Hukum Memakai Kaos Kaki

0
Foto:google

Memakai kaos kaki bagi wanita muslimah merupakan hal yang umum. Namun, ada pula yang berpendapat untuk tidak memakainya. Seringkali terjadi perdebatan tentang harus atau tidaknya memakai kaos kaki. Bagaimana hukum memakai kaos kaki bagi perempuan, baik ditinjau dari nash maupun qoul ulama muktabar ?

Seandainya hanya dengan wanita memakai kaos kaki auratnya bisa tertutup, maka hukum memakai kaos kaki bisa jadi WAJIB sesuai kaedah MAA LAA YATIMMUL WAJIBU ILLA BIHI FA HUWA WAJIBUN. Lihat kitab Asybaah wa An-Nadhooir I/410 :

و منها : المرأة في العورة لها أحوال : حالة مع الزوج : و لا عورة بينهما و في الفرج وجه و حالة مع الأجانب : و عورتها كل البدن حتى الوجه و الكفين في الأصح و حالة مع المحارم و النساء : و عورتها ما بين السرة و الركبة و حالة في الصلاة :

و عورتها كل البدن إلا الوجه و الكفين و صرح الإمام في النهاية : بأن الذي يجب ستره منها في الخلوة هي العورة الصغرى و هو المستور من عورة الرجل

AURAT WANITA :

  1. Bersama suami :

Tiada batasan aurat baginya saat bersama suami, semua bebas terbuka kecuali bagian FARJI (alat kelamin wanita) yang terjadi perbedaan pendapat di antara Ulama

  1. Bersama lelaki lain :

Menurut pendapat yang paling shahih seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat yang lain wajah dan telapaknya boleh terbuka

  1. Bersama lelaki mahramnya dan sesama wanita :

Auratnya diantara pusar dan lutut

  1. Di dalam sholat :

Seluruh tubuh menjadi auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya

  1. Saat sendiri :

Menurut Imam Romli dalam Kitab Nihaayah al-Muhtaaj aurat wanita saat sendiri adalah ‘aurat kecil’ yaitu aurat yang wajib ditutup oleh seorang lelaki (antara pusar dan lutut).

Dengan demikian bila kaos kaki merupakan salah satu sarana untuk menutupi aurat kakinya saat di luar rumah atau bersama laki-laki lain berarti dia telah menjalankan ajaran sesuai tuntunannya. Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

Sumber :Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB