Wisata Ziarah Tegal

0

Makam Al-Haddad

Kota Tegal / Tegal Barat / Kraton

Makam Al-Haddad TegalMuhammad bin Thohir al-Haddad lahir di kota Geidun, Hadramaut, Yaman pada tahun 1838 M yang kemudian hijrah ke Indonesia. Abdullah bin Hasan bin Husein al-Haddad, cicit atau generasi ke 3 dari Habib Muhammad bin Thohir menceritakan bahwa buyutnya yakni Habib Thohir merupakan ulama tersohor dari Yaman yang kerap melakukan Syiar Islam di India, Pakistan dan negara-negara Arab.

Kedua anak dari Habib Thohir ini berdakwah di Indonesia. Yaitu: Al-Habib Husein bin Muhammad Al Haddad di Jombang dan Tuban dan Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad di Bogor. Sehingga beliau datang ke Indonesia selain untuk bertemu dengan anak – anaknya, juga untuk berdakwah dan berdagang. Salah satu yang menonjol dari Habib Muhammad bin Thohir yaitu perilakunya yang alim dan dermawan [1].

Tidak lama beliau berada di Indonesia, Habib Thohir sakit dan meninggal di Kota Tegal pada usia 43 tahun. Tepatnya 18 Rajab 1316 H /1885 M. Makamnya berada di sebelah selatan pelataran masjid. Disebelah makam beliau dimakamkan juga putra pertama beliau, Habib Husain. Pada pelataran luar pemakaman utama, terdapat juga makam cucu-cucu beliau seperti Habib Hasan.

Peringatan Khaul jatuh pada hari ke 15 bulan Sya’ban dimulai pada malam hari. Di setiap peringatan Khaulnya, selalu ramai dikunjungi oleh peziarah baik dari Tegal, luar kota bahkan dari luar negeri yang jumlahnya hingga ratusan peserta khaul yang berpakaian serba putih. Pada acara tersebut selalu dibacakan do’a bersama dan sejarah beliau. Bahkan ada hidangan khusus bagi warga yang menghadiri khaul, yaitu Nasi Kebuli.

Makam Gendowor

Kabupaten Tegal / Adiwerna / Tembokluwung

Makam Gendowor TegalNama aslinya adalah Ki Pranantaka, hidup pada jaman kekuasaan Sunan Amangkurat II. Gendowor merupakan orang kepercayaan Adipati Martalaya dan secara tidak langsung juga menjadi orang kepercayaan Sunan Amangkurat II. Beliau pernah diperintah oleh Sunan Amangkurat II untuk mencari kembang Wijayakusuma di Nusakambangan. Perintah tersebut berhasil dijalankan dengan baik dan akhirnya pada suatu saat beliau diberi gelar Raden Harya Sindureja oleh Sunan Amangkurat II.

Gendowor dan Adipati Martalaya mempunya hubungan dekat, selain sebagai orang kepercayaan, beliau juga dipercaya untuk mengurus kuda sang adipati. Pandangan beliau juga sejalan dengan Adipati Martalaya yang tidak setuju adanya kerjasama Mataram dengan kompeni Belanda. Gendowor juga dikenal mempunyai pribadi yang polos, jujur, dan berhati mulia . Karena sifatnya itulah beliau pernah dipercaya oleh Sunan Amangkurat II sebagai pembuka jalan saat Sunan Amangkurat II pergi ke Jepara.

Setelah Adipati Martalaya wafat pada 17 Januari 1678, Tegal dimpinpin oleh Raden Harya Sindureja selama tiga tahun. Selama tiga tahu itu, beliau melakukan pengembangan ekonomi pertanian dengan membuka dan memperluas lahan pertanian.

Pada tahun 1680, Raden Harya Sindureja wafat, menurut Ki Sumarno Martopura dalam bukunya Tegal Sepanjang Sejarah (Ki Sumarno Martopuro, 1984/ 2003), beliau tewas ditembak Belanda di Tembok Banjaran, Kecamatan Adiwerna dan dimakamkan di Tembokluwung.

Jalan masuk menuju makam ada si samping selatan Polsek Adiwerna lurus ke timur hingga menemui perempatan kecil lalu belok ke selatan hingga menemukan pemakaman dengan pepohonan rindang di sisi kanan jalan.

Pemakamannya cukup sederhana, tidak berteras-teras seperti “makam orang penting” lainnya. Namun yang membedakannya adalah dari cungkupnya. Terdapat dua buah bangunan bercungkup, yang satu atau yang sebelah timur terdapat makam sesepuh desa yang disegani dengan hiasan kelambu putih, sedangkan Makam Gendowor hanya cungkup sederhana, berlantaikan keramik putih dan menggunakan pagar bambu seadanya. Dalam satu cungkup terdapat dua buah makam, yang satu Makam Gendowor sendiri, dan yang satunya lagi menurut warga sekitar adalah makam istrinya.

Petilasan Adipati MartalayaSebelah timur Makam Gendowor terdapat sebuah makam yang menurut warga sekitar merupakan petilasan jejak kaki Adipati Martalaya. Petilasan yang berbentuk makam tersebut cukup dikramatkan warga, karena ketika kami mendatanginya untuk mengambil foto lebih dekat, diwajibkan untuk melepas alas kaki.

[1] Ki gede Sebayu Babad Negari Tegal hal 261

 

Makam Pangeran Purbaya

Kabupaten Tegal / Dukuhwaru / Kalisoka

Makam Pangeran PurbayaAda banyak versi mengenai asal-usul dari Pangeran Purbaya. Versi pertama adalah Purbaya putera dari Panembahan Senopati dari istri Niken Purwosari (putri asal Giring) sedangkan versi kedua adalah Anggabaya seorang keturunan Turki dengan nama asli Sayyid Syekh Abdul Ghofar. Berdasarkan keterangan dari tiga orang keturunan Ki Gede Sebayu yang tercatat di buku Babad Negari Tegal (halaman 193) maka yang mendekati kebenaran adalah Anggabaya  yang disebut-sebut dengan nama Purbaya.

Diceritakan bahwa Purbaya mempunyai kesaktian, salah satunya adalah menebang pohon jati yang akan digunakan sebagai saka guru pembangunan Masjid Kalisoka dengan tangan kosong pada acara sayembara yang digelar oleh Ki Gede Sebayu. Dan pada akhirnya Purbaya menjadi pemenangnya dan dikahkan dengan putri Ki Gede Sebayu, Raden Ayu Giyanti Subalaksana.

Kiprah Purbaya atau dalam sejarah disebut juga dengan Tumenggung Tegal ini sangat penting dalam Mataram, selain sebagai juru runding dan pemimpin pasukan bersama Tumenggung Bahureksa. Pada masa Tumenggung Tegal inipula armada-armada laut Tegal mulai dikerahkan.

Tumenggung Tegal alias Purbaya meninggal dunia pada 18 Agustus 1636. Dan konon dimakamkan di sebelah barat Masjid Kewalian Kalisoka atau biasa disebut Masjid Kalisoka. Nama pemakamannya adalah Pesarean Mbah Pangeran Purobaya. Di tempat ini pula istri beliau dimakamkan.

Komplek pemakaman ini dibagi menjadi beberapa area, area terluar merupakan pemakaman umum warga sekitar dan area dalam merupakan pemakaman sanak famili atau keturunan Pangeran Purbaya atau Ki Gede Sebayu. Untuk makam Purbaya sendiri tertutup oleh bangunan khusus. Bangunanya tidak terlalu tinggi sehingga jika kita masuk harus menundukkan kepala. Sama seperti makam-makam Ki Gede Sebayu dan Raden Mas Hanggawana, makam Pangeran Purbaya juga tertutup rapat.

Tidak jauh dari komplek pemakaman, sekitar 50 meter ke arah selatan masjid ada tempat khalwat atau seperti tempat bersemedi Pangeran Purbaya.

Makam Raden Mas Hanggawana

Kabupaten Tegal / Dukuhwaru / Kalisoka

Makam Hanggawana Kalisoka TegalRaden Mas Hanggawana menggantikan tugas dari bapaknya, Ki Gede Sebayu yang telah wafat. Kepemimpinan Raden Mas Hanggawana  mulai tahun 1620 hingga tahun 1625.

Banyak hal yang dilakukan oleh Raden Mas Hanggawana dalam memimpin Tegal. Yaitu seperti mengembangkan pertanian, membuat bendungan (Kali Bleruk, Kali Kembang, Kali Jembangan, dan Kali Wadas) dan irigasi yang mengairi sawah-sawah penduduk.

Karena pada saat itu Mataram dalam keadaan genting, maka Sultan Agung mengangkat Tumenggung Tegal sebagai Adipati Tegal yang ketiga, sedangkan Raden Mas Hanggawana ditempatkan sebagai sesepuh Tegal yang mengurus urusan dalam kadipaten.

Raden Mas Hanggawana wafat dan dimakamkan di daerah Kalisoka. Posisi makam Raden Mas Hanggawana tepat di belakang Masjid Kasepuhan Ki Ageng Anggawana. Makam beliau dikelilingi dengan pagar batu bata setinggi kira-kira 120 cm dan dalam keadaan tertutup oleh bangunan beratapkan genting. Daerah tersebut juga merupakan komplek pemakaman warga sekitar. Suasana sekitar juga sejuk dan asri, tidak banyak pohon-pohon besar yang memberikan kesan angker. Untuk masuk ke bangunan utama, setidaknya kita mengadakan janjian terlebih dahulu kepada sang juru kunci makam, mengingat pada hari-hari biasa, bangunan tersebut dikunci rapat.

Pada tanggal-tanggal tertentu, sering diadakan khaul untuk mengenang Raden Mas Hanggawana. Peserta khaul tidak hanya dari Tegal saja, namun dari luar kota. Terlebih posisi komplek makam ini berada dipinggir jalan desa, maka semakin banyak orang yang berziarah maupun hanya sekedar ingin tahu makam dari orang yang bersejarah di Tegal.

Sumber: Buku Babad Negari Tegal

Makam Sunan Amangkurat I

Kabupaten Tegal / Adiwerna / Pesarean

Amangkurat IBerkunjung ke areal pemakaman ini tidak seperti sedang berkunjung ke pemakaman. Karena areal ini terlihat rapih dan bersih, bahkan jauh dari kata seram. Dari luar, bangunan ini dikelilingi oleh tembok bata dengan luas sekitar 1,1 Ha.

Sunan Amangkurat I merupakan putra ke sepuluh dari Sultan Agung yang lahir pada tahun 1619. Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin. Pada tahun 1645 beliau diangkat menjadi Raja mataram menggantikan ayahnya dan mendapat gelar Susuhunan Ing Alaga. Ketika dinobatkan secara resmi pada tahun 1646, gelarnya menjadi Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung.

Pada masanya, terjadi banyak pemberontakan dan persekongkolan. Sunan Amangkurat I dan beserta istri dan putra – putranya meninggalkan Keraton Mataram menuju kearah Batavia. Dalam pelariannya, Sunan Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal pada 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas. Beliau berwasiat untuk dimakamkan di dekat gurunya di Tegal. Karena tanah daerah tersebut berbau harum, maka desa tempat Amangkurat I dimakamkan kemudian disebut Tegalwangi atau Tegalarum. Sehingga dikenal pula dengan gelar anumerta Sunan Tegalwangi atau Sunan Tegalarum. Nama lainnya ialah Sunan Getek.

Cungkup makam dari Sunan Amangkurat I berbentuk Rumah Tajug dan bahan bangunan menggunakan kayu jati yang dicat dengan warna kuning. Selain Makam Sunan Amangkurat I, di komplek pemakaman ini juga terdapat makam kerabat dan guru dari Sunan Amangkurat I.

Pemugaran pertama kali di makam ini dilakukan pada tahun 1982 dan diresmikan oleh Dr. Daoed Joesoef selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada masa itu.

Sumber: Disparbud Kab Tegal

Makam Suroponolawen

Kabupaten Tegal / Adiwerna / Pagiyanten

Suro PonolawenMakam atau Candi yang terletak di Desa Pagiyanten, Kabupaten Tegal ini merupakan peninggalan abad ke 14 yang berbentuk areal pemakaman atau bisa disebut Makam Suro. Pemakaman ini posisinya ada di sebelah barat laut Gapura Desa Pagiyanten. Jadi agak susah ditemukan jika kita tidak bertanya kepada warga sekitar karena tidak adanya papan petunjuk arah.

Komplek pemakaman ini luasnya kurang lebih 20 x 20 meter dengan dikelilingi oleh pagar batu bata dengan ketinggian pagar sekitar 120cm. Komplek makam ini pun terdiri dari beberapa sekat atau area. Yang setiap area terdapat pintu masuk yang lebarnya hanya sekitar 80 cm. Adapun area-area tersebut antara lain:
a.    Area pertama merupakan selasar depan bagunan utama yang merupakan tanah lapang yang ditumbuhi banyak pepohonan. Di area ini ada bangunan yang Nampak kurang terawat yang digunakan untuk menyimpan perlengkapan ziarah, seperti tikar dari pandan, kayu-kayu, dan lain sebagainya.
b.    Area kedua merupakan lahan kosong yang berisi jalan setapak dan beberapa pepohonan peneduh. Di tempat ini juga biasanya petugas makam berjaga.
c.    Area ketiga hanya ada beberapa makam yang kondisinya kurang terawatt karena terlihat dari nisannya yang sudah lapuk.
d.    Area keempat banyak pemakaman warga sekitar. Di tempat ini banyak pepohonan besar yang cukup rindang.
e.    Area kelima merupakan pemakaman utama dari Makam Suro.

Komplek utama Makam Suro ini terdiri dari satu banguan utama yang dindingnya terbuat dari batu bata dan lantai / pondasinya terbuat dari batu kali. Cungkup makamnya terdiri dari dua tingkat. Pada tingkatan bawah tersusun dari genteng tanah liat dan tingkatan paling atas terbuat dari kayu jati.
Pintu makam utama ini terbuat dari kayu jati yang sudah terlihat lapuk dengan kunci menggunakan gembok. Untuk dapat masuk ke dalam bangunan ini, sebelumnya kita meminta izin kepada penjaga atau juru kunci terlebih dahulu.

Di dalam bagunan utama ini terdapat sebuah makam sederhana dengan dua buah nisan dari batu. Batas makam hanya dikelilingi dengan beberapa potong kayu. Makam tersebut ditutup dengan kelambu sederhana. Penduduk sekitar mengenalnya dengan makam Mbah Suro / Suroponolawen /  Sayid Sarif Abdurrohman seorang dari Baghdad, Irak yang datang sekitar tahun 1400 M  ( abad ke-14) dengan tujuan utama untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Makam ini selalu ramai diziarahi warga pada hari Jum’at Kliwon Penelitis Wage, dan tanggal 6 hingga 12 bulan Maulud.  Namun tepatnya tanggal 6, 7 dan 8 bulan Maulud lebih ramai lagi karena  untuk memperingati bulan Maulud Nabi dan juga tanggal 8  merupakan tanggal wafatnya Mbah Suro dan penyucian benda-benda peninggalan Mbah Suro seperti piring panjang, cangkir (banyak yang sudah pecah) tenong perunggu, wayang kayu, dan lain sebagainya.

Sumber:
http://husnaramadhan.blogspot.com/2011/01/contoh-abstrak-penelitian-di-candi-suro.html
http://disparbud.tegalkab.go.id/en/wisata-budaya/wisata-ziarah/makam-suroponolawen.html

Makam Syekh Atas Angin

Kabupaten Tegal / Dukuhwaru / Pedagangan

Candi PedaganganSyekh Atas Angin atau Syekh Muhammad atau Mbah Atas Angin merupakan putra dari Syekh Maulana Maghribi. Beliau merupakan tokoh penyebar Agama Islam di sekitar wilayah Pedagangan dan Lebaksiu yang pada saat itu mayoritas masih menganut Agama Hindu – Budha.

Kenapa di sebut Syekh Atas Angin? Konon ceritanya di daerah Pedagangan dahulu dikenal dengan para pedagangnya. Namun sayangnya sifatnya sangat pelit untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT. Suatu saat, Syekh Muhammad menyerukan agama islam di desa tersebut, akan tetapi warga sekitar mengajukan syarat kepada Syekh Muhammad, apabila Syekh Muhammad bisa membuat sawah diatas udara, maka warga sekitar mau masuk agama islam. dan dengan izin Allah, Syekh Muhammad dapat memenuhi syarat tersebut, beliau dapat membuat sawah diatas udara.

Lokasi Makam Syekh Atas Angin berada di Desa Pedagangan, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Sekitar 1,5 KM ke barat dari Pusat Kota Slawi. Lokasinya cukup mudah dijumpai, karena hanya sekitar 500 meter dari jalan utama Jalan Raya Slawi – Jatibarang. Makam Syekh Atas Angin berada di tengah komplek Makam Mbah Jaksa. Jadi untuk menuju pintu masuk makam, kita bisa melewati gapura Makam Mbah Jaksa dan Masjid Baiturrahman. Ketika melewati jalan setapak (sudah menggunakan paving block), kita akan menemukan Makam Mbah Jaksa, seorang tokoh masyarakat  yang dahulu merupakan seorang jaksa. Sehingga jalan menuju makam dinamakan Jalan Kejaksan.

Komplek Makam Atas Angin dibagi menjadi 4 halaman. Setiap halaman dibatasi dengan pagar batu bata yang tingginya sekitar 2 m. Berikut detail tiap halaman makam tersebut:
a.    Halaman pertama dan kedua terdapat makam yang tidak ditehui namanya karena kondisi nisan yang sudah relatif rusak.
b.    Halaman ketiga berisi beberapa makam Putri Solo dengan Pohon Nagasari. Terdapat gapura bentar.
c.    Halaman keempat merupakan komplek Makam Syeh Atas Angin dan pendampingnya serta terdapat lingga dari batu andesit. Terdapat gapura bentar.

Makam Syekh Atas Angin tidak diberi penutup layaknya makam yang lainnya. Hanya ada cungkup yang dibuat dari daun tebu atau welit. Untuk makamnya sendiri berada di atas kunden setinggi 1 meteran dengan menggunakan batu bata. Makam Syekh Atas Angin sendiri berada di tengah di antara pendampingnya dan diberi pembatas dengan ukiran kayu yang terlihat masih baru. Di depan makamnya sendiri terdapat lingga setinggi sekitar 0,5 meter. Warga sekitar menyebutnya dengan nama Batu Kalbut.

Makam Syekh Atas Angin ini bisa juga disebut Candi Pedagangan atau ada yang menyebutnya Candi Bulus. Komplek ini ditemukan sekitar bulan Oktober tahun  2005 oleh warga sekitar dalam keadaan tertutup dengan tanah. Namun sebelumnya pada tahun 1960, bangunan candi tersebut masih utuh. Namun sekitar tahun 1965 candi tersebut dirusak.

Kuliner

Mungkin bagi orang luar Tegal, kota ini lebih dikenal dengan warteg dan makanannya yang relatif murah. Wajar saja, di beberapa kota-kota besar di Indonesia memang persebaran warteg cukup signifikan, terutama di Jakarta, yang merupakan ibu kota dari negara tercinta kita ini. Para perantau Tegal yang ke Jakarta kebanyakan memang lebih terkenal di warteg daripada di bidang kuliner lainnya. Padahal, banyak juga para perantau asal Tegal yang menggeluti bidang kuliner non warteg, contohnya jualan martabak manis dan martabak telor, banyak juga dari mereka, para perantau yang memiliki warung nasi goreng baik yang mangkal atau pun yang keliling. Sedangkan untuk bidang usaha lainnya yang dipegang perantau asal Tegal jarang sekali terekspos ke media nasional.

Beda cerita kalau kamu pergi ke Tegal yang notabennya memiliki banyak makanan khas yang asli bisa memanjakan lidah. Rasanya yang memang enak dan hanya ada di Tegal saja. Sebut saja, Soto Tauco yang memiliki rasa khas dan berbeda dengan soto-soto di daerah lain. Berikut ini beberapa makanan khas Tegal yang perlu kamu tahu dan wajib kamu coba ketika kamu berkunjung ke Tegal.

1. Sate Kambing Muda Balibul dan Batibul

makanan khas Tegal - sate kambing muda
makanan khas Tegal – sate kambing muda

Salah satu makanan khas Tegal yang menjadi primadona kuliner di Tegal adalah sate kambing muda. Daging kambing identik dengan teksturnya yang kenyal, namun tekstur ini sangat tergantung pada usia kambing. Semakin muda usianya maka semakin empuk teksturya. Karena itu sate kambing Tegal banyak memakai daging kambing atau domba muda. Penggunaan daging kambing muda ini telah menjadi ciri khas sate Tegal. Sebutan Balibul itu didapat dari singkatan “bawah lima bulan”. Sedangkan Batibul itu merupakan singkatan dari “bawah tiga bulan”. Kebanyakan warung sate kambing di Tegal yang menjadi favorit masyarakat Tegal pastinya menyediakan sate kambing Balibul atau sate kambing Batibul.

makanan khas Tegal - sate kambing muda balibul
makanan khas Tegal – sate kambing muda balibul

Jika kamu ingin merasakan empuknya sate kambing Balibul di Tegal kamu harus tahu dimana saja sih lokasinya. Salah satu pusat warung sate kambing yang ada di Tegal berada di daerah yang terkenal dengan nama Tirus, bahkan masyarakat setempat lebih mengenal dengan sebutan sate Tirus Tegal. Di sini ada salah satu rumah makan yang terkenal dengan sate balibulnya yaitu Warung Sate Sari Mendo.  Lokasi tepatnya ada di pertemuan Jalan Kapten Sudibyo dan Jalan KS. Tubun, sepanjang daerah ini lebih dikenal dengan daerah Tirus. Di sini kamu bisa menemukan komplek warung makan yang menyajikan menu sate balibul sebagai menu utamanya.

sate kambing muda batibul sari mendo
sate kambing muda batibul sari mendo

Beda lagi dengan sate kambing balibul, sate kambing Batibul ada di tempat yang berbeda. Lokasinya juga lumayan jauh dari blok sate Tirus. Jika kamu ingin mencoba sate kambing Batibul di Tegal Kota, kamu bisa mencobanya di warung sate kambing batibul yang paling terkenal yaitu warung Sate Wendys Tegal. Di sini kamu akan menemukan menu sate kambing batibul yang sangat digemari masyarakat Tegal. Jangan heran kalau kamu ke sini, kamu susah cari tempat duduk terutama saat waktu makan siang karena di warung ini bakal penuh sekali.

2. Soto Tauco Khas Tegal

Makanan khas Tegal berikutnya adalah soto tauco. Soto tauco yang paling terkenal di Tegal adalah Soto Sedap Malam yang berada di sepanjang jalan Raya Utama yang menghubungkan Tegal dan Cilacap, tepatnya berada di jalan Raya Talang. Oleh karena itu, Soto Tauco ini juga dikenal masyarakat dengan Soto Talang karena memang lokasinya yang berada di wilayah Talang.

Dari sekian banyak Warung Sedap Malam, ternyata yang asli hanya ada dua warung saja. Yang satu memakai nama Warung Sedap Malam Daan Jenggot dan Warung Sedap Malam Kiman, dimana keduanya di sisi jalan yang sama dan hampir sebelah-menyebelah. Sedangkan pemilik warung-warung lainnya merupakan para mantan staf dapur Daan Jenggot yang kemudian membuka warungnya sendiri.

makanab khas Tegal - soto tauco sedap malan Daan Jenggot
makanab khas Tegal – soto tauco sedap malan Daan Jenggot

Berdasarkan informasi yang kami terima, pada awalnya usaha ini dirintis oleh Pak Daan Jenggot dengan berjualan soto di Comal (kota kecil antara Tegal-Pekalongan). Kemudian usahanya ini mulai mencapai kesuksesan setelah Beliau berpindah ke Alun-Alun Tegal hingga akhirnya mendirikan sebuah warung di Jl. Talang, pinggiran Kota Tegal hingga sekarang ini. Biasanya warung Pak Daan Jenggot ini yang paling ramai disinggahi para pelanggan.

Makanan khas Tegal yang satu ini memang berbeda dari yang lainnya. Isian sotonya ada beberapa macam, ada soto ayam, daging, babat atau campur. Tergantung dari selera kamu, mau nyoba yang mana. Penyajiannya juga cukup menggelitik karena menggunakan mangkuk kecil. Hal ini membuat kita bingung antara pesan satu porsi atau dua porsi. Tapi tak jarang para pelanggannya memesan satu setengah mangkuk, tapi jangan kaget kalau porsi setengah yang diminta pada aktualnya tidak jauh berbeda dengan porsi penuh.

3. Tahu Aci

Makanan khas Tegal - Tahu Aci
Makanan khas Tegal – Tahu Aci

Rasanya belum lengkap kalau kamu ke Tegal tapi belum mencicipi makanan khas Tegal yang satu ini. Namanya Tahu Aci, bentuknya segitiga dan acinya nempel di bagian alasnya.Hampir di setiap pinggir jalan banyak penjual yang menjajakannya. Bahkan hingga pedagang asongan pun ikut menjajakan makanan ini di dalam bus. Orang luar atau yang bukan berasal dari Tegal biasa menyebutnya dengan Tahu Tegal atau Tahu Kuping.

Tahu Aci terbuat dari tahu kuning yang berbentuk persegi empat yang kemudian nantinya dibelah dua secara melintang. kemudian dari bekas belahannya tersebut di beri adonan yang terbuat dari tepung kanji atau aci, potongan daun kucai, dan beberapa bumbu lainnya. Mungkin kita terheran-heran mengapa Tahu Aci tersebut banyak diminati oleh penggemarnya. Apa rahasianya yang membuat Tahu Aci tersebut enak? Ada beberapa elemen yang membuat Tahu Aci ini berasa nikmat, yaitu yang pertama adalah tahu Kuningnya. Tahu kuning ini ternyata hanya banyak diproduksi di daerah kabupaten Tegal saja. Tahu kuning yang di Tegal memang tidah lah sama dengan tahu-tahu pada umumnya yang diproduksi di daerah lainnya. Oelh karena itu, Tahu Aci hanyalah bisa kita temukan di Tegal saja.

Tahu Aci yang paling enak dan terkenal dijual di pusat oleh-oleh khas Tegal Tahu Murni yang ada di jalan Raya Adiwerna, Banjaran dan di daaerah kota Tegal, Tahu Murni Putra. Memang harganya jauh lebih mahal, tapi soal rasa tahu aci yang dijual di sini memang gak ada duanya. Jauh di atas rata-rata. Jika kamu sedang berkunjung ke Tegal tidak ada salahnya kalau kamu mencoba makanan khas Tegal yang satu ini. Biar gak penasaran..hehe

4. Kupat Glabed dan Sate Blengong

kupat glabed dan sate blengong
kupat glabed dan sate blengong  – tegalstreetfood.tumblr.com

Makanan khas Tegal berikutnya adalah kupat glabed. Seperti namanya “Glabed” diambil dari kentalnya kuah makanan ini yang ngglabed. Kuliner Tegal yang satu ini biasanya dipasangkan dengan sate Blengong. Sate yang terbuat dari daging Blengong (peranakan dari mentok dan bebek).

Kuliner khas Tegal ini bisa kita temui di beberapa tempat di antaranya di deket stasiun Kota Tegal, di komplek warung deket stasiun. Namun, daerah yang terkenal dengan kupat glabed dan sate blengongnya adalah Tegalsari. Di daerah ini banyak yang menjual kuliner khas ini. Adapun pilihan tempat yang lainnya yang juga tak kalah enak dengan beberapa tempat di atas, ada salah satu penjual Kupat Glabed yang menjadi favorit beberapa warga Tegal yaitu di jl. Kapten Sudibyo, “Kupat Glabed Mba Bila” tepatnya ada didepan SMP 7 Tegal. Mungkin bagi kamu yang ingin mencobanya bisa dateng ke salah satu tempat-tempat yang disebutkan tadi.

5. Rujak Kangkung

Siapkan lidah Anda untuk menyantap makanan yang satu ini :

rujak kangkung, pedas! (sumber foto : sosialmediategal.blogspot.com)

Rujak kangkung termasuk makanan sederhana; kangkung rebus yang dilumuri bumbu dari ulekan kacang, asam jawa, dan terasi sebagai sambalnya, plus cabe.  Dihidangkan dalam pincuk (daun pisang) serta boleh ditambah krupuk dan sayuran lain.

Rasanya?  Super pedas!

Saya pribadi biasanya memakan rujak kangkung di siang hari sebagai lauk untuk nasi yang masih mengepul panas.  Rujak pedas, nasi panas, krupuk, minumnya teh tawar.  Dijamin makan bakal nambah tanpa terasa dan nggak bakal kenyang-kenyang.

 

Oleh-oleh

1. Kacang Bogares

Oleh-oleh khas Tegal ini bisa anda temukan dengan mudah di daerah Bogares. Sekilas kacang Bogares terlihat seperti kacang pada umumnya, tetapi yang menjadi pembeda kacang ini mempunyai citarasa yang khas serta gurih. Itu karena, masyarakat setempat mempunyai teknik khusus dalam mengolah kacang Bogares sehingga mempunyai rasa yang gurih serta enak.

2. Poci tanah liat

Anda belum dikatakan berkunjung ke Tegal bila belum membeli poci tanah liat. Poci ini merupakan oleh-oleh khas Tegal yang paling banyak diminati wisatawan. Bentuknya yang khas dengan ukiran, sangat pas digunakan bila ingin menikmati teh Tegal. Biasanya poci tanah liat ini dilengkapi dengan nampan dan juga cangkir, yang mempunyai ukuran cukup kecil yang semuanya terbuat dari tanah liat.

3. Kerupuk Antor

Kerupuk Antor juga oleh-oleh khas Tegal yang banyak diburu wisatawan. Kerupuk antor biasanya mempunyai dominan rasa bawang, dan cocok untuk anda jadikan teman saat makan. Tetapi yang menjadi keistimewaan dari kerupuk ini adalah, proses pembuatannya yang tidak digoreng menggunakan minyak tetapi menggunakan pasir. Sehingga lebih sehat dan aman untuk anda konsumsi.

4. Latopia atau Latopnya

Oleh-oleh khas Tegal ini memang mirip dengan pia dari daerah lain. Namun yang membedakan pia kas Tegal dengan daerah lain adalah pia ini lebih padat, lebih gurih, renyah dan tentu saja ukurannya yang lebih besar. Latopia ini bisa anda dapatkan dengan mudah di toko oleh-oleh seluruh kota Tegal.

5. Pilus

Pilus Tegal hampir mirip dengan pilus-pilus lain. Namun Pilus khas Tegal biasanya mempunyai warna putih kecoklatan, dan rasanya tentu saja gurih dan enak. Pilus Tegal sangat cocok dimakan dengan seporsi bakso yang masih hangat.

6. Kaos Galgil

Seperti halnya Jogja atau pun Bali, Tegal juga mempunyai kaos khas yang hanya bisa anda ditemukan di kota ini. Kaos Galgil adalah kaos khas Tegal yang bertuliskan jargon-jargon khas Tegal.

 

Sumber : wisatategal.com

www.ditegal.com