Bagaimana Hukum Menggunakan Kosmetik dengan Ekstrak Plasenta Manusia ?

0
Foto : Google

Wanita menggunakan kosmetik bukanlah hal yang baru lagi. Berbagai macam merk, baik dari dalam dan luar negeri membanjiri pasar kosmetik di Indonesia. Komposisi produk kosmetik itu ada yang berbahan alami dan ada yang menggunakan bahan kimia murni. Yang sangat mengejutkan, ada produk kosmetik yang menggunakan “human placentone extract”. Apa itu “human placentone extract” ? Dari arti katanya adalah ekstrak plasenta manusia.  Dalam dunia kedokteran, plasenta dianggap bisa sebagai stem cell (sel punca) yang bisa membuat sel2 pengganti di tubuh saat kita sakit dan menghaluskan kulit. Oleh karena itu, di Singapura ada bank sel plasenta.

Biasanya “human placentone extract” banyak digunakan untuk pembuatan krim-krim pemutih dan beberapa jenis obat-obatan. Konsumen pun tidak tahu, ekstrak plasenta manusia itu menggunakan janin yang telah gugur atau digugurkan. Lalu, bagaimanakah hukum menggunakan kosmetik dengan bahan “human placentone extract” ?

وَلاَ يَجُوزُ انْ يَقْطَعَ مِنْ مَعْصُومِ غِيْرِهِ بِلاَ خِلاَفٍ وَلَيْسَ الغَيْرُ انْ يَقْطَعَ مِنْ أعْضَاءِهِ شَيْئًا لِيَدْفَعَهُ إِلَى المُضْطَرِّ بِلاَ خِلاَفٍ صَرَحَ بِهِ إِمَامُ الحَرَمَيْنِ وَالأَصْحَابُ.

Dan tidak boleh memotong anggota badan yang dihormati dari orang lain, tanpa ada perbedaan pendapat. Dan tidak boleh orang lain memotong sesuatu dari anggota-anggota badannya untuk diberikan kepada orang yang sangat memerlukannya, tanpa ada perbedaan pendapat. Imam Haromain dan pendukung madzhab Syafi’i menjelaskannya. [ Kitab Al Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab juz 9 halaman 45 ].

(وَيَحْرُمُ قَطْعُهُ) اى البَعْضِ مِنْ نَفْسِهِ (لِغَيْرِهِ) وَلَو مُضْطَرًّا مَالَمْ يَكُنْ ذَلِكَ الغَيْرُ نَبِيًّا فَيَجِيْبُ لَهُ ذَلِكَ.

(Dan haram memotongnya) yaitu sebagian dari dirinya (untuk orang lain) meskipun orang lain tersebut sangat memerlukannya, selain orang lain tersebut bukan nabi. Jika nabi, wajib memotongnya untuk beliau. [ Kitab Nihayatul Muhtaj Syaroh Al-Minhaj juz 8 halaman 163 ].

وَعِبَارَةُ البَرْمَوِيِّ: أمَّا المَشِيْمَةُ المُسَمّاَةُ بِالخَلاَصِ فَكَالجُزْءِ لأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنَ الوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ وَأَمَّاالمَشِيْمَةُ الَّتِى فِيْهَا الوَلَدُ فَلَيْسَتْ جُزْاءً مِنَ الأُمِّ وَلاَ مِنَ الوَلَدِ.

Dan ibarat dari Al-Barmawi adalah sebagai berikut: Adapun ari-ari yang dinamakan tembuni maka adalah seperti badan, karena dia dipotong dari anak yang lahir, maka dia adalah bagian dari anak. Dan ari-ari yang janin berada di dalamnya (tempat janin dalam kandungan). Maka dia bukan bagian dari ibu dan bukan pula bagian dari anak. [ Hasyiyah Asy Seikh Sulaiman Al-Jamal Syarah Al-Minhaj juz 2 halaman 190 ].

فتاوى الشرعية للشيخ حسنين مخلوف /195

(مسألة 89) هل يجوز شرعا الإنتفاع بدم الإنسان بنقله من الصحيح الى المريض لإنقاذ حياته ؟

(الجواب) الدم وان كان محرما بنص القرآن الا ان الضرورة الملجئة الى التداوي به تبيح الإنتفاع به في العلاج ونقله من شخص لآخر، وقد ذهب جمع من الفقهاء الى جواز التداوي بالمحرم والنجس اذا لم يكن هناك ما يسدّ مسدّه من الأدوية المباحة الطاهرة، فاذا راى الطبيب المسلم الحاذق ان انقاذ حياة المريض متوقف على الإنتفاع بالدم، جاز التداوي به شرعا، والضرورة تبيح المحظورات، وما جعل عليكم في الدين من حرج، والله اعلم

Kesimpulan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih :

  1. Haram hukumnya, karena bagian tubuh manusia tidak boleh dimanfaatkan selaras dengan prinsip penghormatan kepada karomah insaniyyah.
  2. Menurut para ahli fikih dari madzhab Hambali diperbolehkan, karena bisa diambil manfaat oleh sesama manusia, seperti kulit badan manusia karena kondisi darurat.
  3. Khusus penggunaan plasenta (al-masyimah) setelah terlepas dari rahim dan bayinya, boleh dimanfaatkan karena bukan lagi berstatus sebagai bagian manusia dan tanpa dimanfaatkanpun pasti hancur (mustahlak).

Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB