Batasan Dagu Wanita yang Harus Ditutupi dalam Shalat

0
PERTANYAAN :
Assalamualaikum..
Perempuan yang sedang sholat, kemudian dagunya sedikit terlihat,  apakah  Sholatnya sah ? Pada waktu sholat, apakah yang ditutup harus sampai ke ujung dagu ?
JAWABAN :
وحد الوجه منها مضبوط بما يجب غسله في الوضوء
الكتاب: نهاية المطلب في دراية المذهبالمؤلف: عبد الملك بن عبد الله بن يوسف بن محمد الجويني، أبو المعالي، ركن الدين، الملقب بإمام الحرمين (المتوفى: 478هـ)4/249
Batasan wajah bagi wanita sebagaimana batasan wajah dalam wudlu.
وَحَدُّ الْوَجْهِ طُولًا مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ وَتَحْتِ مُنْتَهَى لَحْيَيْهِ وَهُمَا بِفَتْحِ اللَّامِ عَلَى الْمَشْهُورِ الْعَظْمَاتُ اللَّذَانِ تَنْبُتُ عَلَيْهِمَا الْأَسْنَانُ السُّفْلَى
Batasan panjang wajah adalah antara tempat tumbuhnya rambut dan di bawah ujung tulang dagu (tulang tempat tumbuhnya jenggot).
قَوْلُهُ: (وَتَحْتِ مُنْتَهَى) بِالْجَرِّ عَطْفًا عَلَى مَنَابِتِ أَيْ وَهُوَ مَا بَيْنَ رَأْسِهِ وَمَا تَحْتَ إلَخْ. فَالْمُنْتَهَى دَاخِلٌ فِي الْوَجْهِ، أَمَّا لَوْ قَالَ مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ. وَالْمُنْتَهَى أَيْ وَبَيْنَ الْمُنْتَهَى بِدُونِ تَحْتَ لَأَفَادَ أَنَّ الْمُنْتَهَى خَارِجٌ وَلَيْسَ مُرَادًا بَلْ الْمُرَادُ دُخُولُهُ.
الكتاب: تحفة الحبيب على شرح الخطيب = حاشية البجيرمي على الخطيبالمؤلف: سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (المتوفى: 1221هـ)1/141
Batasan di atas dikatakan dengan kalimat “WA TAHTI MUNTAHAA LAHYAIHI”Tahti = bawah, muntahaa = ujung, lahyaihi = tulang dagu. Dan di syarahnya disebutkan bahwa ujung dagu termasuk bagian dari wajah, yang karenanya wajib ditutup. Dari redaksi itu pula bisa diambil ibarot bahwa ujung dagu adalah batas antara DALAM dan LUAR wajah.
Dalam tatanan praktis, menutup wajah hanya sampai pada batas-batas yang ditentukan tentu saja tidak bisa (sulit). Yang karenanya diperlukan area tambahan (sekunder) untuk menyempurnakan batasan primer, dalam hal ini, mukena (rukuh) mesti menutupi sebagian dagu bagian depan.
Dalam fiqih, kondisi ini termasuk bahasan “BAABU MAA LAA YATIMMU ALWAAJIBU ILLAA BIHI FA HUWA WAAJIBUN”.
Yang karenanya pula, membuat area sekunder hukumnya menjadi wajib.
Wallohu A’lam Wahuwa Almu’in.
Sumber : Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB