Laki-laki Bertelanjang Dada, Bagaimanakah Hukumnya?

0
Foto : Google
Aurat secara bahasa berasal dari kata “araa” dari kata tersebut muncul derivasi kata bentukan baru dan makna baru pula. Bentuk ‘awira (menjadikan buta sebelah mata), ‘awwara (menyimpangkan, membelokkan dan memalingkan), a’wara (tampak lahir atau auratnya), al-‘awaar (cela atau aib), al-‘wwar (yang lemah, penakut), al-‘aura’ (kata-kata dan perbuatan buruk, keji dan kotor), sedangkan al-‘aurat adalah segala perkara yang dirasa malu.
Pendapat lain juga dinyatakan bahwa pengertian aurat adalah sesuatu yang terbuka, tidak tertutup, kemaluan, telanjang, aib dan cacat. Artinya aurat dapat dipahami sebagai sesuatu yang oleh seseorang ditutupi karena merasa malu atau rendah diri jika sesuatu itu kelihatan atau diketahui orang lain. Sehingga aurat dapat dipahami sebagai sesuatu yang dapat menjadikan malu, aib atau cacat bagi seseorang baik dari perkataan atau perbuatannya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa aurat perempuan adalah seluruh badannya, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Sedangkan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai dengan lutut. Namun, sering sekali kita melihat laki-laki yang keluar rumah dengan bertelanjang dada. Bagaimanakah hukumnya mengenai hal tersebut ?

Anggota tubuh antara pusat dan lutut adalah aurat pria saat ia shalat, bersama pria lain dan saat bersama wanita mahramnya, namun saat ia bersama wanita lain diwajibkan baginya juga menutupi seluruh anggauta tubuhnya. Pendapat lain mengatakan wajah pria bukanlah aurat saat bersama wanita lain kecuali bila dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

Dengan demikian haram bagi pria membuka dadanya di hadapan wanita lain dan bagi wanita tersebut juga diharamkan melihatnya namun terdapat pendapat mengatakan boleh melihat selain anggota antara pusar dan lututnya dengan jaminan tidak mengakibatkan rangsangan atau fitnah.

– Nihayah az-Zain I/47 :

وحاصل القول فيما يتعلق بالعورة أن الرجل له ثلاث عورات إحداها ما بين سرته وركبته وهي عورته في الصلاة ولو في الخلوة وعند الذكور وعند النساء المحارم

ثانيتها السوءتان أي القبل والدبر وهي عورته في الخلوة

ثالثتها جميع بدنه وشعره حتى قلامة ظفره وهي عورته عند النساء الأجانب فيحرم على المرأة الأجنبية النظر إلى شيء من ذلك ولو علم الشخص أن الأجنبية تنظر إلى شيء من ذلك وجب حجبه عنها

ولسنا نقول إن وجه الرجل في حقها عورة كوجه المرأة في حقه بل هو كوجه الصبي الأمرد في حق الرجل فيحرم النظر عند خوف الفتنة فقط فإن لم تكن فتنة فلا إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات ولو كان وجوه الرجال عورة في حق النساء لأمروا بالتنقيب أو منعوا من الخروج إلا لضرورة

Kesimpulan pembahasan tentang aurot lelaki adalah, lelaki punya tiga hal dalam aurat :

  1. Auratnya adalah antara pusar dan lutut, yaitu aurotnya dalam shalat, di sesama lelaki, dan saat wanita mahromnya sendiri.
  2. hanya kubul dan duburnya saja, yaitu saat dia sendirian, contoh ketika mandi di kamar mandi.
  3. Adalah semua badannya, sampai rambut dan kukunya, yaitu aurotnya di saat ada wanita lain/ajnabiy

Maka haram bagi wanita untuk melihatnya. Jika ada orang yang tahu, bahwa akan ada wanita yang akan melihatnya, maka ia wajib menutupinya. Jika laki-laki bertelanjang dada dan ia sudah tahu bahwa di depan rumahnya banyak wanita lewat, maka ia wajib menutup badannya, tidak boleh dia telanjang dada di situ. Namun,  berbeda jika hanya wajah maka wajah bukan aurat.

– Tuhfah al-Habiib II/184 :

وكذا الرجل له ثلاث عورات : عورة في الصلاة وقد تقدمت وهي أيضاً عورته عند الرجال ومحارمه من النساء ، وعورة النظر وهي جميع بدنه بالنسبة للأجنبية ، وعورة الخلوة السوأتان فقط على المعتمد زي

Begitu pula seorang pria, baginya memiliki tiga aurat :

  1. Aurat Shalat merupakan aurat yang wajib ditutupi saat menjalankan shalat. Aurat ini terdiri dari  anggauta tubuhnya antara pusat dan lutut dan ini juga auratnya saat bersama sesama pria dan wanita-wanita mahramnya.
  2. Aurat Nadhrah merupakan aurat yang harus ia tutupi dari pandangan wanita lain yakni keseluruhan tubuhnya dinisbatkan pada wanita lain (bukan mahramnya).
  3. Aurat Khalwah merupakan auratnya saat ia sendirian yakni dua anggauta cabulnya (kemaluan dan dubur) menurut pendapat mu’tamad (yang bisa dijadikan pegangan).

Buka juga keterangan di Kitab lain :

– Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khothiib IV/79,

– Hawaasyi as-Syarwaany II/112

– Tuhfah al-Muhtaaj VI/246

– Umdatussalik wa uddatunnasik. Kitab Nikah hal 213 :

وأما نظرها إلى غير زوجها ومحرمها فحرام كنظره إليها، وقيل يحل أن تنظر منه ما عدا عورته عند الأمن

Dan adapun melihatnya seorang wanita kepada selain suami dan mahramnya adalah haram sebagaimana melihatnya laki-laki kepadanya. Namun ada pendapat pula bahwa halal melihat selain auratnya (antara pusar dan lutut) ketika aman dari fitnah (syahwat termasuk fitnah).

.ويحرم عليها النظر الى الرجل عند خوف الفتنة قطعا      روضة الطالبين للنووي

Wanita haram melihat lelaki saat merasa dirinya akan tergoda, apalagi merangsang.

Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB