Biografi Abuya Dimyathi

0

Abuya Dimyathi bin Syaikh Muhammad Amin, beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian, wira’ (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan). ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, humanis, penuh kasih sesama umat manusia.

Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.

Kegiatan kesehariannya hanya ngulang ngaji (mengajar ilmu), sholat serta menjalankan kesunatan lainnya. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat Banten yang kehilangan, namun umat Islam umumnya. Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja dan selalu menolak untuk dipublikasi.

Contents

  • 1 Riwayat Hidup dan Keluarga
  • 2 Pendidikan
  • 3 Penerus Beliau
  • 4 Jasa dan Karya Beliau
  • 5 Kisah Teladan Beliau
  • 6 Karomah Beliau

Riwayat Hidup dan Keluarga

Maulid Nabi di Pesantren Beliau tahun 2000

Lahir

Beliau lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan KH. Muhammad Amin Al Bantani dan Hj. Ruqayah di tanah Banten, tepatnya di Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat.

Wafat

Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi, pada malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M / 07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyathi bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.

Pada hari wafatnya beliau itu juga sedang dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”.

 

Keturunan

KH Abuya Muhammad Dimyathi, meninggalkan tiga istri yaitu Hj Dalilah, Hj Asmah dan Hj Afifah. Dari Hj Dalilah dikarunia dua putra, yang pertama:

  • H Qoiyimah dan
  • H Amustabah,

sedangkan dari istri Hj Asmah dikarunia enam anak, yakni:

  • HA Muhtadi,
  • HM Murtadlo,
  • H Abdul Azis,
  • HA Muntaqo,
  • Hj Musfiroh,
  • Muqotil,

sementara dari HJ Afifah tidak dikarunia anak.