Peran KH Bisri Syansuri Komite Hijaz

0

Komite Hijaz

Walaupun Komite Khilafah bubar dengan sendirinya, karena gagalnya upaya penyelenggaraan muktamar di Mekkah itu, perasaan kecewa Kiai Abdul Wahab atas begitu sedikit perhatian kawan-kawannya ‘sekomite’ atas hal yang dianggapnya penting, jelas mempengaruhi sikapnya. Ia mengambil prakarsa mendirikan apa yang kemudian dinamai ‘Komite Hijaz’ guna mencari dukungan atas apa yang dianggapnya penting itu dengan tujuan utama mengirimkan sebuah delegasi ke Saudi Arabia untuk memperjuangkan pendirian itu kepada raja Abdul Aziz ibn Sa’ud. Upaya mengumpulkan dukungan para kiai pesantren itu melibatkan iparnya, Kiai Bisri, dengan mereka berdua menanggung beban tugas berkeliling pulau Jawa, menghubungi kiai-kiai dari Banyuwangi di ujung timur hingga ke Menes di ujung barat.

Semula, gagasan membentuk sebuah komite seperti itu tidak memperoleh restu dari guru mereka, Kiai Hasyim Tebuireng. Setelah berbulan-bulan mengajukan argumentasi, mungkin juga melalui jasa-jasa baik sejumlah kiai lain yang lebih tua dari Kiai Hasyim Asy’ari, akhirnya izin diberikan. Di sini tampak lagi sikap baru Kiai Bisri dalam mengambil keputusan. Ia tidak hanya puas menerima jawaban sekali, melainkan terus berusaha berkali-kali hingga pada akhirnya perkenan diperoleh dari sang guru. Kemauan keras untuk berusaha berkali-kali itu, hingga pihak yang diajak berdialog mau mengerti apa yang diingininya, juga diperlihatkan oleh kawan baiknya, Kiai Ma’sum Ali yang juga adalah menantu Kiai Hasyim. Kiai Ma’sum sudah sejak tahun 1919 mengajukan usul mendirikan sistim sekolah di pesantren Tebuireng, tetapi baru setelah empat tahun lamanya mengajukan permintaan berulang kali percobaan tersebut diizinkan. Mungkin dalam proses itu Kiai Ma’sum Ali terpengaruh dan belajar dari Kiai Bisri yang secara tekun sudah membuka kelas putri di pesantren Denanyar. Ketekunan Kiai Ma’sum untuk mengajukan kembali permintaannya berulang kali itu juga kemungkinan besar menjadi contoh Kiai Bisri dan Kiai Abdul Wahab, untuk ‘menyelesaikan’ kerja membuat Komite Hijaz.

Seperti Komite Khilafah sebelumnya, komite ini tidak jadi mengirimkan delegasi ke Saudi Arabia. Telegram yang mereka kirimkan kepada raja Abdul Aziz ibn Sa’ud, yang memohon agar ada kemerdekaan menjalankan peribadatan haji menurut cara masing-masing, menerima balasan positif dari raja baru itu. Dengan sendirinya lalu tidak ada keperluan lagi untuk mengirimkan delegasi ke tanah suci Mekkah dan ibukota Saudi Arabia Riyad. Hasil itu dikomunikasikan kepada sejumlah ulama Jawa Timur dan laporan disampaikan kepada sejumlah ulama Jawa Timur dan laporan disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Menanggapi pernyataan Kiai Abdul Wahab dan Kiai Bisri bahwa komite mereka itu akan dibubarkan, karena telah menyelesaikan tugas dengan baik, Kiai Hasyim Asy’ari justeru menyayangkan kalau upaya organisatoris untuk menyatukan pendapat dan mengatur langkah bersama itu dihentikan. Mengapa justeru Kiai Abdul Wahab tidak meneruskan saja usaha itu ke dalam sebuah ‘perkumpulan’ yang lebih bersifat permanen?

Dialog yang terjadi dalam tahun 1925 itu akhirnya melahirkan upaya mendirikan Jam’iyah Nahdlatul ‘Ulama’, setahun kemudian. Cerita Kiai Bisri lima puluhan tahun kemudian, tentang berdirinya or-ganisasi tersebut, sangatlah menarik untuk diikuti. Kiai Bisri menggambarkan proses itu, kalau kita simpulkan dari untaian episode bermacam-macam, sebagai kebutuhan yang muncul dari kalangan kiai pesantren untuk menyalurkan upaya mencari kebersamaan dalam pandangan kemasyarakatan mereka, daripada upaya reaktif terhadap gerakan lain yang telah ada. Bahkan usul pertama untuk membentuk Komite Hijaz justeru ditolak Kiai Hasyim Asy’ari, karena akan menyamai usaha gerakan lain, karena dalam pandangannya kiai-kiai pesantren akan menyimpang dari jalan benar yang mereka tempuh selama ini, kalau mengikuti apa yang telah dirintis orang lain untuk tujuan mereka sendiri. Karena itulah sejak semula hanya tujuan memperjuangkan hak melakukan peribadatan menurut ‘cara lama’ kepada pemerintahan baru di Saudi Arabia saja yang mewarnai Komite tersebut. Baru setelah tampak hasil positif itulah dirasakan kebutuhan untuk mengorganisir diri secara lebih menetap, sudah tentu meningkatkan effektivitas kerja di kalangan sendiri.

Kiai Bisri, ternyata menempatkan diri (ataukah justeru ditempatkan?) dalam kedudukan pendamping lebih muda (junior partner) bagi pribadi Kiai Abdul Wahab yang dinamis, sekaligus menjadi penghubung antara iparnya itu dan Kiai Hasyim Asy’ari. Kedudukan ini ternyata, umpamanya, dalam tugas menjemput Hadratus Syaikh itu dari Tebuireng untuk dibawa ke Surabaya dalam peresmian berdirinya Nahdlatul-Ulama. Ternyata, walaupun para ulama telah berkumpul di Surabaya dan berdatangan dari seluruh daerah di pulau Jawa dan ada yang dari Kalimantan Selatan, Kiai Hasyim yang tinggal hanya 90 kilometer dari kota tersebut belum juga tampak. Apapun sebabnya, entah karena masih ada sedikit sisa keraguan ataupun karena sebab lainnya, tidak datangnya guru dari banyak tokoh yang hadir itu dapat menggagalkan rencana peresmian Nahdlatul ‘Ulama’. Kiai Bisri adalah orang yang diminta untuk menjemput Kiai Hasyim, berangkat selepas senja dan baru keesokan siangnya kembali dengan membawa sang guru yang ditunggu-tunggu orang banyak itu, dengan penugasan yang kemungkinan besar ditetapkan atau diusulkan oleh Kiai Abdul Wahab. Terlihat di sini, bahwa penunjukan orang yang dianggap paling mungkin meyakinkan Kiai Hasyim Asy’ari, jika memang masih merasa ragu-ragu, jatuh kepada Kiai Bisri. Kenyataan itu menunjukkan dengan jelas fungsi penghubung yang dipegangnya antara Kiai Hasyim dan Kiai Abdul Wahab, kalau juga tidak dengan para kiai lain yang mengambil prakarsa mendirikan Nahdlatul Ulama, setelah gagasan un-tuk itu sendiri semula juga datang dari Hadratus Syaikh sendiri.

Dalam hal ini, peranan sebagai orang tempat menaruh keper-cayaan tampak jelas dipegang Kiai Bisri. Antara lain, ketundukannya yang begitu mutlak kepada sang guru memberikan jaminan akan bersihnya sesuatu hal yang digarap dari kemungkinan penyimpangan, walau segaris tipispun, dari kehendak semula yang dinyatakan Kiai Hasyim sendiri. Di samping itu, keterlibatannya yang penuh kalau telah menyatakan kesedihan, merupakan jaminan penuh bagi yang lain-lain akan keteguhan pendirian Kiai Bisri untuk mempertahankan eksistensi organisasi baru itu, jika masih dimungkinkan perubahan sikap di pihak sang guru mungkin sebagai hasil pertimbangan dari pihak lain.

Segera setelah terbentuknya organisasi tersebut, dengan Kiai Bisri duduk sebagai A’wan (Pembantu) dalam susunan Pengurus Besar (Hoofdbestuur) nya. Pola kehidupan Kiai Bisri lalu segera mengalami perubahan total dari masa sebelumnya. Di tingkat lokal, ia lalu harus memotori perkembangan Nahdlatul Ulama di daerah kediamannya, Jombang. Di samping itu, ia menjadi penghubung antara pelaksana kegiatan sehari-hari kepengurusan pusat di Surabaya dan Kiai Hasyim yang dalam muktamar pertama Nahdlatul Ulama itu telah ditetapkan sebagai Ra’is Akbar. Di pihak lain, ia harus melakukan banyak hal di luar daerah Jombang untuk kepentingan Nahdlatul Ulama, antara lain menjadi penghubung antara Pengurus Besar dan para tokoh organisasi di daerah pantai utara Jawa Tengah, yang menjadi daerah asal-usul kelahirannya.

Pendirian Pesantren Den Anyar

Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang dan terkenal atas penguasaannya di bidang fikih agama Islam.

Kisah Teladan Beliau

Memperingatkan Bung Hatta

Pada suatu Jum’at, KH. Bishri Syansuri melaksanakan shalat di masjid Mataraman Jakarta. Di masjid ini pula Bung Hatta istiqamah melaksanakan shalat. Pada saat itulah Mbah Bishri melihat Bung Hatta sedang shalat dan saat bersujud dahinya masih tertutup oleh peci hitamnya. Seusai Bung Hatta shalat, Mbah Bishri dengan ramah memperkenalkan diri, sekaligus dengan lembut mengingatkan Bung Hatta jika dalam shalat, dahi tidak boleh tertutup oleh peci. Setelah itu setiap kali Bung Hatta memasuki masjid pecinya langsung didongakkan ke belakang sehingga tidak menutupi dahi ketika melangsungkan sujud.
Sumber:

  • http://www.gusmus.net
  • “KH Bisri Syansuri, Pecinta Hukum Fiqh sepanjang Hayat”, KH Abdurahman Wahid, Majalah Amanah, 1989
  • “Almaghfurlah KH. M. Bishri Syansuri: Cita-Cita dan Pengabdiannya”, karya KH. A. Aziz Masyhuri, hlm. 54-55 seperti yang ditulis KBGD
  • http://almahabbah89.wordpress.com
  • kmnu.org