Sucikah Pakaian yang Dicuci dengan Mesin Cuci?

0
Foto : Google

Pada era modern saat ini, banyak pekerjaan yang dibantu dengan tenaga mesin untuk mengoperasikannya. Tidak terkecuali pekerjaan rumah tangga yang sering menyita waktu adalah mencuci pakaian. Baju yang kotor baik yang terkena najis atau tidak, cukup dimasukkan ke mesin cuci,  dioperasikan dan tinggal tunggu beberapa menit, maka baju siap untuk dijemur. Lalu yang menjadi pertanyaanadalah, apakah pakaian yang dicuci dengan mesin cuci tersebut bisa dihukumi suci?

Syarat air sedikit bisa mensucikan najis bila airnya yang mendatangi najis (menurut pendapat yang paling shahih), dalam praktek mencuci pakaian di mesin cuci bila air yang terdapat pada mesin cuci tersebut kurang dua Qullah berarti tidak cukup, karena najisnya mendatangi air kecuali bila keadaan pakaian sebelum di masukkan ke mesin cuci tersebut sudah dalam keadaan suci.

Namun menurut pendapat lain (Imam Suraij) asal dalam mencelupkan najis pada air sedikit tersebut ada tujuan menghilangkan najis, meskipun airnya sedikit tetap suci.

( ويشترط ورود الماء ) على المحل إن كان قليلا في الأصح لئلا يتنجس الماء لو عكس لما علم مما سلف أنه ينجس بمجرد وقوع النجاسة فيه والثاني وهو قول ابن سريج لا يشترط لأنه إذا قصد بالغمس في الماء القليل إزالة النجاسة طهر كما لو كان الماء واردا بخلاف ما إذا ألقته الريح

Menurut pendapat yang paling shahih (benar) saat air kurang dua Qullah disyaratkan air yang mendatangi najisnya, agar air tidak menjadi najis bila di balik (barang mendatangi najisnya) sebab hanya dengan kejatuhan najis air sedikit/kurang dua Qullah bisa langsung najis, menurut pendapat yang kedua, pendapatnya Imam Suraij “Hal tersebut tidak disyaratkan, karena bila tujuan saat mencelupkan najis pada air sedikit tersebut menghilangkan najis maka dihkumi suci sebagaimana bila air yang mendatangi najis berbeda bila masuknya najis pada air tanpa ada tujuan seperti saat dijatuhkan angin”. [ Mughni Al-Muhtaaj I/86 ].

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ : مَا لَمْ يَتَمَيَّزْ نَجَاسَتُهُ : لِامْتِزَاجِهِ وَاخْتُلِفَ فِي إِمْكَانِ إِزَالَتِهَا مِنْهُ ، وَهُوَ الزَّيْتُ النَّجِسُ ، وَمَا جَرَى مَجْرَاهُ مِنَ الْأَدْهَانِ ، دُونَ السَّمْنِ .

فَفِي إِمْكَانِ غَسْلِهِ وَطَهَارَتِهِ وَجْهَانِ : أَحَدُهُمَا : وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ يُمْكِنُ غَسْلُهُ ، وَيَطْهُرُ بِأَنْ يُرَاقَ عَلَيْهِ الْمَاءُ فِي إِنَاءٍ ، وَيُمْخَضُ فِيهِ مَخْضًا ، يَصِيرُ بِهِ مَغْسُولًا ، كَالثَّوْبِ : لِأَنَّ الدُّهْنَ يَتَمَيَّزُ عَنِ الْمَاءِ وَيَعْلُو عَلَيْهِ ، كَمَا يَتَمَيَّزُ الثَّوْبُ ، ثُمَّ يُؤْخَذُ ، فَيَكُونُ طَاهِرًا .

Intinya… Sedang membahas cara mensucikan minyak mutanajjis, abu al’abbas bin suaraij dan ibnu abi hurairoh memberikan solusi dengan cara: tuangkan air ke dalam wadah yang telah beisi minyak lalu gerak-gerak/kocok/putar, maka setelah itu dihukumi suci sebagaimana halnya (mencuci) baju, kemudian ambil dan selesailah. [ Alhaawy alkabiir ]

ولو صب الماء في اناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا اداره على جوابنه طهرت الجوانب كلها هذا كله قبل الانفصال قال فلو انفصل الماء متغيرا وقد زالت النجاسة عن المحل فالماء نجس وفى المحل وجهان احدهما أنه طاهر لانتقال النجاسة الي الماء

Intinya, bila air dituangkan ke dalam wadah yang najis dan tidak berubah maka air itu masih muthlaq, dan bila di-idaroh- (diputarkan) ke sekelilingnya, maka keliling wadah itu menjadi suci selama tidak berubah. [ Almajmu’ ].

وَمُقَابِلُهُ فِي الْأَوْلَى قَوْلُ ابْنُ سُرَيْجٍ فِي الْمَاءِ الْقَلِيلِ إذَا أُورِدَ عَلَيْهِ الْمَحَلُّ النَّجِسُ لِيُطَهِّرَهُ كَالثَّوْبِ يُغْمَسُ فِي إجَّانَةِ مَاءٍ ، كَذَلِكَ أَنَّهُ يُطَهِّرُهُ كَمَا لَوْ كَانَ وَارِدً

Intinya, Wa muqoobiluhuu (al ashohh) ada qoul ibnu suraij yang menerangkan bahwa air sedikit dalam bejana apa bila didatangi barang yang najis seperti baju lantas di benamkan, maka dihukumi suci. Disini tidak disebutkan apakah berubah atau tidak.  Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB