Peristiwa Penting KH. Abdul Madjid QS

0

IV. Peristiwa-Peristiwa Penting Pada Awal Penyiaran Sholawat Wahidiyah

Pada Tahun 1964, Mbah Yahi menyelenggarakan resepsi ULTAH sholawat Wahidiyah yang Pertama dan disebut EKAWARSA sekaligus khitanan Agus Abdul Hamid dan selapan harinya Ning Tutik Indiyah dengan mengundang Pembesar Ulama dari berbagai daerah di Jawa Timur, disamping keluarga dan kaum muslimin lainnya. Hadir sebagai tamu antara lain : KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rois “Am Nahdhatul Ulama dan pengasuh Pesantren bahrul Ulum Tambak Beras Jombang), KH. Machrus Ali (Syuriah NU Wilayah Jatim dan Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri), KH. Abdul Karim Hasyim (putra pendiri NU dan pengasuh pesantren Tebu Ireng Jombang) dan KH. Hamim Djazuli (Gus Mik) (putra pendiri Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri).

Kesempatan baik tersebut dipakai oleh Mbah Yahi untuk menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada segenap hadirin. “Permisi saya mempunyai amalan Sholawat Wahidiyah apakah panjenengan mau saya beri ijazah?” Kata Mbah Yahi dalam sambutannya. Spontan yang hadir menjawab “Kerso”(mau), diantara hadirin ada yang berdiri dan ada pula yang setengah berdiri. Saat itu pula Kyai Wahab Hasbullah spontan berdiri sambil mengacungkan tangannya dibarengi ucapan yang lantang. “Qobiltu awwalan, Qobiltu awwalan”(Saya terima duluan).

Sementara itu KH. Wahab Hasbullah dalam sambutannya antara lain mengatakan, “Hadirin….ilmu Gus Abdul Madjid dalam sekali, ibarat sumur begitu sedalam sepuluh meter, sedang saya hanya memiliki ukuran satu koma dua meter saja, Sholawatnya Gus Madjid ini akan saya amalkan”.

Setelah itu beliau semakin gencar dalam menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan membentuk sebuah organisasi yang bernama “PUSAT PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH” yang diketuai oleh bapak KH. Yassir dari Jamsaren Kediri.

Pernah pada suatu saat beberapa ulama utusan Partai NU cabang Kediri bersama-sama bersilahturahmi kepada beliau mohon penjelasan tentang Sholawat Wahidiyah beliaupun menjelaskan dengan jawaban yang singkat dan tepat. Beberapa pertanyaan yang diajukan diantaranya: “Sholawat Wahidiyah itu prinsipnya apa? Dasarnya apa dan menurut Qoul yang mana? Dengan tegas beliau menjawab. “Sholawat Wahidiyah itu susunan saya sendiri”. Para tamu kembali bertanya, “apa benar, Kyai mengatakan kalau orang yang membaca Sholawat Wahidiyah itu sama dengan ibadah setahun?” Di jawab oleh Mbah Yahi, “Oh, bukan begitu. Saya hanya mendapat alamat, kalau membaca Sholawat “Allohumma kamma Anta Ahluh…..” itu sama dengan ibadah setahun. Begitu itu, ya tidak saya jadikan hukum. Adalagi keterangan lain, “Orang membaca Sholawat badawi sekali sama dengan khatam dalil sepuluh kali”. Para tamu masih terus bertanya, “Apa benar Kyai, kalau tidak mengamalkan sholawat Wahidiyah itu tidak bisa makrifat?. Itukan menjelek-jelekkan thoriqoh, menafikkan thoriqoh?” Dengan tegas dan lugas beliau menjawab, “Bukan begitu, masalah jalannya makrifat itu banyak”. Setelah itu para tamu tidak bertanya-tanya lagi.

Suatu ketika Muallif juga memberikan penjelasan mengenai Sholawat Wahidiyah di Dk. Mayan desa Kranding kec. Mojo kab. Kediri di hadapan para Kyai se-kecamatan Mojo Selatan. Yang hadir pada saat itu antara lain KH. M. Djazuli Pengasuh Penpes Al Falah ploso. Dalam khutbah iftitahnya beliau Muallif Sholawat Wahidiyah mengucapkan : “Alhamdulillahi aataanaa bilwahidiyyati bifadli robbina”.

Sebelum Wahidiyah disebarkan secara umum. Beliau mengirimkan Sholawat Wahidiyah yang ditulis tangan oleh K. Muhaimin (Alm) santri Kedunglo, kepada para ulama Kediri dan sekitarnya disertai surat pengantar yang beliau tanda tangani sendiri. Sejauh itu tak satupun kyai yang dikirimi Sholawat mempersoalkan Sholawat Wahidiyah. “Semua doa sholawat itu baik”. Begitu komentar para kyai waktu itu.

Kalau pada akhirnya muncul pengontras-pengontras Wahidiyah, oleh Mbah Yahi pengontras itu justru dipandang sebagai kawan seperjuangan bukan sebagai lawan. Sebab dengan adanya pengontras tersebut mendorong pengamal jadi lebih giat dalam bermujahadah dan sesungguhnya para pengontras itu ikut menyiarkan Wahidiyah dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri. Karena dengan adanya pengontras itu, orang yang semula belum tahu Wahidiyah menjadi tahu. Mereka juga ikut andil dalam perjuangan Fafirruu Ilalloh wa Rasulihi SAW.

V. Wafatnya Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA Romo Yahi kurang sehat, beliau gerah (sakit), dan kabar itu segera menyebar keseluruh peserta resepsi Mujahadah Kubro di bulan Rojab tahun 1989. kontan saja resepsi Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW menjadi lain dari biasanya. Suasana syahdu terasa sangat melingkupi hari-hari Mujahadah Kubro. Apalagi pada malam pertama, kedua dan ketiga Mbah Yahi tidak mios (tidak hadir secara langsung ketempat acara) untuk menyampaikan fatwa dan amanat.

Pada malam terakhir, sebenarnya beliau sudah melimpahkan pengisian fatwa dan amanat kepada orang lain. Tetapi hadirin para pengamal Sholawat Wahidiyah sangat merindukan beliau hadir ditengah-tengah peserta untuk mendengarkan langsung fatwa terakhir beliau. kemudian wakil dari peserta menyampaikan kepada Mbah Yahi akan kerinduan dan kecintaan para pengamal kepada Mbah Yahi. Akhirnya beliau berkenan menyampaikan fatwa dan amanat terakhirnya.

Syukur alhamdulillah, karena kasih sayang Mbah Yahi kepada para pengamal, beliau berkenan menyampaikan fatwa terakhir di malam terakhir pelaksanaan mujahadah kubro meski dari kamar dalem tengah. Pada kesempatan tersebut beliau meng-ijasahkan Sholawat Wahidiyah kepada seluruh hadirin untuk diamalkan dan disiarkan dengan kalimat, “ajaztukum bihadzihis sholawatil wahidiyyati fil amali wan nasyri”.

Setelah itu kondisi kesehatan beliau semakin menurun, walau demikian beliau masih juga berkenan mengisi pengajian Minggu pada dari dalem.

Begitulah beliau Mbah Yahi QS wa RA, di saat-saat akhir hayatnya beliau masih membimbing dan mentarbiyah pengikutnya.

Pada hari Selasa Wage tanggal 7 Maret 1989 atau 19 Rojab 1409 jam 10.30 WIB, beliau dipanggil menghadap sang Kholik Allah SWT.
Sumber: http://sarkubalfaqiir.blogspot.com