Kisah Teladan Seorang Waliyullah dalam Melepas Keakuan

0

Ada salah satu diantara beberapa ulama’ salaf yang sangat rindu ingin bertemu dengan Nabi Khidzir as. Ia pun selalu berdoa kepada Allah agar mempertemukannya dengan Nabi Khidzir sekali saja.
Ia ingin Nabi Khidzir mengajarkan kepadanya tentang perkara yang sangat penting di dunia ini. Pada suatu ketika, Allah membukakan hijabnya sehingga ia bisa bertemu dengan Nabi Khidzir.

Karena tidak kuasa akan rasa rindu yang membara, ia pun segera mengungkapkan permintaan hatinya kepada Nabi Khidzir “Wahai Abu Abbas (Nabi Khidzir), ajarkanlah aku sesuatu yang mana ketika aku mengucapkannya maka tertutuplah hati para makhluk sehingga tidak ada seorang pun yang tahu akan kebaikan dan keluasan agamaku !”. Kemudian Nabi Khidzir mengjarkan sebuah doa kepadanya :

اللهم اسبل علي كشيف سترك وحط علي سرادقات حجبك واجعلني في مكنون غيبك واحجبني عن قلوب الخالقين

“Ya Allah, selimutilah kepadaku dengan tebalnya tutup-Mu, selimutilah aku dengan kain hijab-Mu, dan jadikanlah aku sebagai simpanan ghaib-Mu (Seorang yang tidak dikenal), dan halangilah diriku dari hati para makhluk”.

Kemudian Nabi Khidzir pun menghilang entah kemana, dan ia pun tidak lagi rindu pada Nabi Khidzir setelah pertemuan itu. Namun ia selalu mengucapkan doa yang diajarkan Nabi Khidzir kepadanya setiap hari.

Suatu ketika diceritakan bahwa doanya telah benar-benar terkabulkan, ia mendapatkan ujian hidup. Ia menjadi seorang yang hina di mata orang lain.

Bahkan para kafir dhimmi menganggapnya rendah, mereka berani menyuruhnya untuk melakukan sesuatu demi mereka, para anak-anak kecil mengolok-olok dan mempermainkannya.
Namun baginya justru menjadi suatu kenikmatan karena dirinya bisa menjadi bersih dan kuatnya hati di dalam kehinaan dan menyamarkan diri dari pandangan orang lain.

Ini adalah keadaan para wali dan kekasih Allah, meski mereka rendah di hadapan manusia namun mulia di hadapan Tuhannya.

Sungguh tertipu bagi mereka yang mengaku sebagai ulama dan kiyai, mereka merasa senang karena dihormati, mereka merasa nyaman karena terkenal, mereka merasa lega karena menjadi seorang yang ahli beribadah. Sesungguhnya kemuliaan itu adalah jika mulia di hadapan Allah.
Orang yang mulia dihadapan makhluk belum tentu mulia di hadapan Allah.

Kisah ini diambil dari Kitab Ihya’ Ulumuddin ( Imam Ghozaly ), Juz 4, Hal. 236, 237.