Sekolah Tinggi Agama Islam NU Jakarta

0

PROFIL
Pengembangan pendidikan manjadi salah satu prioritas dalam lingkungan organisasi maupun warga Nahdlatul Ulama (NU). Sejak berdiri pada tahun 1926, NU telah mendirikan berbagai macam satuan pendidikan, seperti Madrasah Diniyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Muallimin Wustha dan Ulya. Tidak hanya yang berbentuk madrasah tetapi berbagai satuan pendidikan umum juga bernaung di bawah NU, seperti SD, SMP, SMA dan SMK sampai dengan Perguruan Tinggi.

Hasrat memajukan pendidikan Tinggi merupakan salah satu wujud kepedulian Nahdlatul Ulama dalam pencapaian cita-citanya memajukan umat Islam dan masyarakat bangsa Indonesia. Berbagai upaya mencapai cita-cita tersebut telah dan akan dilakukan Nahdlatul Ulama secara terus menerus sesuai dengan dinamika masyarakat itu sendiri dan dalam konteks inilah, pembangunan dan pengembangan pendidikan tinggi menjadi kebutuhan yang tidak dapat terelakkan.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tanggal 15-17 Juni 2000, di Cisarua-Bogor mengadakan workshop untuk menjajaki pendirian Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta. Workshop ini memperoleh perhatian serius, karena diikuti oleh 40 orang peserta, yang terdiri dari hampir seluruh lajnah, lembaga dan badan otonom di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Prof.Dr. HA. Sukardja,SH., MA. dan Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, MA. Sebagai Steering Commite, serta Drs. HM. Mundzier Suparta, MA. dan Drs. H. Aceng Abdul Aziz sebagai Organizing Commite.
Workshop tersebut merumuskan beberapa prinsip penting kaitannya dengan pendirian UNU Jakarta, yaitu:

Keberadaan Universitas Nahdlatul Ulama merupakan manifestasi dari situasi kebangkitan NU yang mengemuka dalam pencerahan moral dan intelektual, penyadaran pentingnya makna dan fungsi integritas serta kompetensi ilmu dan profesionalisme, dan penyadaran kritis dan kreatif yang visioner dalam mewujudkan islah, mashlahah dan rahmah yang mengakar pada ajaran ahlussunnah wal jamaah.
Makna dan fungsi Universitas Nahdlatul Ulama tidak semata bertumpu pada kiprah dan dinamika ilmu, teknologi, humaniora dan seni dengan segala dimensi dan dampaknya, tetapi juga memberi energi dan sinar bagi setiap dinamika dan orientasi hidup yang lebih bermakna, berbudaya dan berperadaban, baik pada tataran horisontal hidup keseharian maupun pada tataran vertikal kecanggihan ilmu, teknologi, seni dan humaniora.
Kelembagaan UNU diharapkan menjadi payung bagi semua lembaga-lembaga perguruan tinggi yang berada di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Sambil melengkapi segala persiapan pendirian, Ketua PBNU Prof. Cecep Syarifuddin, M.Sc. meminta agar UNU Jakarta segera membuka pendaftaran untuk merekrut mahasiswa baru tahun akademik 2000/2001. dengan membuka tempat pendaftaran di Kantor PBNU Jl. Agus Salim, Jakarta Pusat, serta di Gedung Nindya Karya, MT Haryono, Jakarta Timur dan PP Ashiddiqiyah, Jakarta Barat, hingga dibukanya perkuliahan perdana pada bulan September diperoleh mahasiswa sebanyak 60 orang untuk dua Fakultas (Fak. Agama dan Fak. Ekonomi). Untuk kelangsungan manajemen UNU Jakarta, Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YPTNU) menunjuk Prof. H.A. Sukardja sebagai Rektor, Prof. Dr. H. Said Aqil Siraj sebagai Dekan Fakultas Agama dan Dr. H. Roni M. Bisry sebagai Dekan Fakultas Ekonomi.

Bersamaan dengan masuknya perkuliahan semester II, Ketua Umum PBNU KH. Hayim Muzadi membuka secara resmi UNU Jakarta tersebut. Beliau menyatakan tentang pentingnya peranan perguruan tinggi dalam proses peningkatan kualitas SDM bagi kepentingan bangsa dan negara yang ingin maju dan mandiri. Secara khusus, Cak Hasyim pun menyatakan akan membantu UNU Jakarta dalam berbagai bentuk kebutuhannya. Dalam kesempatan ini pula, Cak Hasyim menyemangati mahasiswa angkatan pertama dengan menyebutnya sebagai angkatan pelopor.

Pergolakan politik nasional pada era reformasi ternyata berdampak kurang baik bagi perkembangan UNU Jakarta. Kendati UNU Jakarta merumuskan komitmennya untuk tidak terlibat secara langsung dalam kancah politik, akan tetapi naik dan turunnya Presiden KH. Abdurrahman Wahid tetap memiliki pengaruh signifikan. Berkaitan dengan itu, Menteri Agama RI, Drs. H. Tolhah Hasan menyarankan agar pengelolaan UNU Jakarta dilakukan secara serius, ulet dan sabar. Lebih khusus lagi, hendaknya tidak bergantung pada situasi.

Menurut tokoh penting pengembang UNISMA Malang itu, tidak ada universitas yang maju dalam sekejap, melainkan melalui proses perjuangan yang memakan waktu, diperkirakan mencapai 5 sampai 10 tahun. Beliau menyarankan kepada para pengelola UNU Jakarta untuk kober (bahasa Jawa, sungguh-sungguh) dan puasa, artinya hemat dalam belanja, mengingat pada tahap permulaan, dana sangat kecil, tetapi kebutuhan sangat besar. Memang sejak awal, kendala manajemen dan finansial dirasa menjadi penghadang laju penyelenggaraan UNU Jakarta.

Memasuki tahun ke-2, Fakultas Ekonomi tidak mampu memperoleh mahasiswa ataupun, sementara fakultas Agama hanya mampu menarik minat satu kelas mahasiswa. Kondisi demikian itu, berimbas pada minimnya pemsukan dana, ditambah sumbangan dari para donatur pun berkurang sama sekali. Beruntung, adalah KH. Nur Muhammad Iskandar, SQ. Dengan kebesaran hati –demi penyiapan sumber daya manusia- masih tetap mempersilahkan penggunaan sebgian gedung pesantren Asshiddiqiyah Kedoya, Jakarta Barat, sebagai ruang perkuliahan. Bersamaan dengan itu pula, PBNU mempersilahkan penggunaan lantai 4 dan 5 gedung PBNU yang baru di Jl. Kramat Raya No. 164 sebagai ruang kantor dan perkuliahan. Alhamdulillah, hingga tahun akademik 2002/2003, perkuliahan masih berjalan efektif.

Akan tetapi, akibat permintaan Depdiknas untuk memperbaharui pengurusan izin UNU Jakarta, akhirnya PBNU, YPTNU dan PP LP Ma”arif memutuskan untuk menunda “rencana UNU Jakarta” dan berkonsentrasi untuk menyelesaikan prosedur dan persyaratan pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta. Tepat pada tanggal 7 Agustus 2001, setelah melalui Rpat Koordinasi PBNU dengan YPTNU, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta berubah status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.

Berdasarkan surat PBNU No. 668/A.II.03/S/2002 tentang Koordinasi Penyelesaian Problem Operasional STAI Nahdlatul Ulama Jakarta, PP LP Ma”arif mendapatkan tugas:

a. Mengkoordinasi upaya-upaya penyelesaian problem operasional STAI Nahdlatul Ulama Jakarta, khususnya yang terkait dengan perizinan di Kopertais DKI Jakarta.

b. Mengambil langkah-langkah penting bagi keberlangsungan ide pendirian Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta.

c. Melaporkan secara berkala setiap pengembangan penyelesaian kepada PBNU.

Pada 01 Mei 2003 STAINU Jakarta resmi mendapatkan Izin dari Departemen Agama RI, Untuk pertama kalinya, kepengurusan STAINU Jakarta dipegang oleh DRS. H. Mundzier Suparta, MA., sebagai Ketua; dibantu oleh Drs. HM. Mujib Qulyubi, MH, Drs. Muchsin Ibnu Djuhan dan Drs. H. Aceng bdul Aziz, masing-masing sebagai Pembantu Ketua. Struktur Organisasi dan Personalia ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Nomor: 10/Surat Keputusan/ YPTNU/VIII/ 2001.

Pada periode kepemimpinan ini, STAINU sempat mengalami kevakuman selama 2 tahun sampai 31 Maret 2006. Selama kurun ini STAINU Jakarta dikendalikan oleh Pjs. Ketua DR. Andi Jamaro Dulung.

Pada periode kedua kepemimpinan STAINU Jakarta yang berlaku mulai tanggal 31 Maret 2006 sampai 31 Maret 2008 (SK No. 03/SK-YPTNU/III/2006) dengan komposisi: Drs. HM. Mujib Qulyubi, MH., sebagai Ketua; Wawan Djunaidi, M.Ag., Pembantu Ketua I; Drs. Muchsin ibnu Djuhan, Pembantu Ketua II; Drs. H. Aceng Abdul Azis, Pembantu Ketua III; dan Drs. Jazilul Fawaid, S.Q., sebagai Ketua Program Studi PAI.

Selain itu, secara struktural kepengurusan STAINU Jakarta dewasa ini memiliki lingkage vertikal ke dalam struktur yayasan, yaitu Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YPTNU). Untuk periode saat ini (2006-2011), struktur YPTNU dapat dijelaskan dalam komposisi sebagai berikut: Ketua dijabat Oleh Drs. H. Abdul Aziz Ahmad MA; Wakil ketua I dan II, masing-masing dijabat Drs. H. Masrur Ainun Najih dan DR Mamat S. Burhanuddin, MA. Sekretaris dijabat oleh H. Nunu Ahmad An-Nahdl S.Ag., dan Wakil Sekretaris I, II, dan III, masing-masing dijabat Drs. H. Dawam Sartoni, Afta Maarif, S.Si, dan Ahmad Sauki, S.Ip. Adapun Bendahara dijabat oleh Drs. Taufiq Rochman dan Wakil Bendahara I, II, dan III, masing-masing dijabat: Drs. Ali Ridla Tanjung, Drs. H. Muhammad Mujib Qulyubi, MH, dan Suhendra, SE.

Pada tahun 2009, Penyelenggaraan STAINU Jakarta berkembang dengan dibangunnya Kampus II STAINU Jakarta. Kampus II STAINU Jakarta berdiri di Tanah PBNU seluas 2,7 Ha. yang berlokasi di Kec. Kemang kab, Bogor dan Program Studi PAI yang diselenggarakan mendapat Akreditasi B dari BAN PT.

Pada tahun 2010 pasca Muktamar NU ke 32 di Makassar, keberadaan Yayasan sebagai Badan hukum penyelenggara Perguruan Tinggi NU secara hukum belum menjadikan lembaga perguruan tinggi menjadi milik organisasi Nahdlatul Ulama secara mutlak. Badan hukum yayasan ternyata mempunyai kedudukan sama dengan badan hukum pekumpulan yang dimiliki oleh NU. Kondisi seperti ini menjadikan kebijakan NU terkait penyelenggaraan pendidikan tidak dapat menyentuh secara instruktif ke Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama. Dengan hasil Sidang Pleno PBNU di Wonosobo menetapkan bahwa seluruh lembaga yang ada di bawah Nahdlatul Ulama berkewajiban merubah Yayasan dan asetnya menjadi di bawah badan Hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama (Notaris) diharapkan menjadikan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama menjadi benar-benar milik organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Pada tanggal 21 Maret 2014, Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YPTNU) yang dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi membubarkan diri dan seluruh asetnya diserahkan ke Perkumpulan Nahdlatul Ulama. Salah satunya adalah Perguruan tinggi yang diselenggarakan YPTNU yaitu STAINU Jakarta, sehingga PBNU mengeluarkan kebijakan dengan membentuk Badan Pelaksana Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BPPTNU) STAINU Jakarta. BPPTNU STAINU Jakarta selain menjadi reprentasi perkumpulan Nahdlatul Ulama (NU) dalam pengelolaan STAINU Jakarta juga bertugas mempersiapkan berdirinya Universitas Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta.

Berdasarkan keputusan tersebut, kemudian BPPPTNU menetapkan kepengurusan STAINU Jakarta periode 2014-2018 dan perkuliahan STAINU Jakarta diselenggarakan di 3 (tiga) Kampus.

PROGRAM STUDI
1. Perbankan Syariah (D3)
2. Pendidikan Agama Islam (S1)
3. Ahwal Al-Syakhsyiyah (S1)
4. SKI Islam Nusantara ( Pasca Sarjana)

ALAMAT
I. Kampus A STAINU Jakarta
Jl. Taman Amir Hamzah No. 5 Jakarta pusat 10430
Telp/Fax: (021) 3156864

II. Kampus B STAINU Jakarta
Jl. Parung Hijau Pondok Udik, Kemang Kab. Bogor
Telp. (0251) 8600621

III. Kampus C STAINU Jakarta
Jl. Kedoya Raya Masjid Al-Uchwah II No. 23-24 Kedoya Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat.
Telp. (021) 22584214

Web: http://stainujakarta.ac.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here