313 محمد بن محمد بن محمد الغزالي أبو حامد سنة الولادة 450/ سنة الوفاة 505
والخارج من غير السبيلين بالفصد والحجامة والقيء والقهقهة في الصلاة وغيرها كل ذلك لا ينقض الوضوء خلافا لأبي حنيفة ولا وضوء مما مسته النار خلافا لأحمد.
“Dan akibat keluarnya sesuatu yang bukan dari salah satu dua jalan (kemaluan dan dubur), bekam, muntah, tertawa dalam shalat dan di luar shalat, kesemuanya tidak membatalkan wudhu (menurut syafi’iyyah) berbeda menurut Imam Abu Hanifah. Dan tidak perlu wudhu akibat memakan makanan yang dimasak api berbeda menurut imam Ahmad.
– Tuhfah al-Muhtaaj II/98 :
الكتاب : تحفة المحتاج في شرح المنهاج ج 2 – الصفحة 98 مصدر الكتاب : موقع الإسلام
قَالَ الْكُرْدِيُّ قَوْلُهُ وَالْقَهْقَهَةُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ فِي الْإِيعَابِ قَضِيَّةُ مَا تَقَرَّرَ بَلْ صَرِيحُهُ جَوَازُ قَطْعِ الصَّلَاةِ وَلَوْ فَرْضًا لِيَتَوَضَّأَ وَلَوْ لَمْ يَظْهَرْ فِيهَا حَرْفَانِ وَيُوَجَّهُ بِأَنَّ تَحْصِيلَ الصَّلَاةِ بِطُهْرٍ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ لَا يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ عُذْرًا مُجَوِّزًا لِلْقَطْعِ كَتَحْصِيلِ الْجَمَاعَةِ انْتَهَى ا هـ .
Berkata al-Kurdy “keterangan tertawa dalam shalat, Pengarang al-Ii’aad berkata, melihat keterangan di atas artinya diperkenankan memutuskan meskipun shalat fardhu untuk menjalankan wudhu meskipun tidak keluar darinya dua huruf (batasan ketawa yang membatalkan shalat), argumennya adalah bahwa menjalani shalat dalam keadaan suci adalah suatu keharusan yang telah disepakati ulama yang tentunya dapat dijadikan sebuah udzur untuk memutuskan shalat seperti dalam hal memutuskan shalat untuk mendapatkan shalat jamaah.
Apakah ada keterangan orang yang tertawa ketika sholat sampai 3 X wajib mengulangi wudlu? buka kitab BIDAYATUL MUJTAHID juz 1-2 hal 36 di mana keterangannya sebagai berikut :
بسم الله الرحمن الرحيم  قال المصنف رحمه الله :
المسئلة السادسة : وشد أبو حنيفة فأوجب الوضوء من الضحاك في الصلاة لمرسل أبي العالية, وهو أن قوما ضحكو في الصلاة فأمر النبي ص.م بإعادة الوضوء والصلاة .ة ورد الحجمهور هذا الحديث لكونه مرسلا ولمخالفته للأصول, وهو أن يكون شيئ ماينقض الطهارة في الصلاة ولاينقضها في غير الصلاة ,وهو مرسل الصحيح.
Syeh Al-imam Al-qodhi Abu Al-walid muhammad bin Ahmad bin Rosyid Al-Qurtuby Al-Andaluly berkata dalam kitabnya : Termasuk qoul syadh nya Imam Abu Hanifah yang mewajibkan wudlu ketika tertawa pada waktu sholat. Hal ini bersandar pada keterangan hadits mursalnya Abi ya’la yang menerangkan suatu ketika ada seseorang yang tertawa pada waktu sholat kemudian Nabi SAW memerintahkan untuk mengulangi wudlu dan sholat. Keterangan yang demikian itu bertolak belakang dengan pendapat jumhurul ulamak dengan alasan bahwa hadits tersebut mursal. Wallohu a’lam.

Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB