Masruq bin al-Ajda al-Hamadani

0

Nama lengkapnya Masruq bin al-Ajda’, al-Hamadani, al-Wadi’i, Abu Aisyah, al ­Kufi. Dialah Masruq bin Al-Ajda’ bin Malik bin Umayyah bin Abdullah bin Murri bin Salman. Ada juga yang mengatakan Salaman- bin Muammar bin Al-Harits bin Sa’ad bin Abdullah bin Wadi’ah.

Al-Hafizh Abu Bakar al-Khathib berkata, “Ada yang mengatakan, ia dulu pernah dicuri (diculik) saat masih kecil lalu diketemukan, maka kemudian dinamai dengan Masruq (orang yang dicuri/diculik)”.

Kelahirannya
Tidak seorang ulama pun yang menyebutkan dengan jelas kelahirannya. Mereka hanya menyatakan bahwa ia wafat pada tahun 62 H atau 63 H.
Harun bin Hatim dari Al-Fadhl bin Amr mengatakan, “Masruq meninggal pada usia 63 tahun.” Jadi dapat disimpulkan bahwa dia terlahir pada tahun pertama hijrah atau satu tahun sebelumnya.

Ibadahnya
Dari Ibrahim bin al-Muntasyir, ia berkata, “Masruq biasa menutup tirai antara dirinya dan keluarganya, lalu menyongsong shalatnya, membiarkan mereka dan dunia mereka.”

Dari Fithr bin Khalifah, dari asy-Sya’bi, ia berkata, “Suatu hari di musim panas, pernah Masruq bin al-Ajda’ pingsan karena berpuasa. Ia biasanya tidak pernah membantah sesuatu pun terhadap putri kesayangannya. Lalu putrinya itu datang kepadanya seraya berkata, ‘Duhai ayahandaku, berbukalah dan minumlah.!’ Ia menjawab, “Apa yang engkau inginkan dariku, duhai putriku.?’ Ia menjawab, ‘Sikap lunak (terhadap diri).’ Ia berkata, ‘Duhai putriku, sesungguhnya engkau meminta diriku bersikap lunak di hari yang lamanya adalah 50 ribu tahun.!’”

Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir berkata, “Khalid bin Abdullah bin As, penguasa Bashrah memberikan hadiah kepada pamanku, Masruq 30 ribu (dirham/dinar-red) padahal waktu itu ia amat membutuhkannya namun ia tidak mau menerimanya.”

Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Masruq bertemu denganku lalu berkata, ‘Hai Sa’id, tidak ada sesuatu yang tersisa untuk disukai kecuali kita memolesi wajah dengan tanah.”

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya
Malik bin Mughawwal berkata, Aku pernah mendengar Abu Safar mengatakan, “Hamdaniah (nama sebuah suku) belum pernah melahirkan seseorang seperti Masruq.” Dari Amir Asy-Sya’bi, beliau berkata, “Aku tidak pernah mengetahui ada orang yang lebih banyak berkelana di berbagai tempat untuk mencari ilmu dari Masruq.”
Dari Manshur bin Ibrahim, beliau berkata, “Beberapa teman Abdullah bin Mas’ud ada yang mengajarkan kepada banyak orang dan mengajari mereka tentang Sunnah Rasulullah Saw. Di antara mereka itu adalah : al-Qamah, al-Aswad, Ubaidah, Masruq, al-Harits bin Qais dan Amr bin Syarahbil.

Asy-Sya’bi berkata, “Ketika Ubaidillah bin Ziyad datang ke Kufah, dia bertanya, “Siapakah orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab, “Masruq.” Ibnu Al-Madini berkata, “Aku tidak pernah mempersilahkan seorang pun untuk berbaris di belakang Abu Bakar ketika sholat berjamaah, kecuali kepada Masruq (agar sewaktu-waktu bisa mengganti Abu Bakar menjadi imam karena ilmu dan kewibawaannya).” Imam Ahmad bin Hambal berkata, Ibnu Uyainah berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari Masruq setelah al-Qamah.” Dari Ibnu Abjar dari Asy-Sya’bi, beliau berkata, “Masruq lebih pantas memberikan fatwa daripada Syuraih, karena Syuraih lebih banyak meminta pendapat Masruq.” Yahya bin Mu’in berkata, “Masruq adalah orang yang dapat dipercaya dan tidak ada orang yang menyamainya. Utsman bin Said bertanya kepada Yahya tentang Masruq dan kepada Urwah mengenai Sayyidah Aisyah, maka dia tidak ragu lagi.” Ibnu Sa’ad berkata, “Beliau adalah tsiqah (orang yang dapat dipercaya perkataan dan berita yang dibawanya) dan dia banyak mempunyai hadits yang layak diriwayatkan”. al-‘Ajali berkata, “Dia adalah seorang Tabi’in yang dapat dipercaya, dan termasuk salah seorang teman Abdullah bin Mas’ud yang diperkenankan mengajar dan memberikan fatwa kepada khalayak ramai. Dia banyak melakukan shalat hingga kedua kakinya membengkak.”
Abu Nu’aim berkata, “Di antara para teman Abdullah bin Mas’ud, terdapat seseorang yang sangat takut dan sangat cinta kepada Tuhannya dan selalu ingat akan banyaknya dosa yang telah dilakukannya.”

Masruq bin al-Ajda’ sangat dihormati keilmuannya, dapat dipercaya dan selalu ingin bertemu kepada Tuhannya dengan memperbanyak ibadah; dialah Abu Aisyah (ayah Aisyah) bernama Masruq.” Dari Mujalid dari Asy-Sya’bi dari Masruq, dia berkata, “Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Wahai Masruq, sesungguhnya kamu telah aku anggap, sebagai anak sendiri dan kamu termasuk orang yang paling aku cintai. Apakah kamu mempunyai pengetahuan tentang Al-Mikhda’ (mengenai suatu kekurangan pada dirinya)?”.

Guru-Guru Dan Murid-Muridnya
Di antara guru-guru (Syekh)-nya, sebagaimana dikatakan al-Mizzi, “Ia meriwayatkan dari Ubai bin Ka’b; Khabbab bin al-Aratt; Zaid bin Tsabit; Abdullah bin Umar bin al-Khaththab; Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash; Abdullah bin Mas’ud; ‘Ubaid bin ‘Umair al-Laitsi, yang merupakan teman semasanya; ‘Utsman bin ‘Affan; ‘Ali bin Abu Thalib; ‘Umar bin al-Khaththab; Mu’adz bin Jabal; Ma’qil bin Sinan al-Asyja’i; al-Mughirah bin Syu’bah; Abu Bakar bin ash-Shiddiq; Sabi’ah al-Aslamiah; ‘Aisyah, isteri nabi saw; Ummur Ruman; Ummu Salamah, istri Nabi Saw.”

Sedangkan di antara murid-muridnya, sebagaimana dikatakan al-Mizzi, “Orang-orang yang meriwayatkan darinya adalah Ibrahim an-Nakha’i; Anas bin Sirin; Abu Wa`il, Syaqiq bin Salamah; ‘Amir asy-Sya’bi; Abdullah bin Murrah al-Khariqi; Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud; ‘Ubaid bin Nadhlah; ‘Imarah bin ‘Umair; al-Qasim bin al-Muntasyir bin al-Ajda’ dan Muhammad bin al-Muntasyir al-Hamadani; Abu adh-Dhuha, Muslim bin Shubaih; Makmahul asy-Syami; Yahya bin al-Jazzar; Yahya bin Witsab; Abu al-Ahwash al-Jasymi; Abu Ishaq as-Sabi’i; Abu asy-Sya’tsa` al-Muharibi; dan isterinya, Qumair binti ‘Amr.”

Di Antara Ucapan-Ucapan Dan Prilakunya
Masruq pernah berkata, “Sungguh pantas seseorang memiliki banyak majlis, di mana ia dapat menyepi sehingga dapat mengingat dosa-dosanya, lalu memita ampun kepada Allah.”

Dari Abu adh-Dhuha, “Pernah Masruq memberikan pertolongan kepada seorang laki-laki (mengupayakan pengampunan untuknya), lalu orang itu memberinya hadiah seorang budak wanita, maka marahlah ia seraya berkata, ‘Andaikata aku tahu bahwa hal ini yang ada di dalam jiwamu, niscaya aku tidak akan berbicara tentangnya, dan tidak akan berbicara tentang apa yang tersisa darinya sama sekali. Aku pernah mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Barangsiapa yang memberikan suatu pertolongan (mengupayakan pengampunan bagi seseorang) dengan tujuan untuk mengembalikan suatu hak, atau menolak suatu kezhaliman, lalu ia diberi hadiah karenanya, lantas ia menerimanya, maka itulah Suht (hal yang haram).’”

Mereka berkata, “Kami tidak pernah melihat Suht itu kecuali (ia adalah) menentang hukum.”

Ia berkata, “Menentang hukum adalah kekafiran.”

Dari Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, dari Masruq, ia berkata, “Tidaklah ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang Mukmin daripada lahad. Ia beristirahat dari hiruk-pikuk dunia dan merasa aman dari siksa Allah swt.”

Sikapnya Terhadap Kasus Fitnah
Yang dimaksud fitnah di sini barangkali adalah sejumlah perseteruan bahkan peperangan yang melibatkan sesama para shahabat-red.

Beliau nampaknya amat berhati-hati dalam menyatakan sikapnya terhadap kasus fitnah itu, dan seakan menghindari pembicaraan tentang hal itu.

Wara’ Dan Kezuhudannya
Dari Ibrahim bin Muhammad bin al-Muntasyir, dari ayahnya, dari Masruq, bahwa ia tidak pernah mengambil gaji sebagai hakim dan selalu berpedoman kepada ayat, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS.at-Taubah:111)

Abu adh-Dhuha berkata, “Masruq pernah ditanyai tentang sebuah bait syair, maka ia berkata, ‘Aku tidak suka tidak mendapatkan satu syair pun dalam lembaranku.”

Dari Hamzah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, ia berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa Masruq pernah memegang tangan putra saudaranya (keponakannya), lalu membawanya menemui para tukang sapunya di Kufah seraya berkata, ‘Tidakkah aku tunjukkan dunia kepada kalian? Inilah dunia; mereka telah memakannya lalu memusnahkannya, memakainya lalu membuatnya usang, menaikinya lalu tunduk di bawahnya. Di sana mereka menumpahkan darah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan atas mereka, dan juga memutuskan hubungan rahim mereka.”

Wafatnya
Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Masruq bin al-Ajda’ wafat tahun 63 H, ia seorang Tsiqah dan banyak meriwayatkan hadits-hadits yang jujur.”
Semoga Allah swt memberikan rahmat kepadanya. Benar, tidak ada apa-apanya kita bila dibandingkan dengan para ulama Salaf itu. Alangkah baiknya andai kita berhukum dengan hukum mereka.