Wisata Ziarah di Kabupaten Banyumas

0

Kabupaten Banyumas adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Purwokerto. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Brebes di utara; Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen di timur, serta Kabupaten Cilacap di sebelah selatan dan barat. Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah terdapat di ujung utara wilayah kabupaten ini.

Kabupaten Banyumas merupakan bagian dari wilayah budaya Banyumasan, yang berkembang di bagian barat Jawa Tengah. Bahasa yang dituturkan adalah bahasa Banyumasan, yakni salah satu dialek bahasa Jawa yang cukup berbeda dengan dialek standar bahasa Jawa (“dialek Mataraman”).

1. Makam Kyai Haji Abdul Malik

Image result for Makam Syekh Abdul Malik

Makam Kyai Haji Abdul Malik berada di dalam bangunan cungkup tertutup, persis di belakang masjid di dukuh Kedung Paruk, beberapa puluh meter dari pinggiran Kali Pelus, Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Banyumas. Dukuh di perbukitan ini berbatasan dengan Mersi, desa tempat kelahiran saya, dipisahkan oleh Kali Wetan.

Letak dukuh Kedung Paruk sekitar 4-5 meter lebih tinggi dari Desa Mersi, sehingga untuk mencapainya orang harus melewati tanjakan tajam selewat jembatan Kali Wetan, kali selebar 3 meter yang ketika masih di SD saya sering nyebur ke dalamnya untuk bermain kunclungan.

2. Makam Panembahan Kalibening

Makam Panembahan Kalibening

Sedikit ke atas dari Makam Panembahan Kalibening terdapat Sumur Pasucen yang airnya luar biasa bening. Sumur ini masyarakat sering menyebutnya sebagai umbul karena memiliki air yang terus keluar dan meluap sampai keluar dinding. Ada pula Pendopo dan Museum yang ada di makam Kalibening, yang hanya dibuka sekali setahun pada saat Maulud sedang terjadi.

Makam ini terletak sekitar 5 km dari Alun-alun Banyumas atau arah ke barat dari alun-alun. Setelah 300 meter melewati Makam R. Joko Kaiman, kita bisa belok ke kanan lalu mengikuti jalan beraspal. Jalan yang beraspal tersebut  menanjak tajam sebelum mentok ke pertigaan. Lalu kita arahkan perjalanan ke kiri sekitar 30 meter sampai ke pendopo. Jika kita lurus, kita akan menemui trap-trapan dari undakan yang menuju ke Makam Panembahan Kalibening.

Makam Panembahan dijaga oleh kuncen bernama Ardja Semita yang memiliki umur sudah lumayan sepuh. Museum Kalibening mempunyai empat soko guru dan pilar yang berfungsi sebagai penunjang beban dari makam ini. Pada blandar atau kayu atap terdapat torehan aksara dengan berbunyi “Keblat papat gapuraning praja” yang memiliki arti kiblat empat gapuranya negri.

makam panembahan kalibening

Terdapat undakan yang berada sekitar pertigaan yang bisa kita gunakan untuk menuju ke Makam Panembahan Kalibening serta Sumur Pasucen. Makam Panembahan Kalibening mmpunyai kemiringan yang cukup tajam. Di depan cungkup dari Makam Panembahan Kalibening terdapat pendopo dengan fungsi sebagai musholla yang dgunakan untuk para peziarah untuk sholat dan beristirahat.

Cungkup Makam Panembahan Kalibening terlihat agak sedikit renta. Ditambah lagi kesan yang sedikit muram. Hal ini dikarenakan adanya tembok pelindung yang ada di depan pintu makam.

Hal Mistis di Makam Panembahan Kalibening

Makam Panembahan Kalibening mempunyai bangunan utama yang bisa dibilang cukup bagus. Namun hanya saja perlu dicat ulang. Pohon besar tinggi yang berada di belakang cungkup selain berfungsi sebagai pemberi keteduhan juga menambah aura magis di makam ini. Tentunya bagi pengunjung yang mempercayai hal tersebut.

Kuncen Ki Ardja Semita selalu duduk dan berdoa di teras kecil yang berada tak jauh dari depan pintu makam Panembahan Kalibening dengan gembok yang berada di tangan. Terlihat sedikit bekas bakaran dupa yang hampir menggunung. Dupa tersebut berisi sedikit nenas, kelapa, dan bena lainnya. Nisan makam dari Panembahan Kalibening sedikit tertutupi oleh kain merah putih dengan kembangan abu-abu yang sering menciptakan suasa mistis tak terhindari.

makam panembahan kalibening pusaka

Sejarah Makam Panembahan Kalibening

Konon ketika Kalibening masih menjadi bagian dari wilayah Kadipaten Selarong, wilayah itu tertimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Sehingga Resi Ajar Pamungkas yang waskita meminta Adipati Galagumba yang bernama Glagah Amba untuk bersemedi di Gunung Slamet. Dan saat itulah sang adipati menerima sebuah bisikan halus. Yang mengharuskan seseorang akan datang untuk menolong.

Tak lama kemudian datang Kaligajati atau dikenal dengan nama Ki Langlanggati. Melihat penderitaan rakyat, ia menancapkan pusakanya di alun-alun Selarong. Sampai saatnya pusaka tersebut dicabut, turunlah hujan deras yang menghujani desa itu. Ki Langlanggati lalu tinggal di Desa Dawuhan. Namun karena kesulitan air, beliau lalu menancapkan pusaka tersebut dan munculah air bening setalah beliau menancapkan pusaka itu. Lalu setelah saat itu, Ki Langlanggati kemudian dikenal sebagai Panembahan Kalibening.

Sumur Pasucen di Makam Panembahan Kalibening

Sumur Pasucen adalah salah satu sumur yang berada di kawasan Makam Panembahan Kalibening berada. Didalamnya terdapat batu yang bertuliskan “Rampoengipoen damel Soemoer Pasoetjen 1918”. Atau dalam bahasa Indonesia berbunyi selesainya pembuatan Sumur Pasucen pada 1918.

makam panembahan kalibening bagus

Sumur Pasucen adalah sumur yang konon airnya keluar setelah Panembahan Kalibening menancapkan pusaka kebanggaannya. Sehingga bekas dari tancapan tersebut menimbulkan adanya air yang terus mengalir dan melimpah dari bibir sumur yang bentuknya bundar ini. Air sumur yang sangat bening ini terasa sangat sejuk saat kita membasuhkan di kaki dan muka. Ki Ardja Semita sering menyebutkan bahwa sumur ini memiliki dua mata air yang kedalamannya sekitar empat meter ini.

Sumur Pasucen terlihat jelas dengan tebaran uang logam di ada pada dasarnya.Sehingga airnya yang tenang sering dijadikan cermin yang sangat sempurna. Meskipun ada di ketinggian perbukitan. Namun Sumur Pasucen belum mencapai puncak tertinggi dari bukit. Karena puncak bukitnya berada di sebelah barat. Atau berada pada jarak sekitar  575 meter. Dan ada juga di sebelah utara yang berjarak sekitar 600 meter.

Di sekitar Makam Panembahan ada sebuah makam kuno lainnya. Makam tersebut adalah makam dari  Makam Panembahan Putri, Makam Adipati Glagah Amba, dan Makam Panembaha n Gunung Padhang atau Ki Ajar Subrata. Yang menambah beragam makam antik dan bersejarah di sini.

3. Makam Syeh Madum Wali


Syeh Madum Wali berasal dari Kerajaan Demak Bintaro yang diutus oleh Raja Demak ketika itu Raden Patah untuk menyebarkan agama Islam.

Beliu merupakan orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Pasir luhur yang sekarang dikenal dengan nama Banyumas.

Makam Syeh Madum wali berada di desa Karanglewas dengan suasana asri di dekat sungai logawa.

Di tempat makam beliau juga terdapat tiga makam. Yakni di sebelah utara terdapat makam Senopati Mangkubumi I, sedangkan dua makan yang terdapat aulanya adalah makam Syeh Madum Wali dan makam Senopati Mangkubumi II.

Kini makam Syeh Madum Wali menjadi wisata religi bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya.

Mereka biasanya berziarah melakukan amalan dan ritual seperti berzikir serta tahlil atau kegiatan ritual yang lain. Biasanya mereka melakukannya pada setiap Kamis Wage atau Malam Jumat Kliwon.

Sedangkan setiap bulan Syaban di tempat ini digelar haul akbar Syeh Madum Wali dan Senopati Mangkubumi.

4. Komplek Pemakaman di Desa Dawuhan

Image result for Komplek Pemakaman di Desa Dawuhan

Yang menarik dari Desa Dawuhan adalah disana terdapat makam para leluhur pendiri Banyumas yang terdapat pada satu komplek pemakaman yang sama.

Menjadikan daya tarik tersendiri untuk para masyarakat daerah Banyumas dan sekitarnya untuk berkunjung ke makam tersebut.

Ada yang hanya berwisata sejarah, menelusuri dan melihat bukti-bukti fisik pendiri Kabupaten Banyumas, mereka menggali informasi dari juru kunci yang ada di makam tersebut.

Tak jarang juga para pengunjung berbondong-bondong kesana untuk berziarah, apalagi pada hari jadi Kabupaten Banyumas tempat ini rutin sebagai upacara ritual keagamaan yang diadakan oleh pemerintah daerah.

Ziarah ini menandakan penghargaan kepada para leluhur yang telah berjuang dan mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat.

Di makam ini terdapat makam R. Joko Kaiman yang merupakan Bupati Banyumas pertama. Ada beberapa versi mengenai asal usul dari Jaka Kahiman.

Yang paling umum adalah bahwa Jaka Kaiman berasal dari keturunan Majapahit, ayahnya bernama Raden Harya Banyak Sosro, namun sejak kecil dia hidup dengan Kyai Sambarana atau Kyai Mrangi Semu dan kemudian di angkat anak.

Nyai Mrangi merupakan (Raden Ayuh Ngaisah) adalah adik kandung Banyak Sosro. Kekeknya adalah R. Harya Baribin putra dari Prabu Brawijaya IV Majapahit. Dan neneknya bernama Putri Bungsu Prabu Lingawastu dari kerjanaan Pakuan Parahiyangan.

Setidaknya ada sekitar 10 para Bupati Banyumas yang dimakamkan disini, tidak hanya R. Joko Kaiman yang di makamkan disini selain itu juga terdapat tiga makam Bupati Purwokerto dan dua makam Bupati Purbalingga.

Selain makam para leluhur Banyumas di tempat ini juga terdapat museum benda-benda pusaka. Yang pada bulan-bulan tertentu akan diadakan upacara jamasan.

Upacara jamasan ini juga akan menyedot masyarakat umum untuk melihat, biasanya upacara pembersihan Benda pusaka (Jamasan) diadakan pada bulan Maulud.

5. Masjid Nur Sulaiman

Image result for Masjid Nur Sulaiman

Masjid Nur Sulaiman merupakan salah-satu masjid tertua di Banyumas, letaknya berada pusat kota Banyumas, dari alun-alun berjarak sekitar 200 meter ke barat.

Masjid ini meruapakan masjid agung yang pertama di Banyumas sewaktu pusat pemerintahan kadipaten masih di wilayah Banyumas.

Masjid Nur Sulaiman didirikan sekitar tahun 1755 pada waktu pemerintahan dipimpin oleh Raden Tumenggung Reksa Praja.

Masjid ini sangat unik karena terdapat beberapa arsitektur bangunan yang berbeda dari bangunan masjid pada umumnya.

Di masjid ini terdapat Denah Bujur sangkar, Serambi, Batur Tinggi,  pintu utama disebelah timur, Mimbar berbentuk tandu, dan juga terdapat Maksura (tempat salat para penguasa).

Arsitek dari masjid ini adalah Bapak Nur Daiman, demang gumelem I sekaligus sebagai penghulu pertama di wilayah Banyumas.

6. Masjid Saka Tunggal

Masjid Saka Tunggal Cikakak Banyumas

Masjid Sakat Tunggal terletak sebelah barat daya Banyumas, bertempat di desa Cikakak Kecamatan Wangon.

Menurut Juri Kunci Masjid tersebut, masjid ini merupakan masjid tertua di Nusantara. Meski belum terbukti kebenarannya namun masyarakat disana meyakini akan hal itu.

Bangunan masjid Saka tunggal terbilang unik ini bisa dilihat dari namanya Masjid Saka Tunggal yang kalau diartikan dalam bahasa Banyumasan adalah Masjid Tiang Satu.

Memang di dalam masjid ini hanya ada satu tiang besar yang menopang masjid ini. Tiang itu terletak ditengah-tengah Masjid ini.

Dalam setiap arsitekturnya tedapat simbol-simbol yang bermakna kehidupan yang hanya bisa dijelaskan oleh juru kunci masjid tersebut.

Salah-satu hal yang unik di Masjid ini adalah terdapat sekumpulan kera liar di komplek masjid, kera-kera itu tidak takut dengan pengunjung yang datang bahkan kera-kera tersebut berkumpul dengan aktivitas pengunjung yang ada disana.

Tidak jelas asal muasal kera tersebut datang, namun menurut juru kunci kera tersebut merupakan binatang peliharaan dari pendiri Masjid tersebut.

 

Makanan Khas

 1.    Mendoan

Mendoan berasal dari kata “mendo” yang artinya setengah matang atau lembek. Ini karena bahan tempe yang sudah dilumpuri adonan tepung terigu beserta bumbu-bumbunya lalu digoreng tapi tidak sampai matang sekali/kering, namun ada juga masyarakat yang menggorengnya sampai kering, ini tergantung selera.

Mendoan cocok sekali disantap ketika masih panas, apalagi dinikmati saat udara dingin/dinikmati di daerah pegunungan seperti Baturraden.

 

mendoan
mendoan

 

2.  Cimplung

Cimpung ini bersal dari kata cemplung : masuk ke dalam air. Air disini air nira dalam pembuatan gula merah yang merupakan mayoritas pekerjaan masyarakat Banyumas. Air nira yang berasal dari bunga pohon kelapa (dalam bahasa Banyumas disebut mancung/manggar) memiliki rasa yang manis, sehingga bahan yang dimasukan ketika air nira mendidih ini juga akan mempunyai rasa yang sangat manis.

cimplung
cimplung

Umumnya cimplung berbahan singkong, namun hasil pertanian lain juga bisa menjadi cimplung misalnya kelapa, ketela pohon, ubi dan lain-lain.

Cimplung ini akan banyak kamu temukan di Kecamatan Cilongok, karena memang mayoritas penduduk Cilongok adalah penderes gula merah.

3.  Sroto Sokaraja

Related image

Sroto Sokaraja sama saja dengan soto pada umumnya, namun terdapat perbedaan yang menjadi ciri khas sroto sokaraja yaitu penggunaan ketupan dan sambal kacang. Selain itu juga kerupuk yang digunakan adalah kerupuk canthir dari bahan ketela pohon yang mempunyai rasa khas.

 

4.  Kluban

Image result for Kluban

Kalau dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan urab. Hanya kluban ini berbeda karena pengolahan parutan kelapa langsung dicampur sayur. Rasanya yang pedas manis asin cocok sekali buat lauk nasi ataupun dimakan langsung. Juga pasti menyehatkan karena terbuat dari sayuran hijau.

 

5.  Jalabia

Image result for Jalabiya banyumas

Kalau orang Barat sana punya donat. Banyumas juga tak kalah, makanan ini adalah jalabia. Bentuknya sama persis dengan donat. Cuma kalau jalabia itu terbuat dari singkong.
Makanan ini sangat gurih apalagi disantap ketika masih panas. Cocok sekali dimanakan sebagai cemilan ketika hujan gerimis suasana dingin. Jalabia juga bisa dijadikan lauk nasi.

 

6.  Ondol/Combro Image result for Ondol/Combro

Makanan ini terbuat dari singkong yang diparut kemudian diperas kandungan airnya, lalu dicampuri bumbu yang khas kemudian dibentuk bulat bulat lalu digoreng. Setelah digoreng lalu ditusuk yang biasa disebut dengan istilah sindik yang terbuat dari serutan bambu, satu sindik ondol biasanya berjumlah 5.

Untuk membedakan ondol dan combro, lihatlah isi didalamnya. Kalau ondol ada yang isi paret dan adapula yang tidak berisi, sedangkan combro biasanya berisi bumbu pedas didalamnya. Ondol dan combro juga dibedakan dari ukuran, combro akan lebih besar dan lonjong daripada ondol.

7.  Kampel/kampelan Image result for Kampel/kampel

Kampel adalah kata local Banyumas yang artinya “peluk”, kampelan berarti pelukan. Lho makanan kok jadi pelukan, cara makannya sambil pelukan atau bagaimana? Hih bukan..

Pelukan disini maksudnya adalah pelukan antara ketupan dengan makanan lain, bisa tempe, tahu, ataupun dage. Setelah dikampelkan(disatukan), kedua bahan tersebut dicelupkan ke adonan terigu yang sudah dibumbui, lalu digoreng.

Karena ada ketupatnya, kampelan ini mengenyangkan, cocok apabila sedang tidak berselera makan nasi biasa.

 

Oleh-oleh

 1.  Kripik

Beberapa Makanan Khas Dari Banyumas
Ada bermacam-macam kripik yang ada di Banyumas, sehingga Purwokerto yang merupakan ibukota Kabupaten Banyumas disebut dengan Kota Kripik. Kripik yang menonjol didaerah Banyumas adalah kripik tempe. Sesuai dengan namanya kripik tempe berasal dari bahan utama tempe yang diiris tipis lalu digoreng. Kripik tempe yang memiliki banyak kandungan protein dan rasanya yang gurih dan renyah ini cocok sekali untuk camilan. Berbeda dengan mendoan yang hanya bertahan satu hari, kripik tempe bisa bertahan lama sampai sampai satu bulan.

2.  Gethuk Goreng

Beberapa Makanan Khas Dari Banyumas

Gethuk goreng ini berasal dari singkong yang dibumbui gula kelapa kemudian digoreng. Awalnya gethuk bukanlah digoreng, ceritanya gethuk goreng dibuat secara tidak sengaja oleh salah satu penjual keliling di daerah Sokaraja, Sanpirngad.

Pada saat itu “gethuk biasa” yang dijual tidak laku, kemudian daripada dibuang dan tidak dapat dimakan lagi karena basi, lalu gethuk tersebut digoreng, tanpa disangka justru gethuk goreng tersebut malah disukai banyak orang, semenjak saat itu dipasarkanlah gethuk goreng yang sengaja dibuat tanpa menunggu tidak laku lagi.

Gethuk goreng di Banyumas dikenal dengan nama Gethuk Goreng Sokaraja karena mungkin bersal dari daerah tersebut, didaerah Sokaraja pula banyak sekali toko-toko yang menjual gethuk goreng tersebut.

3.  Klanting

Image result for makanan khas banyumas jawa tengah

Sesuai dengan namanya, klanting bentuknya miring dengan anting, cuma anting diameter besar cuma kurus, aduh gimana jelasinnya yah. Pokoknya persis kaya gelang itulah.
Terbuat dari bahan singkong dengan rasa yang gurih. Dijamin kamu akan ketagihan.

4.  Nopia

Image result for Nopia

Bahan utama nopia adalah tepung terigu dengan isi yang beraagam, bisa coklat, gula, ataupun kacang.
Selain bentuk dan rasanya yang unik, cara membuatnya juga tak kalah unik, bukan digoreng, direbus, apalagi ditimang-timang, hehe

Cara membuatnya dengan cara ditempelkan di tungku khusus dengan suhu yang panas. Makannya ada bagian nopia yang hangus, itu berarti bagian yang ditempel.

5.  Jenang Jaket Mersi

Beberapa Makanan Khas Dari Banyumas

Namanya memang Jaket, tapi tidak ada hubungannya dengan pakaian. Ini adalah makanan yang terbuat dari tepung dan juga gula melalui proses yang panjang. Tapi karena ciri khasnya, jenang jaket sudah lama menjadi makanan tradisional yang paling banyak dicari. Bahkan pada hari-hari besar (hari raya) seringkali produsen jenang jaket menolak pesanan. Ini dikarenakan Jenang Ketan proses pembuatnnya lama dan juga membutuhkan ketekunan. Kalau anda berkunjung ke Purwokerto dan ingin mengunjungi sentra pembuatan jenang jaket silahkan datang saja ke kawasan produksi jenang jaket di daerah MERSI Purwokerto.