Najiskah Muntahan Bayi?

0
Foto : Google

Tiap bayi pasti pernah mengalami muntah. Ada yang muntah hanya sesekali saja dan ada yang muntah setiap kali mengkonsumsi makanan apapun. Muntah pada bayi yang disebabkan oleh terlalu banyak mengkonsumsi ASI biasa disebut gumoh. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena lambung bayi masih berukuran sangat kecil. Namun, ada juga yang muntah dikarenakan infeksi pada pencernaan bayi. Seringnya bayi muntah atau gumoh mendatangkan pertanyaan tersendiri mengenai hukum muntahnya anak kecil di bawah umur dua tahun. Bagaimanakah Islam mengatur tentang hal ini ? Mari kita simak penjelasannya berikut ini.

Bayi bila selalu muntah, menurut fatwa imam ibnu hajar dimaafkan/tidak dihukumi najis  (dima’fu) kalau menyentuh puting susu ibunya yang masuk dalam mulut si bayi. Tidak dima’fu (bila menyentuh bagian) di bawah puting dan di pinggir-pinggirnya susu. Juga tidak dima’fu yang mencium dan yang menyentuh si bayi (bila terkena muntahannya).

Tapi ibnu Sholah tidak membedakan puting dan lainnya, dan tidak ada beda ibu dan lainya, bila bayi diyakini mulutnya najis maka dima’fu apa yang disentuh oleh mulut bayi, baik ibunya atau orang yang menggedongnya, puting atau lainya semua dima’fu menurut Ibnu Sholah.

فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين 1/20

وأفتى شيخنا أن الصبيّ إذا ابتلي بتتابُعِ القيءِ عُفِيَ عن ثَدْيِ أمِّه الداخِلِ في فيه، لا عن مُقبِّله أو مُماسَّه،

( قوله وأفتى شيخنا أن الصبي إلخ ) عبارة فتاويه وسئل رضي الله عنه هل يعفى عما يصيب ثدي المرضعة من ريق الرضيع المتنجس بقيء أو ابتلاع نجاسة أم لا فأجاب رضي الله عنه ويعفى عن الصغير وإن تحققت نجاسته

 

كما صرح به ابن الصلاح فقال يعفى عما اتصل به شيء من أفواه الصبيان مع تحقق نجاستها وإذا تأملت الجواب المذكور تجد فيه أنه لا فرق في العفو عن الصبي بين ثدي أمه الداخل في فيه وغيره من المقبل له والمماس له وليس فيه تخصيص بالثدي المذكور وسينقل الشارح عن ابن الصلاح ما يفيد العموم فهو موافق لجواب الفتاوي المذكور ويمكن أن يقال إن لشيخه فتوى غير هذه لم تقيد في الفتاوي

Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB