Ibnu Ruslan

0

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Arsalan Abu al-‘Abbas Syihabuddin ar-Ramli atau lebih dikenal dengan Ibnu Ruslan. Lahir di Ramallah, Palestina, pada tahun 773 H, dan wafat pada tanggal 14 Sya’ban 844 H di Masjid al-Aqsa, adalah seorang ulama di bidang Qira’at al-Qur’an, Fiqih, Ushul Fiqih dan Sirah.

Kehidupan‎

Ibnu Ruslan telah menghafal al-Qur’an pada umur 10 tahun, dan di awal perjalanan dalam menuntut ilmu, ia mempelajari Nahwu, bahasa Arab, dalil-dalil syair dan Nadzham. Ia mempelajari kitab Al-Hawi dari Syamsuddin al-Qalqasyandi, mempelajari Shahih Bukhari dari Syihabuddin Abu al-Khair bin al-`Ala, mempelajari Al-Muwaththa’ riwayat Yahya bin Bukair dari Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Ali ash-Shalihi (Ibnu az-Zaratini), mempelajari Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, asy-Syifa dan Sirah Ibnu Hisyam dari Abu al-Abbas Ahmad bin Ali bin Sanjar al-Mardini, mempelajari sebagian besar Shahih al-Bukhari dari Jalaluddin al-Bulqini yang memperbolehkannya untuk berfatwa, mempelajari Nahwu dari al-Ghumari, dan mendapatkan ijazah sanad dari an-Nasyawuri. Dengan banyak berdiskusi, mengikuti kajian, mengulang pelajaran dan sibuk dalam menuntut ilmu, ia tetap tinggal di Yerusalem dan terkadang ia tinggal di Ramallah. Akhirnya ia menjadi Imam terdepan pada masanya di bidang Fiqih, Ushul Fiqih, Bahasa Arab, serta juga mempelajari ilmu-ilmu lainnya sepertiHadits, Tafsir dan Ilmu Kalam.

Guru-guru Ibnu Ruslan :
1. Syaikh Syamsuddin al-Qalqasyandi, dalam ilmu fikih
2. Syihabuddin Ibnu al-Haim, dalam ilmu Faraidh dan Hisab
3. Jalaluddin al-Busthami, dalam ilmu Tasawuf
4. Syihabuddin Ibnu an-Nashih, dalam ilmu Tasawuf
5. Muhammad al-Qarmi, dalam ilmu Tasawuf
6. Muhammad al-Qadiri, dalam ilmuTasawuf
7. Abu Bakr al-Maushuli
8. Abu Hurairah Ibnu adz-Dzahabi
9. Ibnu al-`Izz
10. Ibnu Abi al-Majd
11. Ibnu Shiddiq
12. At-Tanukhi
13. Ibnu al-Kuaik
14. Abu al-Abbas Ahmad bin Ali bin Sanjar al-Mardini
15. Nasim bin Abi Said ad-Daqaq
16. Ali bin Ahmad an-Nuwairi al-`Uqaili
17. Syihabuddin al-Hisbani
18. Jalaluddin al-Bulqini
19. Sirajuddin al-Bulqini, ayah dari Jalaluddin al-Bulqini

Murid-muridnya ‎Ibnu Ruslan :
1. Al-Imam al-Hafidz, an-Naqid al-‘Allamah, Syaikh al-Muhadditsin, Abu Abdillah bin al-Bayyi’ adh-Dhabbi ath-Thahmani an-Naisaburi.
2. Al-Imam al-Hafidz al-Mutqin an-Nasabah Abu Muhammad Abdul Ghani bin Ali bin Said bin Basyar al-Azadi al-Mishri.
3. Al-Imam al-Hafidz ats-Tsiqah al-‘Allamah, Syaikh al-Islam, Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa al-Mihrani al-Asbahani.

Karya-karya Ibnu Ruslan :
1.   Kitab Syarh Sunan Abi Dawud, dicetak 11 jilid.
2.   Kitab Syarh al-Hawi, dalam ilmu Furu` Fiqih.
3.   Kitab Syarh Jam’u al-Jawami`, Imam as-Subki, dalam ilmu Ushul Fiqih. Syarh Mukhtashar 4.   Kitab Ibnu al-Hajib, dalam Ilmu Ushul Fiqih.
5.   Kitab Nihayatu as-Sul Syarh Minhaj al-Ushul, Imam al-Baidhawi, dalam ilmu Ushul Fiqih.
6.   Kitab Syarh Shahih al-Bukhari, sampai Bab Haji, dicetak dalam 3 jilid.
7.   Kitab Syarh Thaibatu an-Nasyri fi al-Qir’at al-Asyr, dicetak dalam 11 jilid.
8.   Kitab Syarh Milhatu al-I`rab, Imam al-Hariri.
9.   Kitab Syarh Alfiyatu al-`Iraqi, dalam Ilmu Sirah.
10. Kitab Ta`liqah `ala asy-Syifa, Imam al-Qadhi al-`Iyyadh.
11. Kitab Syarh al-Bahjah al-Wardiyah, Ibnu al-Wardi.
12. Kitab Tanqih al-Adzkar, Imam an-Nawawi.
13. Kitab Mukhtashar al-Minhaj, Imam an-Nawawi.
14. Kitab Mukhtashar Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, dengan menghapus khilaf (permasalahan-permasalahan).
15. Kitab Manzhumah fi ats-Tsalatsi al-Qira’at az-Zaidah ‘ala as-Sab`i.
16. Kitab Manzhumah fi ats-Tsalatsi al-Qira’at az-Zaidah ‘ala al-`Asyri.
17. Kitab Mukhtashar Hayatu al-Hayawan, Imam ad-Damiri.
18. Kitab I`rab al-Alfiyah, Imam Ibnu Malik al-Andalusi.
19. Kitab Thabaqat al-Fuqaha asy-Syafi`iyyah.
20. Kitab Syarh Tarajim Ibnu Abi Hamzah.
21. Kitab Ar-Raudhah al-Ardhiyyah fi Qismi al-Faridhah.
22. Kitab Suthur al-A`lam.
23. Kitab Syarh Muqaddimah az-Zahid.
24. Kitab Shafwatu az-Zubad.
25. Dan Beberapa tulisan di bidang Tafsir

 

Keikhlasan Ibnu Ruslan dalam Menulis Kitab Zubad

Imam Ibnu Ruslan menyelesaikan penulisan kitab Zubad di atas sebuah kapal yang berlayar di laut lepas. Beliau di situ bersama banyak orang. Di saat orang lain tidur, makan dan minum, beliau sendirian sibuk merampungkan kitab berupa syair-syair dalam fan fikih tersebut.

Pada saat kitab Zubad selesai ditulis, Imam Ibnu Ruslan mengikatkan batu di bagian atas dan bawah kitab itu. Beliau ingin melempar kitab itu ke laut. Orang-orang di kapal saat melihat itu segera mencegahnya. Mereka merasa sayang, hasil kerja keras tulisan buah karya seorang ulama dibuang begitu saja. Namun beliau tetap bersikukuh dengan niatnya.

“Biarkanlah. Jika kitab karanganku ini benar-benar ditulis ikhlas karena Allah, air laut tidak akan mampu merusaknya.” kata beliau mantap.

Imam Ibnu Ruslan yakin akan kebenaran firman Allah dalam surat Al Qashash ayat 88,

كل شيء هالك إلا وجهه

Sebagian ahli Tafsir mengartikan ayat tersebut dengan, setiap apapun akan hancur binasa kecuali diniatkan ikhlas karena Allah.

Disebabkan keikhlasan pengarangnya, ombak berhasil membawa kitab tersebut ke tepi laut. Di tempat tersebut ada banyak nelayan mencari ikan. Kitab tersebut atas takdir Allah akhirnya tersangkut di jaring salah satu nelayan.

Nelayan tersebut kemudian membawa kitab yang ditemukannya diserahkan kepada salah seorang ulama di daerah itu. Ulama itu menerima kitab misterius tersebut dengan perasaan takjub.
Akhirnya dibacalah lembar demi lembar kitab yang diterimanya itu. Dia kagum dengan keindahan susunan dan bobot kualitas kitab Madzhab Syafi’i itu. Ulama tersebut lantas memerintahkan untuk menulis dan menyebarluaskan kitab asing tersebut. Akhirnya kitab tersebut berkat keikhlasan pengarangnya, tersebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Hal itu ditulis oleh Ibnu Ruslan dalam Zubadnya :

والله أرجو المن بالإخلاص ¤ لكي يكون موجب الخلاص

“Seperti itulah keikhlasan ulama-ulama terdahulu. Mereka menomorsatukan keikhlasan dalam mengarang kitab. Tidak ada pikiran meraih popularitas atau keuntungan materi melalui royalti”.