Cahaya Keikhlasan

0
Foto: Google

OASE PAGI
Kajian al-Hikam 35

Cahaya Keikhlasan

مَنْ اَشـْرَقت بدايَتـُهُ اشرَقَتْ نِهاَيَتـُهُ ٭

“Barangsiapa yang bercahaya permulaannya maka pasti bersinar masa akhirnya.”

Maqalah di atas sebagai kelanjutan dari maqalah sebelumnya yaitu sebagai tanda kesuksesan di akhir perjalanan yaitu mengembalikan kpd Allah di awal perjalanan. Maka maqalah ini menegaskan bahwa orang yang melaksanakan amal ibadah didasari cahaya keikhlasan maka akan memperoleh natijah (hasil) dari keikhlasannya. Artinya para salik yaitu orang2 yang berjuang di jalan Allah maka dalam melaksanakn amal ibadahnya tidak boleh melakukan kesyirikan sekecil apapun. Syirik yaitu perbuatan menyekutukan Allah, syirik ada dua macam yaitu syirik jali dan syirik khafi. Syirik jali yaitu menyekutukan Allah secara nyata seperti menyembah berhala dan lainnya. Syirik khafi yaitu menyekutukan Allah secara sembunyi/samar, contohnya riya’, ‘ujub dan lainnya. Riya’ yaitu pamer dengan amal ibadahnya supaya dilihat manusia, supaya dipuji manusia, supaya diperhatiin manusia. Semangat ibadahnya pelaku riya’ bukan karena Allah melainkan karena manusia. Terkadang riya’ bisa muncul diawal ibadah, mau shalat berjamaah tp niatnya hanya ingin dilihat tetangga supaya dipuji sbg org ahli ibadah, ada kalanya riya’ di tengah ibadah seperti di awal shalatnya sdh ikhlas tiba2 di tengah shalatnya muncul riya’ spt pura2 khusu’ sujudnya biasa cepet dipanjangan, bacaan surat biasanya pendek tiba2 dipanjangin. Ada pula riya’ muncul di akhir ibadah, di awal dan di tengah ibadah sudah ikhlas tp selesai shalat tiba2 terlintas ada niat pamer supaya ibadahnya diketahui orang lain, seperti menceritakan ibadahnya kpd orang lain, atau menulis status atau mengirim posting di medsos bahwa dirinya telah melakukan shalat dhuha atau shalat malam. Maka semua amalan ibadah yg dilakukan jika terkena virus riya’ maka runtuh semua amal ibadahnya, karena dlm hadits dijelaskan, “Sesunguhnya Allah tidak menerima amal ibadah yg di dalamnya terselip riya’.” Jadi begitu bahayanya amal ibadah yg masih terselip riya’ karena tidak akan diterima oleh Allah. Karena itu, mari bersihkan hati kita dari virus riya’ yg dpt merusak seluruh ibadah kita diganti dengan cahaya keikhlasan. Jika dalam melaksanakan ibadah didasari dengan keikhlasan niscaya amal ibadah kita akan diterima oleh Allah dan diberikan balasan yg nyata baik di dunia maupun di akherat kelak. Semoga kita dapat terus belajar dan memperbaiki hati sehingga dpt terbebas dari virus riya’ yg destruktif.